Terik matahari sangat menggangguku di siang itu. Aku kedatangan temanku dari luar kota. Temanku itu bernama Risma.
"Senangnya aku. Bisa ketemu kamu lagi. Setelah sekian lama berpisah."
Ucapku, sambil memeluknya.
"Lina, kamu masih gendut aja. Belum kurus-kurus."
Komentarnya.
Aku hanya mengangguk.
"Aku lapar Lin. Udah gitu ingin yang segar-segar. Minimal seblak atau bakso Lin."
"Ada si yang jualan, tetapi jauh tempatnya. Aku males nganterin. Soalnya panas banget hawanya."
"Ayolah Lin! Anterin aku! Aku traktir deh."
Akhirnya aku mau nganterin. Gara-gara mau ditraktir.
Aku dan Risma bergegas menuju warung seblak langganan. Pas sampai di sana, ternyata warungnya tutup.
"Kok sepi Lin? Masih jauh warungnya Lin?"
"Ini udah sampai di warungnya. Ternyata lagi tutup warungnya. Selain ini, yang ada seblak di desa sebelah."
"Ya udah, kalau gitu ayo ke sana!"
Aku pun menurutinya. Untuk ke warung seblak desa sebelah.
Karena aku enggak tahu tempatnya. Aku memberhentikan pemuda. Yang sedang berjalan menuju ke sawah.
"Maaf dek, warung seblak di sebelah mana ya?"
"Di dekat masjid mbak."
Aku berusaha mencari masjid yang dimaksud. Menggunakan mep yang tersedia di hp.
Namun, aku dan Risma seperti dikerjain.
"Kok kembali lagi ya RIS? Perasaan tadi sudah lewat sini?"
Ujarku, dengan ekspresi bingung.
Kejadian itu bukan hanya sekali. Sampai 10 kali.
"Lin, dari pada enggak nyampai-nyampai, mendingan tanya sama orang saja. Mumpung ada orang di kiri jalan."
Aku langsung melancarkan aksinya.
"Permisi pak, masjid ada di sebelah mana pak?" Tanyaku.
"Lurus terus mbak. Nanti ada pohon rambutan, terus belok kanan. Masjidnya di sebelah warung seblak." Jawabnya.
Setelah mendapat jawaban. Langsung mengucapkan terima kasih. Lalu bergegas menuju arah yang dimaksud.
"Akhirnya dapat seblak juga. Setelah menempuh jarak sangat jauh."
"Ini memang rejekiku. Dapat seblak geratis dari kamu."
Aku dan Risma pun pesan seblak mie. Kesukaanku dan Risma.
Sesudah makan seblak, pulang ke rumahku.
Komentar
Posting Komentar