JANGAN MALAS

Pagi yang mendung. Di hari Senin.

Nanda masih malas-malasan di kamar.

"Kok aku malas berangkat ya. Tapi, Kalau aku enggak berangkat. Nanti ketinggalan materi."

Sampai-sampai Nanda berpikir.

"Berangkat enggak. Berangkat enggak. Berangkat enggak."

Tanpa sadar, sang ibu sudah ada dihadapannya.

Menepuk pundaknya.

"Aduh! Bikin kaget saja, Bu."

"Kamu si. Ibu panggil, enggak jawab-jawab. Lagi ngapain si?"

"Ini Bu, aku lagi bingung."

"Bingung kenapa?"

"Mau ke sekolah. Rasanya kok malas banget. Apalagi hawanya mendung."

"Jangan malas, belajar yang rajin. Biar jadi orang sukses, nak. Mendung jangan jadikan alasan."

Ucap ibu. Sambil mengelus kepala Nanda, dengan lembut.

"Sarapan dulu yuk!"

Nanda mau sarapan. Walaupun dengan berat hati.

Ternyata di meja makan, sudah ada ayah.

"Nanda kamu kenapa? Kok kelihatannya enggak semangat?"

Nanda belum menjawab. Ibu sudah angkat bicara duluan.

"Nanda sedang malas sekolah, yah.

Mendengar hal itu. Ayah langsung menegur Nanda.

"Kamu ingin jadi anak pintar atau anak bodoh?"

"Anak pintar, yah."

"Kalau ingin jadi anak pintar. Yang semangat, jangan malas."

Akhirnya Nanda pergi ke sekolah.

Di perjalanan Nanda merenung.

"Memang benar sih, yang dibilang ibu dan ayah. Kalau ingin jadi orang pintar harus rajin. Enggak boleh malasan."

Perlahan rasa semangat untuk bersekolah. Terbit dalam hati Nanda.

Selesai 

Komentar