HUJAN ANgIN 01

Pada hari selasa sore, sekitar jam 17.00 WIB. Aku duduk di beranda rumah. Suasananya terasa gelap.
"Kok tumben si, baru jam segini. Sudah gelap banget. Ada apa ini?"
Pikirku, dalam hati.
Tiba-tiba tiupan angin begitu kencang. Sang petir pun sudah bertreak. Disusul tangisan dari langit, yang begitu kencang.
"Pantesan aja, jam segini sudah gelap. Ternyata langit sedang bersedih dan ingin menangis."
Gumamku, dengan pelan.
Treakan petir semakin membahana. Membuat aku sangat ketakutan.
Aku pun berlari, masuk ke rumah. Sambil menjerit-jerit.
"Ibu! Ibu dimana!"
"Ada apa si? Kok treak-treak gitu?" Ucap ibu.
Sembari menghampiriku.
"Itu bu. Ada petir, aku takut."
"Ya udah kamu di rumah saja. Enggak usah keluar."
Aku menuruti ucapan ibu.
Saat aku duduk di kursi. Aku merasa, terkena percikan air.
"Bu, apakah rumah kita ada yang bocor? Kok ada tetesan airnya?"
"Coba Lina, jendelanya kamu cek! Barang kali belum ditutup."
Aku mengangguk.
Ternyata benar. Jendelanya masih membuka.
Setelah semua jendela aku tutup. Rasanya sudah aman. Enggak kebasahan lagi.
Pada jam 19.00 WIB, aku makan. Ditemani bapak dan ibu.
Selesai makan, aku pamit.
"Ibu, bapak. Aku mau ke kamar dulu ya."
"Masih jam segini, kok ke kamar nak? Mau ngapain kamu di kamar?" Tanya bapak.
"Ya enggak ngapa-ngapain pak. Aku sedang kedinginan aja. Ingin ke kamar, untuk mencari kehangatan." Jawabku.
Sesudah sampai di kamar, aku langsung menggunakan selimut. Lalu membaca novel melalui hp. Novel yang berbentuk pdf.
Di luar hujan masih belum usai. Angin dan petir masih setia menemani.
Walapun demikian, jangkrik dan kodok pada bersenandung. Dengan riang gembira. Meramaikan diri di malam hari.

Komentar