BAKSO KuAH 01

Pada malam yang dingin, aku menunggu penjual bakso kuah. Di sofa ruang tamu. Bersama saudaraku, yang bernama Azza.
"Kok belum lewat ya mbak? Padahal ini sudah jam 20.30 mbak. Bukannya biasanya jam 20.00 sudah lewat mbak?"
"Enggak tahu juga Zza. Siapa tahu di jalan banyak yang beli. Jadi belumvsampai di sini. Coba ditunggu 1 jam lagi."
Azza hanya mengangguk.
Waktu terus bealu, jam pun berganti. Namun, baksonya belum lewat juga.
"Ini sudah jam 21.00 mbak. Kok masih belum lewat juga mbak?"
"Coba sebentar lagi."
Pada akhirnya aku dan Azza tertidur. Gara-gara terlalu lama menunggu bakso.
Malam berganti pagi. Burung saling bersahutan.
Aku pun terkejut.
"Kok bisa-bisanya si, aku sama Azza tertidur di sini."
Gumamku, sepelan mungkin.
Namun, Azza mendengar gumamanku.
"Kan kita menunggu bakso kuah sampai tertidur mbak. Makanya kita tidur di sini."
"Oh iya Zza. Malah aku sampai bermimpi beli bakso kuah."
"Sabar dulu mbak. Siapa tahu nannti malam lewat."
"Iya Zza. Tadi malam enggak lewat, bakso kuahnya. Itu berarti kita tadi malam disuruh libur jajan Zza."
"Mbak itu ada-ada saja."
Aku hanya tertawa. Enggak menyambungi omongan Azza lagi.
Setelah itu aku ke dapur. Membantu ibu memasak.

Komentar