Lisa wajahnya merah bagaikan kepiting rebus, ia menjawab pertanyaan sahabatnya sambil berjalan beriringan. "Kamu itu bisa aja kalau ngomong,ya enggak mungkinlah, aku suka sama orang yang baru kenal. Adnan juga barangkali sudah punya kekasih, kita kan enggak tahu juga, kalau tiba-tiba kekasihnya cemburu gimana coba. Lagi pula, aku enggak ingin merusak hubungan orang, kamu emangnya enggak kasihan kalau ceweknya tiba-tiba marah-marah kepadaku?"
"Kalau enggak punya rasa suka, kok wajahnya merah, kayak kepiting rebus yang baru matang. Sudahlah kalau memang benar-benar suka, tinggal ngaku aja Apa susahnya, enggak usah malu-malu." Goda, Nisa.
"Kamu yang bener aja si, malah ngarang-ngarang enggak jelas gitu." Kata, Lisa sambil pura-pura cemberut.
"Kalau, kamu cemberut gitu berarti tandanya suka, tetapi enggak mau ngaku." Goda, Nisa lagi.
"Kamu Perasaan enggak makan Yang aneh-aneh, kok bisa-bisanya penyakit isengnya kambuh kaya gini. Kamu itu yang bener aja si kalau bercanda, nanti kalau ceweknya, Adnan dengar gimana." Kata, Lisa lagi.
"Kamu tenang aja, enggak usah takut gitu lagian kalau, Adnan sudah punya cewek, dia enggak mungkin jalan-jalan sendiri tanpa ceweknya kayak tadi. Kalau menurutku si juga enggak mungkin, ya, Dia sudah punya kekasih. Siapa tahu, dia juga suka denganmu soalnya kemarin kan, dia tersenyum sambil menatapmu." Sambung, Nisa.
"Sudahlah lebih baik bahas yang lain daripada bahas, dia yang belum tentu masih jomblo." Kata, Lisa.
"Aku enggak punya bahan obrolan selain tentang, Adnan yang menurutmu sangat cakep." Jawab, Nisa.
Lisa mengalihkan pembicaraan, Iya enggak ingin menjadi bahan ledekan sahabatnya, untuk hari ini.
"Kamu ada rasa suka sama, Toni? Emang orang tuamu mengizinkan, Kamu pacaran, ya?" Tanya, Lisa.
"Aku belum tahu si cuma kemarin, aku pernah cerita sama, mamah tentang pertemuan di taman seminggu yang lalu. Mamahku bilang cuma baru ketemu pertama kali, belum tahu namanya, Belum tahu siapa orangnya, kok sudah Seneng banget." Jawab, Nisa.
"Wah, berarti itu tanda-tanda kalau, kamu dibolehkan untuk pacaran atau Menjalin Cinta." Imbuh, Lisa.
"Ya enggak tau juga si, lebih baik jalani dulu aja apa yang ada. Lagian masih masa sekolah jadi, jalani aja dulu kebersamaannya kalau cinta, suatu saat kalau sudah waktunya baru, aku kenalkan sama orang tuaku." Balas, Nisa.
"Emangnya kenapa kalau dikenalkan sekarang? Kok nunggu suatu saat nanti segala?" Tanya, Lisa.
"Aku Takutnya kalau tak kenalkan sekarang, terus enggak diizinkan pacaran. Atau lebih parahnya lagi enggak boleh ketemu, terus enggak boleh main bareng Atau ngobrol bareng lagi." Jawab, Nisa.
"Terus kalau tiba-tiba, Toni main ke rumahmu gimana?" Tanya, Lisa lagi.
"Ya tak kenalkan ke orang tuaku sebagai teman dulu." Jawab, Nisa lagi.
Lisa mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya sambil tersenyum, ia mengerti dan sadar betul kalau dirinya ada di posisi sahabatnya, ia bakal melakukan hal yang sama. Jalan sambil ngobrol, tanpa terasa, mereka sudah sampai di depan rumah, Nisa.
Sementara itu, Toni dan kedua sahabatnya baru turun dari angkutan, sampah gelas plastik bekas es masih ada di tangannya.
