Namaku Amin. Aku akan menceritakan salah satu kisahku.
Pada malam minggu aku diajak jalan-jalan sama temanku.
"Jalan-jalan yuk min!"
"Jalan-jalan ke mana mas Arga?"
"Jalan-jalan ke komplek Selatan. Di sana kamu tak kenalin sama temenku. Biar temanmu semakin banyak."
Aku mengangguk. Tanda setuju.
"Tunggu sebentar ya mas! Aku mau siap-siap dulu."
"Iya min."
Pas di jalan. Mas Arga ingin beli minuman.
"Mampir ke toko dulu yuk min! Aku ingin beli minuman dinginn."
Ternyata, toko yang dituju mas Arga, ada anjingnya. Walaupun anjingnya enggak dilepas. Aku merasa sangat ketakutan.
AKU memanggil-manggil mas Arga.
"Mas. Ayo, cepetan."
"Sabar min, minumannya aku bayar dulu. Tenang, anjingnya enggak dilepas kok. Kamu enggak usah takut, dia enggak akan ngejar kamu."
Sesampainya di sana, aku ketemu sama teman ceweknya mas Arga. Dia namanya Lina.
Mas Arga mengenalkan aku sama Lina.
"Min, ini temanku. Namanya Lina."
Aku menjabat tangannya.
"Salam kenal ya mbak. Oh iya mbak, namaku Amin."
"Iya Amin. Salam kenal juga. Dari komplek utara ya?" Balasnya.
"Benar mbak."
Setelah aku, mas Arga dan mbak Lina. Ngobrol banyak hal. Tanpa terasa waktu semakin malam.
"Pulang yuk min!"
"Ayo mas."
Pada hari Minggu pagi. Aku bilang sama mas Arga.
"Kok aku lupa minta nomornya mbak Lina, ya mas. Siapa tahu, bisa jadi teman baikku."
"Kalian kan satu sekolahan. Siapa tahu di sana bisa ketemu lagi. Terus kamu bisa minta nomornya."
Seminggu telah berlalu. AKU bertemu mbak Lina. saat jam sekolah. Lalu aku menyapanya.
"hai mbak."
"Iya min.".
sambil berlalu.
Dua bulan telah terlewatkan. Aku sama mbak Lina sudah akrap.
Pada hari jum"at sore aku latihan upacara, karena hari seninnya aku yang bertugas. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Salah satu orang, yang ikut latihan upacara. Adalah mbak Lina.
"Mbak. Ternyata aku bisa ketemu kamu lagi. Mbak aku mau minta nomornya, boleh apa enggak?"
"Boleh kok min."
Sejak tukeran nomor sampai sekarang. Aku dan mbak lina berteman. Bahkan masih berkomunikasi dengan baik.
Selesai
Komentar
Posting Komentar