Bapak dan ibuku sedang ngobrol di sofa depan kamarku. Entah apa, yang bapak dan ibu obrolkan. Aku enggak mengerti.
Aku di kamar masih membaca novel. Yaitu novel horor.
Waktu terus berputar. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB.
Bapak datang ke kamarku.
"Kok masih belum tidur kamu nak? Sedang mikirin apa kamu?"
"Enggak mikirin apa- apa pak. Ini karena aku belum bisa tidur."
"Oh ya sudah, kalau gitu."
Novel yang kubaca sudah selesai. Aku masih saja, belum bisa tidur.
Di luar masih ramai. Hujan, angin, dan petir belum pergi. Kodok dan jangkrik semakin betah.
Walaupun petir suaranya sudah enggak sekeras tadi. Tetap aja aku merasa takut.
Sampai-sampai aku tidur, minta ditemani ibu.
Kulangkahkan kaki, menuju kamar sebelah. Untuk memanggil ibu.
"Tok-tok! Tok-tok!"
Pintu dibuka sama bapak.
"Ada apa nak?"
"Ibu mana pak?"
"Kenapa kamu cari ibu?"
"Ibu, malam ini tidur sama aku ya pak!" Pintaku.
Bapakku mengangguk.
Lalu, bapak membangunkan ibu.
"Bu, bangun bu."
"Ada apa pak?"
"Itu lo, anakmu minta ditemani tidur."
Ibu terbangun. Langsung ke kamarku.
"Bu, aku takut. Petirnya belum pergi."
"Kamu tidur, telinganya tutupi bantal. Biar petirnya enggak terdengar."
Namun, aku enggak menuruti saran ibu.
Malah tidur berpindah-pindah sendiri. Sampai akhirnya aku tertidur.
Pagi telah datang. Suara ayam berkokok, kicau burung saling bersahutan. Terdengar ditelingaku.
Hujan telah usai. Angin dan petir juga sudah pergi.
"Kira-kira akibat hujan angin semalam. Para warga, ada yang kena dampaknya apa enggak ya? Aku nanti sore coba cari tahu deh." Ujarku.
Komentar
Posting Komentar