Pada malam minggu. Lina dan Wandi sms-an.
"Lin."
"Iya, mas Wan."
"Lagi apa, Lin?"
"Lagi baca novel. Kalau kamu lagi apa?"
"Aku lagi main gitar. Novel apa, itu?"
" Biasa, novel horor. Wah, asyik dong main gitarnya."
"Iya, Lin. Besok jalan-jalan yuk! Sekalian beli mie ayam! Kebetulan ada penjual mie ayam. Yang masih baru. Siapa tahu, mie ayamnya enak."
"Ayuk. Jam berapa jalan-jalannya, mas?"
"Habis ashar, Lin. Sekitar jam 04.00 sore."
"Ok, mas."
Pada hari Minggu pagi. Wandi mengingatkan, Lina. Lewat SMS.
"Klunting!"
Lina membuka hp. Ternyata pesan dari, Wandi.
"Jangan lupa, ya, Lin. Nanti sore jam 4."
"Jangan khawatir. Aku tidak lupa kok."
Sekitar jam 10.00 hujan deras.
"Kok hujan, ya, mas Wan."
"Ya sudah. Kalau hujannya sampai sore. Ya berarti jalan-jalannya minggu depan. Kalau sebelum asar sudah usai. Ya jalan-jalan hari ini."
Waktu terus berputar. Tanpa terasa sudah menuju waktu ashar.
Ternyata, hujan sudah reda.
Wandi dan Lina. Jalan-jalan menuju taman.
"Andai saja, aku punya kekasih hati. Pasti dia akan aku ajak ke sini setiap sore."
Kata, Wandi.
"Sabar aja. Suatu saat pasti punya kok." Hiburku.
Setelah, ngobrol banyak hal. Akhirnya menuju warung mie ayam. Yang dimaksud oleh, Wandi.
"Mie ayam dua, Bu. Pakai bakso, telur, saos, sambal." Pesannya.
"Makan di sini atau dibungkus?"
"Makan di sini."
Ketika perjalanan pulang.
Wandi bilang.
"Ternyata mie ayamnya enak, ya."
"Iya, mas."
Jam 6 sore. Wandi dan Lina. Baru sampai di kosan.
Jalan-jalan yang membahagiakan. Membuat Wandi dan Lina tersenyum indah. Bagaikan bunga yang sedang bermekaran.
Selesai
Komentar
Posting Komentar