MENCARI KUNCI

Pada hari Kamis sore. Pak Adam dan bu Ani. Baru pulang dari tempat kakaknya.

Ketika sudah sampai rumah.

Bu Ani membuka tasnya. Untuk mengambil kunci rumah.

Alhasil kuncinya tidak ketemu.

"Gimana ini, pak? Kok kuncinya tidak ada."

Ucapnya. Dengan ekspresi cemas.

"Masa si, Bu. Coba dicari lagi, Bu. Barangkali tadi kurang teliti. Sehingga, tidak ketemu."

Saran, pak Adam.

Bu Ani pun mengikuti sarannya.

Kembali mengaduk-aduk isi tasnya. Namun, tetap saja tidak ada.

"Tetap tidak ada, pak. Terus berarti kita tidak bisa masuk dong."

"Tenang dulu, Bu. Siapa tahu ketinggalan di tempatnya, mbak Ana. Ayuk kita ke sana lagi!"

Pak Adam dan bu Ani kembali ke tempat kakaknya.

"Tok-tok! Tok-tok! Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Ada apa nih? Kok kembali lagi?"

"Maaf, mbak Ana. Apakah ada kunci Yang tertinggal? Karena, kunciku tidak ada."

"Emangnya kunci apa? Terus ditaruh di mana tadinya?"

"Kunci rumah, mbak. Siapa tahu tadi jatuh. Pas aku lagi buka tas. Buat ambil hp. Terus vidio call sama, Ayu."

"Ayu adalah adik Bu Ani.

Di sini tidak ada kunci. Siapa tahu kalian sebelum ke sini. Mampir ke warung. Terus pas beli apa di sana. Saat mengambil uang. Kuncinya ikut terjatuh."

"Ya sudah kalau gitu, mbak. Aku dan mas Adam pamit dulu, ya."

"Iya. Kalian hati-hati di jalan. Semoga kuncinya bisa ketemu, ya."

Bu Ani dan pak Adam mengangguk.

Di perjalanan. Menuju ke rumah. Pak Adam teringat. Sebelum ke tempat, Bu Ana.

Mampir ke warung pecel. Untuk makan siang bareng. Dan, juga untuk mengobati rasa penasarannya.

"Jangan-jangan pas tadi kita makan pecel. Kuncinya jatuh di sana, Bu."

Ayo ke sana, pak! Siapa tahu terjatuh di sana beneran."

Pak Adam dan bu Ani sampai di warung pecel.

Penjualnya langsung menghampirinya.

"Bapak dan Ibu pasti mencari kunci ini. Ibu tadi sedang membayar. Kuncinya ikut terjatuh. Saya panggil-panggil. Malah pergi begitu saja. Tidak menghiraukan panggilan saya."

"Maaf, Bu. Tadi kami tidak dengar. Sadar sadar setelah pulang bepergian. Terima kasih, ya, Bu. Untuk kuncinya."

Ujar, Bu Ani. Dengan rasa lega. Bagaikan terlepas dari kejaran musuh.

"Iya sama-sama, Bu. Lain kali hati-hati, Bu. Kuncinya disimpan yang aman. Biar tidak hilang."

Balas, sang ibu. Penjual pecel.

Pak Adam dan bu Ani manggut-nanggut. Tertanda, memahaminya.

Pak Adam dan bu Ani. Akhirnya bisa masuk ke dalam rumah.

Selesai 

Komentar