Namaku Firda, 20 tahun usiaku. Aku adalah mahasiswa fakultas tarbiah. Tinggalku di kos.
Agar aku enggak terlambat saat ke kampus. Karena rumahku di pedesaan. Sangat jauh jaraknya dengan kampus.
Namun, pada hari Selasa sore, tanggal 22 agustus. Aku disuruh pulang sama ibuku.
"Pulanglah nak! Ibu kangen kamu. Sudah lama ibu enggak ketemu kamu."
"Baiklah Bu. Sore ini." Janjiku.
Aku pun dijemput sama kakakku sekitar jam 18.00 dan hawanya mulai gelap.
Aku diajak lewat pinggir kebun kosong.
Entah mengapa hawanya agak merinding.
"Kok suasananya agak singit si. Semoga enggak ada penampakan pocong atau Kunti."
Pikirku, dalam hati.
Aku dan mas Ahmmad terus melaju. Melewati kebun-kebun kosong. Yang terasa sangat mencekam.
Setelah di tempat ramai, mas Ahmmad berhenti.
"Ada apa mas? Kok berhenti mas?"
"Itu ada yang kecelakaan. Kasihan banget, kayanya 1 keluarga."
Menyaksikan hal itu, masku merasa iba. Langsung sigap tlepon ambulan.
"Tut-tut."
Sayangnya, sampai dipenghujung tlepon, enggak direspons.
"Udahlah mas. Lagian disekitarnya juga ramai. Pasti bakalan ditolong."
"Itu kan sedang memperbaiki jalan. Mana sempat, buat menolong."
Mau enggak mau, aku dan mas Ahmmad meninggalkan tempat tersebut.
Ketika sudah hampir sampai rumah. Masku kembali tlepon ambulan. Namun, kembali enggak direspons.
"Ya sudahlah. Semoga ada yang menolong. Soalnya juga ada anak kecilnya. Yang seumuran anakku."
Aku hanya bisa mengangguk dan mengamini. Sebab aku enggak tahu, mau membalas apa.
Itulah kisahku.
Komentar
Posting Komentar