Pada suatu malam. Pak Untung, bu Untung, dan keponakannya. Sedang duduk santai di depan rumah.
Sang keponakan bernama, Nadin.
Malam itu rasanya sangat dingin. Seolah-olah langit akan segera menangis.
"Dingin-dingin kaya gini. Enaknya makan apa, ya, Din?"
"Makan bakso. Kayanya enak ni, om."
Tiba-tiba terdengar suara.
"Ting-ting! Ting-ting!"
Sang penjualnya seolah-olah mengerti. Bahwa sesungguhnya. Nadin ingin beli.
"Itu sepertinya penjual bakso, om."
Ucap, Nadin.
"Pokoknya jangan khawatir. Kalau penjualnya lewat sini. Pasti tak belikan." Kata, pak Untung.
"Beneran, ya, om?"
"Iya."
Sang penjual yang ditunggu-tunggu. Datangnya lama sekali.
"Kok belum lewat-lewat, ya, om?"
"Ya sabarlah. Siapa tahu masih banyak yang beli."
Setengah jam kemudian. Yang ditunggu-tunggu Akhirnya datang juga.
Pak Untung langsung menyetop penjualnya.
"Mas beli! Mas beli!"
Mendengar seruan, pak Untung. Sang penjualnya berhenti juga.
"Beli berapa, pak?"
"Baksonya 3, mas!"
Tukasnya. Sambil berlari ke dalam rumah. Untuk mengambil uang.
Ketika sedang dibungkuskan. Bu Untung melihat. Ternyata, itu mie ayam bukan bakso.
Bu Untung menyusul suaminya. Untuk memberitahu hal tersebut.
"Pak. Itu bukan bakso, tetapi mie ayam."
"Kalau bukan bakso. Aku tidak jadi beli, bu."
Nadin merasa kecewa. Yang sudah berjam-jam dinanti. Nihil hasilnya.
"Kalau tidak mau. Biar aku yang beli. Kasihan bakolnya. Barangkali sudah dibungkuskan. Jangan php dong, pak. Bapak juga kalau di php tidak mau kan?"
"Ya tidaklah, bu."
"Makanya. Ibu biar yang beli. Sehingga, bapak tidak diphp orang."
ujar, bu Untung. Dengan penuh kemenangan.
Pak Untung menyerahkan uang pada istrinya. Dengan enggan.
Bu Untung menghampiri, masnya.
"Sudah disiapkan, ya, mas?"
"Masih kurang satu, bu. Yang belum dimasukan ke wadah."
"Baik, mas."
10 menit kemudian. Tiga porsi mie ayam sudah berada di tangan, bu Untung.
Ketika menerima mie ayam. Nadin berkomentar.
"Katanya tidak jadi beli, tante?"
"Ya belilah. Orang sudah dipanggil, Masa tidak dibeli. Kasihan, jangan di php."
Bu Untung dan Nadin. Menikmati mie ayam dengan hikmat. Sampai tidak ada yang tersisa.
Selesai
Komentar
Posting Komentar