Lina namaku, aku seperti biasa jalan-jalan mutar kampung. Para warga yang biasa menyaksikan, menyapa dengan ramah. Ada yang kok sendirian aja si, sudah sampai mana jalannya, ada juga yang bilang sudah berapa kali putaran?
Putaran pertama masih aman belum ada tragedi. Putaran kedua perutku lapar, bunyinya kaya konser.
"Kruyuk-kruyuk!!!! Kruyuk-kruyuk!!!!"
Aku berkata dengan pelan, supaya tidak ada yang dengar.
"Baru aja keluar, sudah gitu masih pagi, perutku sudah bernyanyi. Asli parah banget ini, aku enggak bawa minum, ya mau enggak mau harus menahan lapar. Kalau ada minum, kan lumayan, rasa laparnya bisa berkurang." Ocehku.
Aku masih melanjutkan perjalanan, walau rasa lapar terus menghantui. Diputaran ke dua ada penjual jagung lewat, aku tersenyum senang. Rasa laparku bisa terobati, walaupun dengan jagung rebus.
"Jagung-jagung!!!! Jagung-jagung!!!!"
Aku langsung menghentikan penjualnya, yang sedang lewat di sampingku.
"Beli, bu!!!! Beli, bu!!!!" Seruku.
"Mau beli berapa, dik?" Tanyanya.
"Satu, bu."
"Yang besar atau yang kecil, dik?"
"Terserah, besar atau kecil, sama saja." Jawabku.
Aku pun diambilkan yang besar, jagungnya pun masih hangat. Aku mampir ke teras rumahnya, bude. Aku di sana menikmati jagung dengan nikmat, setelah selesai, aku melanjutkan perjalanan. Diputaran ketiga, awalnya baik-baik saja, enggak ada tragedi. Saat melewati pinggir parit, orang-orang pada mengingatkan.
"Jalannya jangan terlalu ke pinggir! Kamu nanti ke jebur parit! Ujarnya.
Aku hanya mengangguk merespons ucapan, mereka lalu melanjutkan perjalanan lagi. Saat di pinggir parit depan rumah sepupuku, keadaan sedang sepi, enggak ada tanda kehidupan. Aku kira sudah saatnya berbelok arah, ternyata belum.
"Pyur!!!!"
Aku terjebur ke parit, untungnya cuma kaki satu yang masuk ke parit. Kaki yang satunya masih di atas, badanku tersangkut di buk, atau tempat duduk yang terbuat dari semen.
"Aduh!!!! Nasipku sedang sial, biasanya enggak pernah terjebur. Hari ini malah terjebur ke parit, rokku sebagian basah sampai lutut." Batinku.
Sambil bangkit dengan perlahan, lalu berjalan ke rumah.
"Untungnya enggak ada orang, kalau ada yang lihat entah apa yang terjadi. Aku bakal diceramahi atau ditertawakan, aku enggak tahu." Batinku lagi.
Sesampainya di rumah, aku langsung cuci kaki dan ganti pakaian.
Selesai
Komentar
Posting Komentar