Namaku Lina, aku akan berkisah tentang pengalamanku. Yang menurutku terasa horor.
Pada waktu itu hari kamis sore, aku bermain ke rumah teman.
Sebut saja, temanku itu bernama, Agus rumahnya masih satu Desa denganku.
"Gus, nanti malam ke alun-alun yo! Lihat pameran!" Ajakku.
"Emangnya pameran apa, Lin?"
"Banyak sekali, Gus kayanya kalau, kita ke sana pasti seru banget. Di sana ada pameran aneka kerajinan tangan, pameran buku, pameran novel, dan pameran lukisan. Selain itu ada wahana bermainnya juga si dari info yang kudengar."
Jelasku, dengan semangat.
Agus mengangguk-angguk, tanda setuju, Agus juga pas kebetulan lagi enggak ada kesibukan. Tanpaterasa, malam telah tiba, Agus datang ke rumahku, dengan membawa motor kesayangannya.
"Jadi, pergi ke pameran apa enggak Lin?"
"Jadi, dong, Gus soalnya kalau malam ini, enggak nonton, pasti rugi. Belum tentu di lain kesempatan ada yang menggelar pameran lagi."Ya sudah kalau gitu, Lin semoga acaranya enggak mengecewakan."
Aku dan Agus pun berangkat, sekitar pukul 19.00 malam.
"Kok ini kaya jalan mau ke kuburan si, Gus?"
"Iya, Lin soalnya biar cepat dan enggak macet. Kalau bukan lewat jalan ini, pasti macet, di jalan sebelah selatan sedang diperbaiki, Lin."
Pas di dekat gerbang kuburan, aku benar-benar merinding. Aku saat melirik ke sebelah kiri, netraku enggak sengaja menangkap sosok berwarna putih di pohon beringin.
"Gus, jalannya tolong dicepetin!"
"Tenang, Lin walaupun pelan enggak bakalan terlambat."
Aku mati-matian menahan rasa takut, karena melihat sosok berwarna putih, kepalanya dikuncir.
Setelah sampai di alun-alun, Agus bilang padaku.
"Enggak terlambat benaran kan, Lin?"
"Tadi itu bukan masalah terlambat, Gus pas tak suruh jalan cepat. Aku tadi melihat sosok pocong, di atas pohon beringin. Pohon yang letaknya di pinggir gerbang, yang daunnya lebat banget."
Agus belum percaya dengan penjelasanku.
"Masa si? Kok aku enggak lihat, ya, Lin?"
"Ya sudah kalau enggak percaya."
"Jangan gitu dong, Lin katanya mau melihat pameran. Kok malah bahas soal pocong yang enggak jelas gini."
Aku bersama Agus menyaksikan semua pameran yang digelar, suasananya terasa menyenangkan. Barang-barang yang dipamerkan indah banget, rasanya sangat berkesan di hati. Setelah puas menonton pameran, dilanjut menikmati wahana. Yaitu berkunjung ke rumah hantu, aku memejamkan mata saat pocongnya muncul. Aku masih terbayang sosok berwarna putih di pohon beringin, asli ngeri banget menurutku. Berhubung waktu sudah larut malam, aku dan Agus memutuskan untuk pulang.
"Lin,ini semua jalan macet, kecuali jalan pinggir tpu. Jadi, mau enggak mau, kita lewat sana lagi."
"Ya sudah deh enggak apa-apa lewat sana, kalau itu memang jalan satu-satunya, Gus."
Saat sampai di sekitar pohon beringin, sosoknya muncul lagi. Malah penampilannya lebih seram, matanya melotot, mukanya pun hancur.
"Agus. Itu pocongnya muncul lagi."
Bisikku, sambil merasa ketakutan.
Mendengar kataku, Agus langsung melirik ke arah yang kumaksud lalu menjalankan motornya dengan ngebut. Ketika sudah berada di rumah, aku bertanya pada, Agus dengan penuh penasaran.
"Gus, kenapa si tadi pas kubilang sosoknya muncul lagi? Kamu ketakutan banget, kok sampai ngebut secepat-cepetnya?"
"Ternyata bener apa katamu, Lin pocoongnya serem banget bentuknya."
Aku tertawa mendengar penjelasan, Agus.
"Hahahahahahaha!"
"Enggak usah ketawa, enggak ada yang lucu, Lin."
Selesai.
Komentar
Posting Komentar