COKLAT

Pada hari Minggu siang itu, Lina sedang merasa gabut. Sehingga, memutuskan untuk jalan-jalan ke Indomaret terdekat.
"Daripada bingung, lebih baik aku ke Indomaret sajalah. Siapa tahu ada makanan yang bisa aku beli, untuk menghilangkan rasa gabutku."
Setelah di Indomaret, Lina berputar-putar. Mencari barang-barang yang diinginkan.
Setelah semua barang-barang yang dibeli terkumpul. Langkah kaki Lina, membawa dirinya ke tempat coklat batangan.
"Kok Aku pingin beli coklat ya. Namun,  adanya cuma coklat Silverqueen. Enggak ada  coklat yang lain."
Lina termenung memikirkan hal itu. Ragu-ragu antara ingin beli atau enggak beli. Karena, menurut Lina, coklat SilverQueen adalah coklat kenang-kenangan.
Tiba-tiba ada Dina datang menghampiri Lina.
"Kenapa Lin? Kok kamu bengong sih? Di depan rak tempat coklat, apa kamu ingin beli coklat? Terus kamu nggak punya uang gitu?"
"Enggak gitu Din, aku ingin beli coklat. Adanya cuma SilverQueen, yang lain kosong. Jadinya aku bingung, mau beli apa enggak."
"Emangnya kenangan dengan siapa sih? Kok sampai seberat hati itu?"
"Seseorang yang dulu pernah istimewa di hatiku Din."
"Sudahlah Lin, itu kan sudah masa lalu. Dan, kamu  harus membuka lembaran baru. Maka, beli saja coklat itu. Untuk membuktikan, kalau kamu sudah move on dari orang itu."
"Terima kasih ya solusinya. Kamu memang teman yang baik deh."
Dina mengangguk.
Sesudah mendapat solusi dari temannya itu, Lina tersenyum cerah.
Coklat tersebut dibeli.
"Walaupun coklat ini memang penuh kenangan. Aku tetap membelinya. Untuk melupakan kenangan yang telah lalu dan kenangan itu akan selalu kusimpan dalam hatiku. Yang namanya kenangan tetaplah kenangan enggak akan terhapuskan mau dihapus sedemikian rupa. Yang pasti, diambil hikmahnya saja yang baik diambil positifnya yang buruk ditinggalkan sejauh mungkin dalam kenangan itu."
Batin Lina, dalam hati.
Rasa gabut yang ada pada diri Lina pun sudah terobati. Berganti dengan rasa kebahagiaan.
Selesai.

Komentar