HUJAN ANGIN 03

Pagi itu, sehabis bangun tidur. Aku pergi ke dapur.
Aku langsung meneguk segelas air putih. Untuk mehilangkan rasa kering, dalam tenggorokanku.
Tiba-tiba ibu menyuruhku belanja.
"Lina, tolong beli aneka keperluan dapur!"
"Dimana belinya bu?"
"Di warungnya lek Konah."
Aku langsung menuju warung yang dimaksud.
Ketika sampai di sana. Lek Konah baru mau membuka warungnya.
"Sebentar ya Lin. Soalnya, aku habis bersih-bersih rumah. Gara-gara semalam hujan angin. Rumahku kemasukan air hujan." Crocosnya.
Aku hanya mengangguk. Tanda paham.
Selesai belanja, aku pulang lewat pinggir kebun.
Tanahnya masih basah. Bahkan genangan air masih ada dimana-mana.
Namun, barisan pohon terlihat bahagia. Seolah berucap padaku. Bahwa dirinya memiliki stok makanan banyak.
Seharian aku hanya di rumah. Enggak bermain sama sekali. Demi melanjutkan baca novel.
Tanpa terasa waktu terus berganti. Jam pun berputar tanpa lelah.
Sekitar pukul 16.00 aku ke tempat tetangga.
Wah tumben banget Lin? Kamu main ke sini?"
"Iya ini lek. Lagi pingin main lek."
"Gimana Lin, rumahmu semalam aman apa enggak?"
"Aman kok lek. Kalau rumah sampean gimana lek?"
"Rumahku dapurnya banjir Lin. Soalnya, dapurnya bocor Lin. Udah gitu, banyak cacing yang masuk." Papar lek Atun.
Mendengar kata cacing. Aku bergidik ngeri.
"Kamu takut sama cacing Lin?"
Aku hanya tersenyum.
Setelah bincang-bincang cukup lama. Aku pun pamit.
"Pulang dulu lek. Sudah sore banget ini lek.
"Iya, hati-hati."
Ternyata hujan angin itu ngeri.
Nyatanya banyak warga yang rumahnya kemasukan air. Untungnya enggak membahayakan dan bisa dibersihkan. Petir yang sangat menggelegar pun enggak menyambar kabel listrik atau yang lainnya.
Selesai

Komentar