SANDAL PUTUS

Namaku Lina. Aku akan menceritakan salah satu kisahku.

Pada waktu itu bulan puasa hampir usai. Kira-kira kurang satu minggu lagi lebaran.

Teman-temanku mengajak jalan-jalan.

"Besok pagi jalan-jalan yuk!"

"Ayo. Emangnya mau jalan-jalan ke mana?"

"Ya muter-muter di sekitar komplek aja si. Hitung-hitung menikmati udara segar."

Hari pun telah berganti. Sejuknya embun pagi menyapa diriku.

Aku dan 9 temanku jalan-jalan. Keliling-keliling. Tempat yang dituju pun antara lain alun-alun, taman dan lapangan.

Namun pas berangkatnya ada tragedi. Yaitu sandalku putus, saat menyebrang jalan raya.

"Aduh!"

Agus yang mendengar teriakanku. Langsung bertanya padaku.

Kamu kenapa Lin?"

"Ini gus, sandalku putus."

"Pakai sandalku aja Lin."

"Enggak mau ah. Nanti kamu enggak pakai sandal."

"Ya enggak apa-apa Lin. Biar aku yang enggak pakai sandal."

"Jangan Gus. Lagian enggak pakai sandal juga sehat loh."

"Kalau gitu, Aku juga mau ikut enggak pakai sandal."

Wawan yang mendengar percakapanku dan Agus. Akhirnya menyambung.

"Kalian itu lagi bahas apa si? Kok dari tadi ribut aja."

"Ini loh Wan. Lina sandalnya putus. Aku suruh pakai sandalku, dia enggak mau."

"Kalau enggak mau, ya enggak usah dipaksa."cletuk Amin.

"Mungkin dia mau enggak pakai sandal. Biar kakinya sehat." Balas wawan.

Hingga pada akhirnya, enggak pada pakai sandal semua.

Parahnya lagi. Sudah jelas-jelas itu sandal putus. Masih aku tenteng, seperti sandal teman-temanku. Karena aku masih bingung, mau aku buang di mana itu sandal.

Sampai-sampai ada salah satu warga. Yang berkomentar.

"Itu orang gimana si. Sandal putus kok enggak dibuang."

Aku hanya terdiam. Enggak menanggapi apa pun.

Ketika sampai di lapangan. Teman-temanku pada keliling lapangan, termasuk aku.

Sandalnya pada ditaruh di pinggir lapangan.

"Mendingan sandalnya tinggal di sini dulu. Biar sambil menggerakan tangan, pas kita keliling. Hitung-hitung kita olahraga." Usul Agus.

Pas pulang, teman-tenanku pada mengambil sandalnya. Sementara sandalku aku tinggal.

"Kok sandalnya ditinggal Lin?"

"Iya Gus. Kan sudah putus."

"Kok tadi pas di jalan enggak dibuang? Bagaikan barang kesayangan yang sangat berharga." Ledek Agus.

Aku hanya tertawa.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Sang matahari sudah menunjukkan senyum manisnya.

Aku dan teman-temanku memutuskan untuk pulang.

"Pulang yuk!" Ajak agus.

Aku dan yang lainnya mengangguk. Pertanda kalau setuju.

"Sandalnya nangis Lin. Kalau ditinggal di pinggir lapangan." Ujar Wawan.

"Ya udah biarin aja."

Responsku, dengan acuh.

Pada sore harinya aku ke toko. Membeli sandal, sebagai ganti sandal yang putus.

Selesai


Komentar