PENUNGGU KEBUN

Namaku Lana. Aku akan menceritakan salah satu kisahku. Yang menurutku terasa horor.

Pada hari Kamis. Habis maghrib.

Aku lewat di pinggir kebun. . Yang banyak tanaman singkong dan pepohonan rindang. Lokasinya pun lumayan jauh. Dari perumahan warga.

Untuk menuju ke rumah saudaraku. Yang ada di desa sebelah. Dengan berjalan kaki.

Tiba-tiba tercium aroma bunga melati.

"Sriwing."

"Kok bau bunga melati si. Perasaan tidak ada orang."

Saking penasarannya. Aku berhenti sejenak. Untuk memastikan. Sebenarnya ada siapa.

Namun, aku tolah-toleh. Sampai tiga kali. Nyatanya, tidak ada siapa-siapa.

"Kok aneh, ya. Tidak ada orang. Akan tetapi ada bau wangi. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Ya sudahlah. Mending aku melanjutkan perjalanan saja."

Seminggu telah berlalu.

Aku pun pulang.

Kembali melewati pinggir kebun lagi. Sekitar pukul 08.00 malam.

Sebelum melewatinya. Aku berkata.

"Semoga tidak bertemu dengan yang menyeramkan."

Alhasil nasibku sedang sial.

Kurang 2 meter dari kebun. Sudah mendengar suara tawa.

"Hih-hih! Hih-hih!"

"Mending tak duduk dulu. Siapa tahu, sehabis aku duduk. Suaranya sudah hilang"

Setelah rasa lelahku hilang. Suara tawanya berhenti.

Kupikir sudah aman.

Ternyata, masih ada gangguan.

Pas di pinggir kebun. Ada yang menyapaku.

"Dari mana, dik? Kok sendirian, dik?"

Suaranya sayup-sayup. Sangat pelan seperti berbisik.

"Dari desa sebelah."

Berhubung ingin tahu. Siapa yang menyapa. Aku pun menengok ke arah samping.

Terlihat seorang wanita. Sedang duduk di atas pohon. Wajahnya pucat dan matanya melotot. Amat mengerikan.

Rasanya merinding sekali.

Aku langsung melanjutkan perjalanan. Dengan secepat-cepatnya.

Ketika sampai di rumah.

Ibu bertanya.

"Kamu kenapa? Kok seperti habis berlari?"

"Iya, Bu. Soalnya, tadi di pinggir kebun. Aku melihat sesuatu."

"Seorang perempuan kan"

"Ibu kok bisa tahu?"

"Ya tahulah. Dia memang sudah ada sejak lama. Sebagai penunggu kebun."

"Masa si, Bu?"

"Iya. Yang penting kalau lewat tempat itu. Kamu jangan berkata jorok dan tidak sopan. Lalu, jangan lupa bilang permisi. Pasti dia tidak akan mengganggu." Jelas ibu.

Aku pun berpikir.

"Ini tadi gara-gara aku tidak permisi. Pantesan aja dia iseng padaku."

Setelah kejadian itu. Setiap aku lewat pinggir kebun. Aku selalu bilang permisi.

Dan, terasa aman-aman saja. Tidak ada gangguan apapun.

Selesai. 

Komentar