KEBAHAGIAAN

Pada hari Sabtu pagi. Lina dan Wandi sms-an.

"Kamu nanti malam sibuk atau tidak, lin?"

"Aku tidak sibuk kok. Memangnya ada apa, ya, Wan?"

"Nanti malam kita malam mingguan bareng, yuk! Kira-kira kamu mau atau tidak?"

"Mau dong. Jalan-jalan ke mana?"

"Ke pantai. Kamu mau atau tidak?"

"Wah, asyik dong. Aku pasti maulah. Jam berapa berangkatnya?"

"Jam setengah 7. Biar pulangnya tidak kemalaman."

"Ok siap."

Jam terus berputar waktu pun telah berganti. Pagi berubah menjadi siang.

Tiba-tiba langit menangis. Dengan perlahan-lahan.

"Kruyuk-kruyuk! Kruyuk-kruyuk!" Bunyinya.

Penghubungi, Wandi. Untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Wan. Gimana ini? Kok malah hujan. Padahal kan kita mau ke pantai. Nanti kalau hujannya tidak reda? Terus tidak jadi malam mingguan. Gimana dong?"

"Sudah tenang aja. Kamu tidak usah cemas. Jika nanti malam masih hujan. Jalan-jalannya bisa diganti besok pagi atau siang. Lagian yang namanya hujan itu. Adalah rezeki yang harus kita syukuri."

"Iya juga si, Wan."

Lina membuat coklat hangat dan mie rebus pakai telur. Untuk menghilangkan rasa dingin.

Wandi membuat kopi dan nasi goreng. Agar dirinya merasa hangat.

"Sungguh, rasanya nikmat. Walaupun hanya makan nasih goreng dan minum kopi."

Gumamnya, dalam hati. Sambil bersenandung. Sangking bahagiannya.

Lina merasakan hal yang serupa.

"Meskipun hanya makan mie telur dan minum coklat hangat. Rasanya enak sekali."

 Berhubung bingung mau ke mana. Lina memutuskan. Untuk membaca novel di kamar.

Sementara itu, Wandi memutuskan. Untuk bermain gitar.

"Daripada bingung mau ngapain. Mending main gitar saja. Untuk berlatih, supaya lebih lancar."

Pada malam harinya. Hujan telah usai.

Wandi dan Lina hatinya berbunga-bunga. Bagaikan bunga sedang mekar.

Wandi mengirim pesan.

"Lin. Ayuk kita siap-siap! Lalu berangkat. Ini sudah jam 6 seperempat."

"Aku sudah siap-siap, Wan. Kira-kira ketemuan di mana?"

"Aku yang jemput ke rumahmu."

Lina dan Wandi naik taksi.

Sesampainya di pantai. Lina dan Wandi duduk di tepi pantai.

"Ternyata, malam mingguan di pantai. Menyenangkan, ya, Lin."

"Iya, Wan."

Keduanya membeli roti bakar, martabak, dan susu coklat. Dinikmati di sana.

"Terima kasih, Lin. Kamu bersedia main bareng aku."

"Kita kan sudah lama bersahabat. Mana mungkin, aku tidak mau main bersamamu."

Bahkan, Lina dan wandi di pantai. Bercerita banyak hal. Dan, kadang tersenyum. Senyum yang penuh kebahagiaan.

Selesai 

Komentar