Pada suatu hari, hiduplah keluarga kecil. Yaitu ayah, ibu, dan kedua anaknya.
Sang ayah bernama Agus. Ibunya bernama Ayu. Anak pertama bernama gadis. Anak kedua bernama Ani.
Sang ibu sangat menyayangi anak bungsuhnya. Bagaikan anak emas.
Sementara itu, pada anak pertamanya selalu acuh. Bahkan setiap anak pertamanya mengeluhkan suatu hal. Tidak ditanggapi. Bagaikan angin lalu.
Seperti malam senin. Saat hujan deras.
"Kok jam segini aku sudah ngantuk, ya. Tubuhku ingin istirahat. Lagian sedang hujan. Hawanya dingin. Sangat cocok untuk tidur."
Saat tidur Gadis lupa menutup pintu kamar.
Jam terus berputar. Malam semakin larut.
Hujan sudah berhenti. Walaupun hawa dingin masih terasa.
Ani mencari ibu. Dengan cara treak-treak.
"Ibu! ibu! Ibu! Ibu!"
Gadis merasa kaget. Mendengar treakan Ani.
"Malam-malam gini treak-treak. Gangggu orang tidur aja."
Ocehan Gadis tidak diabaikan.
Ibu langsung menghampiri ani.
Bukannya menegur. Malah ibu ngobrol dengan anak emas.
Dadis di kamar menggrutu sendirian.
"Gara-gara anak emas. Aku jadi terbangun. Untung aja aku tidak kenapa-kenapa. Cuma terbangun. Tapi kan tetap saja rasanya tidak enak. Tidak seperti bangun sendiri. Yang rasanya nyaman."
Ayah tidak terbangun. Tetap ngorok dengan tenang.
Gadis kembali tertidur.
Ani memanggil ibu kencang sekali.
"Ibu! Antarkan aku ke kamar mandi!"
Ibu langsung bergegas.
Gadis lagi-lagi terbangun.
"Itu anak berisik terus si. Lama-lama mulutnya aku sumpal. Dengan kaos kaki yang sebulan tidak dicuci. Biar tidak berisik terus. Cuma sayangnya, kaos kaki tersebut tidak ada."
Sehabis mengantarkan Ani. Ibu langsung bisa tidur.
Gadis di kasur pindah-pindah posisi. Tetap tidak bisa tidur.
Ditambah lagi Ani memutar vidio dengan keras di depan kamar Gadis. Gadis semakin tidak bisa tidur.
Hari telah berganti. Malam menjadi pagi.
"Kok matamu merah, gadis? Apakah kamu habis nangis?"
"Tidak yah. Cuma semalam baru tidur sebentar. Habis itu malah tidak bisa tidur."
"Emangnya kenapa?"
"Biasalah. Gara-gara anak emas."
Ayah hanya terdiam. Bingung. Tidak tahu, harus berkomentar apa lagi.
Siang harinya ada tetangga datang.
Gadis pergi ke belakang rumah.
"Permisi! Asalamualaikum!"
Suaranya begitu nyaring. Dan, sampai berulang kali.
Namun, gadis tetap di belakang rumah. Tidak beranjak sama sekali.
"Suaranya keras gitu. Pasti Ani terbangun. Tidak mungkin tidak."
Setelah Ani terbangun dan merengut. Gadis menuju ke ruang tamu. Dengan senyum bahagia.
Dalam hatinya pun berkata.
"kan biasanya pas aku tidur. Terbangun gara-gara dikagetin kamu. Sekarang kamu baru tahu rasanya, anak emas."
Gadis merasa senang. Tidak ada yang menegur aksinya. Karena ibu dan ayah sedang pergi.
Selesai
Komentar
Posting Komentar