Namaku Lina. Aku ingin menceritakan kisahku.
Pada hari rabu pagi itu, aku merasa bingung. Dalam kebingunganku, aku terlintas untuk jalan-jalan. Jalan-jalan memutari desa.
Desa yang enggak pernah berubah. Masih terasa kesejukan dan keasriannya. Desa yang belum pernah terkena polusi kendaraan.
Ketika aku sedang berjalan, berpapasan dengan tetanggaku. Tetangga yang sudah lama, enggak berjumpa denganku.
Beliau menyapaku.
"Lina."
"Iya lek."
Jawabku.
"Coba tebak Lin. Aku siapa Lin?"
"Pasti ini lek imah."
Tebakku, dengan asal.
"Aku lek Siti, bukan lek Imah."
"Oh maaf, ternyata salah."
Lek Siti hanya tertawa.
Aku pun melanjutkan misiku. Jalan-jalan disekitar rumah warga.
Para warga di desaku, sebagian besar menanam bunga di depan rumahnya.
Aku merasa senang melihatnya. Bahkan saat lewat depan rumah warga. Yang memiliki tanaman bunga. Aku singgah sebentar.
Agar dapat memandang para bunga yang cantik.
Bahkan aku merasa. Para bunga itu memberi senyum padaku.
Setelah puas memandangi para bunga. Aku berjalan lagi.
Aku berpindah tempat. Yaitu lewat pinggir rumah tetangga. Yang mempunyai binatang ternak.
Di sana aku hanya lewat. Enggak berhenti.
Sesudah aku berjalan cukup jauh. Ada yang memanggilku, tdari depan rumahnya.
"Lin Lina! Kamu mau kemana?"
"Eh lek Ani. Enggak kemana-mana lek. Hanya sedang jalan-jalan saja lek."
"Oh gitu Lin. Mampir ke rumahku Lin!"
"Besok lagi saja lek. Soalnya aku masih ingin jalan-jalan lek." Tolakku.
"Sekarang aja, mumpung lewat sini. Kalau besok, walaupun kamu jalan-jalan, belum tentu lewat sini." Ujarnya.
Qkhirnya aku berkunjung ke rumah lek Ani.
Di sana aku dijamu, dengan aneka makanan dari olahan singkong.
"Silakan Lin."
"Aduh, aku di sini malah merepotkan. Dikasih suguhan segala."
"Aku enggak merasa direpoti." Ucapnya.
Setelah makanannya habis. Aku pamit, pada lek Ani.
"Maaf lek, makannannya aku habiskan. Aku pulang dulu ya lek."
"Ya enggak apa-apa dihabiskan. Aku senang kalau makanannya laris. Pulangnya hati-hati Lin."
Aku mengangguk.
Aku pulang melewati kebun. Karena di desaku masih banyak kebun.
Di pinggir kebun tersebut. Aku merasa, bahwa pepohonan menyapaku. Dan, ada yang tersenyum padaku.
Sehabis melewati banyak kebun. Aku pulang ke rumah.
"Walaupun cape. Namun, aku senang banget. Bisa jalan-jalan di desaku sendiri."
Selesai.
Komentar
Posting Komentar