Pada sore itu aku sedang duduk. Di taman pinggir sekolah. Sambil menunggu tenggelamnya matahari.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki.
"Srek-srek."
Semakin lama suaranya semakin mendekat.
Rasa penasaran pun berkunjung di hatiku. Sehingga aku menyapanya.
"Siapa itu?"
Aku langsung mendapat jawaban.
"Ini aku, Lin."
"Eh Wandi. Kamu mau ke mana Wan?"
"Ini Lin, aku lagi jalan-jalan. Malah ketemu kamu di sini."
"Oh gitu. Jalan-jalan sore memang asyik. Apalagi sambil menyantap bakso, pasti enak sekali."
Saat aku dan Wandi sedang berbincang. Ada yang meledek.
"Wah Lina, lagi pacaran sama wandi."
"Ih apaan si! Aku sama Wandi itu cuma sahabat! Enggak pacaran!"
Wandi mencoba menenangkanku.
"Sudah Lin, enggak usah diladeni. Biarin aja, kalau dia gangguin. Sampai bosan dengan sendiri."
"Kamu itu gimana si. Diledek sama orang, kok dibiarin aja."
"Dari pada kamu marah, mendingan aku ajak beli bakso."
Mendengar hal itu, ekspresiku langsung berubah. Yang tadinya marah, gini berganti seneng.
Kebetulan ada tukang bakso lewat.
"Ting-ting! Ting-ting!"
Wandi langsung memberhentikan sang penjual bakso.
"Beli pak!*"
"Iya. Beli berapa?"
"Beli 2 pak. Pedas semua pak."
Setelah baksonya jadi, aku dan Wandi menikmatinya di taman. Sambil ngobrolin banyak hal.
"Untuk baksonya, terima kasih ya Wan."
"Iya, sama-sama."
Sesudah makan bakso, aku melaksanakan niatku. Menyaksikan tenggelamnya matahari, ditemani Wandi.
Komentar
Posting Komentar