Namaku Nisa. Aku akan bercerita salah satu kisahku.
Pada hari Kamis pagi. Aku sedang kalut.
Gara-gara dapat tugas memimpin doa. Untuk kegiatan yasin dan tahlil.
Yang diadakan secara rutin. Di kosan tempat aku tinggal. Yaitu komplek selatan.
"Aduh, bagaimana ini. Doanya belum hafal sama sekali."
Batinku. Dengan rasa prustasi.
Sambil pakai sepatu. Aku bergumam dalam hati.
"Dari pada bingung memikirkan doa. Terus aku terlambat. Mending aku berangkat ke sekolah."
Ketika di kelas. Aku teringat, dengan Yusuf. Anak dari komplek utara. Yang hafal tentang doa-doa.
Aku pun menghubungi Yusuf.
"Tolong aku, suf!"
"Tolong apa, Nis?"
"Kamu hafal tentang doa-doa kan?"
"Aku hafal si, Nis."
"Kalau gitu. Aku diajarin dong!"
"Aku tidak salah dengar, Nis? Kamu mau belajar doa?"
"Lagi kepepet aku, suf. Doanya untuk nanti malam. Akan tetapi aku belum tahu. Bagaimana doanya."
"Ya sudah, kalau gitu. Kamu datang ke kelasku! Jangan lupa bawa buku dan alat tulis!"
"Emangnya buat apa?"
"Untuk nulislah. Kalau tidak ditulis. Kamu emang ingat. Pas waktu membacakan."
"Ya tidak si."
"Ya makanya. mending ditulis."
Aku pun pamit pada Ridwan.
"Wan aku pergi dulu, ya. Nanti kalau masuk. Tolong aku ditelpon!"
"Emangnya kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Aku mau minta tolong, sama Yusuf." Jawabku.
"Oh. Ya sudah. Tenang aja. Pasti aku telpon." Responsnya.
Sesampainya di kelas Yusuf. Aku langsung disuruh menulis doanya.
"Sudah siap?"
"Ya belumlah. Kok adanya meja doang. Ini mana kursinya? Masa aku menulis sambil berdiri."
Yusuf pun mengambilkan kursi. Untuk duduk.
"Ini kursinya, Nis."
"Iya."
Sesudah duduk dengan nyaman.
Yusuf berucap.
"Sekarang sudah siapkah?"
"Sudah."
"Aku bacakan perkata, ya. Kalau aku bacanya kecepetan. Kamu bilang saja."
"Ok."
Baru dapat satu lembar. Aku berkata.
"Sudah, suf?"
"Ya belumlah. Ini baru sedikit."
Lanjut menulis lagi. Sudah hampir dua lembar.
Aku kembali bertanya.
"Ini sudah selesaikah?"
"Masih setengah lagi, Nis."
"Kok masih banyak banget si."
"Namanya juga doa. Ya banyaklah. Tenang aja. Tidak sampai satu buku kok."
Tanpa terasa sudah dapat tiga lembar.
"Apakah ini sudah mau selesai?"
"Belum, Nis. Masih satu lembar lagi. Sabarlah."
Pada akhirnya dapat empat lembar.
"Nah, sekarang sudah selesai."
"Terima kasih, ya. Kamu sudah mau membantu, suf."
"Iya sama-sama."
Setelah itu, aku ke kelas. Dengan tersenyum cerah. Secerah matahari.
Dan, bisa mengikuti pelajaran para guru. Dengan rasa tenang.
Selesai
Komentar
Posting Komentar