Namaku Lina. Aku akan menceritakan salah satu kisahku.
Pada hari selasa pagi, sekitar jam 09.00 itu. aku duduk di teras rumah.
Ibu menemuiku. Untuk berpamitan.
"Ibu berangkat kerja ya nak!"
"Iya Bu. Oh iya Bu, kalau ibu pulang kerja. Terus ada penjual cilok, tolong belikan ya Bu!"
"Iya nak, tapi ibu enggak janji. Soalnya ibu pulangnya menjelang maghrib. Jam segitu banyak penjual sudah pada tutup."
AKU hanya mengangguk. Tanda mengerti. Walaupun aku pingin banget, beli cilok.
AKU pun berhayal.
"Lagi nyantai kaya gini. Coba aja ada penjual cilok yang lewat. Pasti enak banget."
Pikirku.
Saat aku sedang membayangkan cilok. Ada tetangga yang menghampiriku, mengajakku ngobrol.
Tiba-tiba ada suara.
"Tulit-tulit! Tulit-tulit!
Suara itu. Semakin lama, semakin dekat.
Aku tidak kuasa menahan rasa penasaran. Sehingga bertanya pada tetanggaku.
"Mbak Atun, itu penjual apa?"
"Itu orang jualan cilok."
"Oh gitu mbak."
"Iya Lin. Aku mau beli dulu ya Lin."
"Aku juga mau beli mbak. Aku tak ambil uang."
"Gini aja Lin. Kamu ambil uang, tak pesenin ciloknya. Biar enggak kelamaan."
"Ya udah kalau gitu. Tolong ya, pesenin."
Setelah ambil uang, aku langsung menghampiri penjualnya. Ternyata, cilokku sudah dibungkus.
Saat penjualnya sudah pergi. Aku bilang sama mbak Atun.
"Dari aromanya aja, enak. Apalagi kalau pas dimakan. Pasti rasanya enggak mengecewakan."
"Cilok di ibu yang barusan, memang terkenal sangat lezat."
Sehabis beli cilok. Aku dan mbak Atun, kembali ke teras.
Makan cilok, sambil bercerita banyak hal.
Selesai
Komentar
Posting Komentar