"Ton ini gimana, kalau enggak menemukan tempat sampah?" Tanya, Adnan.
"Kamu jangan khawatir, kita cari tempat sampah sama-sama." Jawab, Toni.
"Kayanya di luar halte ada tempat sampah, kita bisa buang sampah sekalian pulang." Imbuh, Imam.
Toni dan Adnan mengangguk mengiyakan, mereka jalan keluar dari halte menuju ke tempat sampah yang tersedia, lalu pulang ke rumah masing-masing. Namun, sebelum berpisah, mereka janjian jalan-jalan.
"Nanti sore kalau enggak hujan, kita sepedaan yuk!" Ajak Adnan.
"Sorenya jam berapa si? Soalnya sekarang aja sudah pukul 15.30, loh." Balas, Toni.
"Sekitar jam 16.30, biar hawanya adem." Jawab, Adnan.
"Maaf banget kalau jam 16.30, aku enggak bisa ikut sepedaan. Aku soalnya mau bantu bapakku, mencari rumput untuk makan sapi, biar enggak kelaparan sapinya. Jadi, kalian berdua aja kalau mau sepedaan, aku ikutnya lain kali kalau pas di rumah enggak ada kegiatan." Kata, Imam.
"Wah, kamu itu rajin banget si, sudah pulang sekolah capek-capek, masih semangat mencari rumput." Kata, Toni.
"Aku biasa aja kok, enggak rajin." Sahut, Imam.
"Ya sudah kalau gitu, sepedaannya besok ajalah, pas hari minggu dan hari libur, biar bisa puas mainnya. Lagi pula enggak asyik mainnya, kalau cuma berdua, kurang lengkap rasanya." Kata, Toni lagi.
Imam hatinya gembira walaupun enggak ikut sepedaan di sore itu, sahabat-sahabatnya enggak melaksanakan niatnya, Adnan pun mengangguk memahami dan bersedia main sepeda pada hari minggu. Tony setelah berpisah dengan kedua sahabatnya, berjalan menuju ke rumah, ia mengucap salam sambil mengetuk pintu. "Tok-tok!! Tok-tok!! Assalamualaikum!!"
"Waalaikumsalam, masuk aja, enggak dikunci pintunya!!" Sahut, bu Tono dari dalam.
Toni langsung membuka pintu dan melepas sepatu, ia duduk di sofa sebentar, untuk menghilangkan rasa lelah. Bu Tono langsung menghampiri anaknya yang sedang duduk, lalu berkata dengan lembut dan duduk di sebelahnya. "Nak kalau sudah mandi dan shalat asyar, jangan main ke mana-mana! Ibu minta tolong, bawakan padi ke tempat penggilingan! Kita biar enggak kehabisan beras, soalnya berasnya tinggal untuk masak nasi besok doang."
"Ke tempat penggilingan beras yang mana, bu? Di sini penggilingan beras kan ada dua, sebelah utara dan selatan." Kata, Toni.
"Penggilingan beras yang sebelah selatan." Jawab, bu Tono.
Toni mengiyakan permintaan ibunya, ia pun bergegas ke kamar mandi, untuk menyiram tubuhnya agar bau wangi.
Sementara itu, Nisa dan Lisa yang baru sampai depan rumah, mereka mendengar suara penjual siome dan batagor.
"Tulit-tulit!!!! Tulit-tulit!!!! Tulit-tulit!!!! Tulit-tulit!!!!" Suaranya.
"Nis beli siome yuk! Aku dengar suaranya sudah lapar banget, perutku sudah bernyanyi nyanyi, kayaknya enak banget dimakan siang-siang kayak gini." Kata, Lisa.
"Iya, Lis, kita tunggu dulu, ya biar penjualnya mendekat ke sini! Aku juga pengen beli, rasanya sudah lapar banget, aku sudah membayangkan betapa lezatnya siome dan batagor itu. Apalagi kalau sambal kacangnya pedas banget, pasti benar-benar sangat enak, seperti makan di syurga rasanya." Balas, Nisa.
Komentar
Posting Komentar