AIR

Di hari minggu pagi. Burung berkicau. Saling bersahutan satu sama lain. Matahari telah hadir untuk menyapa bumi.

Warga desa Kayu Coklat sedang pada bingung. Air di desa tersebut sedang mati.

"Apakah air di rumah sampean juga mati, Bu Ani?"

"Iya, Bu Atun. Air di rumah saya mati."

"Berarti bukan di rumah saya saja yang mati. Padahal saya mau mencuci baju dan piring." Keluhnya.

"Bukankah di rumah sampean punya tempat penampungan air? Jadi, sampean tidak khawatir. Walaupun air sedang mati begini. Sampean tidak takut kehabisan air."

"Meskipun ada penampungan air. Kalau buat mencuci barang kali tidak cukup. Dan, misalnya ingin buang air kecil atau cuci tangan. Airnya tidak ada. Malah saya semakin bingung."

"Iya, benar juga si. Semoga cepat nyala. Biar segala aktifitasnya. Yang menggunakan air bisa cepat selesai."

Lina yang sedang jalan-jalan. Tidak sengaja mendengar percakapan. Antara Bu Ani dan Bu Atun. Langsung mencletuk.

"Air mati, itu. Tidak usah bingung. Mendingan pakai air sungai."

"Cucianku banyak. Kalau dibawa ke sungai berat banget. Saya tidak kuat."

"Ya sudah. Kalau gitu bersabarlah."

Setelah itu, Lina pergi. Meninggalkan Bu Ani dan Bu Atun.

Jam terus berputar. Pagi berganti siang.

Suara azan dhuhur berkumandang.

Bu Atun mengecek kran air.

"Kricik-kricik. Kricik-kricik."

Bu Atun pun tersenyum sempringah. Karena, air sudah menyala.

Hal yang sama juga dirasakan. Oleh Bu Ani dan para warga. Di desa Kayu Coklat.

Selesai. 

Komentar