RUMAH KOSONG

Namaku Lina. Aku akan menceritakan pengalamanku, saat aku berkunjung ke rumah kosong. Yang menurutku horor rasanya.
Pada waktu itu malam jum'at. Aku bersama Wandi, jalan-jalan.
"Enaknya jalan-jalan kemana ini Lin?"
"Gimana kalau ke rumah yang di ujung desa. Itu rumah pelatarannya luas. Terus ada tempat duduknya. Di sana kita bisa bersantai."
"Ya sudah, kalau gitu. Mari berangkat!"
Aku dan Wandi menuju ke lokasi. Namun, di tengah perjalanan aku mampir ke toko jajan.
"Pak beli."
"Beli apa dik?"
"Beli krupuk seblak, setik balado, makroni rujak. Semuanya 25 gram ya pak."
"Iya dik. Kok belinya banyak dik? Emangnya mau kemana dik?"
"Itu pak. Mau dudukan di depan rumah yang diujung jalan, sambil makan jajan."
"Hati-hati ya dik. Soalnya itu rumah sudah lama kosong. Terus, udah gitu ada penunggunya."
Aku hanya mengangguk. Sekaligus membayar jajananku.
Setelah sampai ditujuan. Aku bilang sama Wandi.
"Wan, katanya di tempat ini ada hantunya. Benar apa enggak si?"
"Aku si sudah 2 kali ke sini. Memang si, terkadang ada sesosok guling, terpantul dari kaca jendela. Namun, selagi enggak mengganggu, dia juga enggak usil sama kita."
Waktu sudah semakin malam. Jajan juga sudah habis, dilahap aku dan Wandi.
Tiba-tiba terdengar suara.
"Taglug-taglug. Taglug-taglug."
"Katamu, dia enggak usil, tapi kok dia bunyi Wan."
"Paling pingin kenalan sama kamu. Soalnya kamu baru kali ini ke sini."
Setelah Wandi menjawab pertanyaanku. Dia mendekat ke jendela.
Aku pun menganati sosok tersebut.
Ternyata sesosok pocong yang mengenaskan.
Wandi juga melihat sosok pocong tersebut.
"Itu gulingnya Lin. Ada di pojok jendela."
Ucapnya. Udah gitu, tangannya menunjuk ke jendela.
"Enggak Wandi. Itu pocong, bukan guling. Orang mukanya hancur, matanya melepuh. Kaya habis terbakar."
Wandi hanya terdiam. Enggak merespons omonganku. Malah yang jawab pocongnya.
"Aku enggak bermaksud mengganggu kalian. Aku hanya mau mengingatkan kalian saja. Ini sudah malam, sebaiknya kalian pulang dulu. Besok main ke sini lagi. Masalah mukaku yang hancur, itu gara-gara aku kecelakaan. Terus menjadi salah 1 penunggu rumah kosong ini." Jelasnya.
Dengan suara sayup-sayup.
Pas perjalanan pulang, aku ngobrol sama Wandi.
"Itu rumah horor juga ya?"
"Iya Lin, soalnya sudah lama kosong si. Kamu kapok buat ke rumah itu lagi?"
"Aku enggak kapok kok. Malah lain kali ingin ke sana lagi. Walaupun horor, tempatnya nyaman untuk bersantai."
Tanpa terasa, akhirnya aku dan Wandi sampai rumah.

Komentar