TERSESAT

Namaku Udin. Aku akan menceritakan suatu kisah. Yang pernah aku alami.

Pada hari jum'at sore. Aku mendapat surat, dari adikku, di kota.

Begini isi suratnya.

"Mas, aku pindah rumah. Sudah enggak di rumah yang dulu lagi."

Sesudah membaca surat itu. terlintas dipikiranku, untuk berkunjung ke sana.

Lalu, kubalas surat itu.

"Nur, aku besok kalau punya rejeki. Akan berkunjung ke rumahmu. Bersama mbak Matun."

Sekitar 2 minggu berlalu. Aku baru kembali mendapat surat.

Maklumlah, surat-suratan itu lama. Enggak secepat lewat hp.

Isi jawabannya seperti ini.

"Kalau ingin ke sini, datang saja mas. Rumahku didekat alun-alun kota."

Seminggu berikutnya, aku panen padi. Sehingga aku bisa berkunjung ke kota.

Aku berangkat ke kota bersama mbak Matun.

Setelah di alun-alun kota. Mbak Matun bertanya pada salah 1 warga.

"Permisi pak. Maaf saya ingin tanya perumahan didekat alun-alun, sebelah mana ya pak?"

"Lurus, lalu ada lapangan. Nanti belok kanan."

Mbak Matun melewati rute yang dimaksud. Bersamaku.

Saat sampai diokasi. Malah adanya para penjual makanan.

Aku bertanya pada salah 1 penjual. Yaitu penjual rujak.

"Maaf dik, perumahan dekat alun-alun dimana ya?"

"Masih ke selatan lagi pak." Katanya.

"Ya sudah, terima kasih."

Aku dan mbak Matun melanjutkan perjalanan. Naik becak.

Setelah sampai di tempat tersebut. Ternyata hanya ada sungai.

"Mbak, kita istirahat dulu yuk! Siapa tahu kita istirahat. Terus mendapat petunjuk."

Mbak Matun setuju dengan ideku.

Tukang becak pun pergi. Meninggalkan aku dan mbak Matun.

Di pinggir sungai aku berharap.

"semoga ada orang lewat. yang tahu rumah adikku."

Ketika aku selesai menikmati bekalku, bareng mbak Matun. Tiba-tiba istrinya adikku datang menghampiri.

"Mas Udin dan mbak Matun sedang ngapain? Kok duduk di pinggir sungai?"

"Begini Isti. Aku sama mbak Matun mau ke rumahmu. Namun, malah tersesat."

Mendengar penjelasanku. Isti pun mengerti.

Setelah tersesat di pinggir sungai. Akhirnya aku dengan mbak Matun sampai di rumah adikku.

Di sana aku sama mbak Matun dijamu. Layaknya tamu agung.

Adiku bertanya.

"Kok mbak Masyita dan mas Agus enggak diajak?"

Mbak Matun menjawab.

"Suamiku enggak mau ikut. Katanya ingin jaga toko saja.

"Istriku sedang ke rumah ibunya. Jadi enggak ikut."

Adikku mengangguk-angguk. Tanda paham.

Setelah puas di rumah adikku. Aku serta mbak Matun pulang ke desa.

Sampai di rumah dalam keadaan selamat sentausa.

Selesai.


Komentar