MEMBAJAK SAWAH

Pada malam Jumat Kliwon. Sekitar jam 08.00 malam.

Sehabis pulang tahlilan. Udin terbayang-bayang dengan sawahnya. Yang akan dibajak pada Jumat paginya.

Sawah itu adalah peninggalan almarhum, bapak. Jadi, maklum kalau selalu kepikiran dengan sawahnya.

Udin pun langsung bersiap-siap untuk ke sawah.

Setelah ganti pakaian, yang biasa digunakan ke sawah. Dirinya mengambil senter.

Ibunya bertanya.

"Mau kemana kamu, Din? Malam-malam gini kok pergi?"

"Udin mau ke sawah, mak. Barangkali sawahnya belum di beri air."

"Tadi siang bukannya sudah diairi, Din?"

"Akan tetapi apa salahnya dicek kembali, mak? Siapa tahu lupa. Kalau besok dibajak tidak ada airnya. Takutnya tidak bisa dibajak. Karena, kering tanahnya."

"Sudahlah. Malam ini tidak usah ke sawah. Di rumah aja. Nanti kalau di sawah ketemu ular gimana?"

Ucap, mak. Dengan serius.

"Tidak mungkin, mak. Ularnya pasti takut sama, Udin."

Balas, Udin. Dengan penuh tekat.

Mak menghela napas.

"Ya sudahlah terserah. Kalau tetap nekat ingin ke sawah. Mak tidak menanggung, jika terjadi apa-apa."

Sebagai jawabannya. Udin hanya mangkut-manggut.

"Srak-srek! Srak-srek!"

Suara langkah kaki, Udin. Di malam Jumat Kliwon, yang sunyi.

Di ujung desa. Udin merasa sedikit bimbang.

"Kira-kira lanjut ke sawah, atau lebih baik pulang, ya."

Gumamnya dalam hati.

Setelah berhenti 5 menit.

Udin bergumam lagi.

"Aku lanjutkan ajalah. Kalau kembali ke rumah nanggung. Sudah berada di ujung desa kayak gini. Meskipun, entah mengapa perasaanku merinding."

Di sawah yang dekat dengan desa. Merasa merindingnya bertambah bukannya berkurang.

Udin berhenti sambil merenung.

"Pulang, ke sawah. Pulang, ke sawah."

Serasa seperti wiridan. Sampai 10 kali. hasil akhirnya ke sawah.

Udin mempercepat langkahnya. Agar segera sampai di sawahnya.

Ketika kurang dua sawah lagi.

Udin melihat sesuatu. Yang bentuknya panjang melintang. Dari bagian ujung utara hingga ujung Selatan. Di sawah tetangganya.

"Itu apa, ya?"

Tanya, Udin. Pada dirinya sendiri.

Demi mengobati rasa penasarannya. Udin memperhatikan sesuatu tersebut. Ternyata, sesuatu itu adalah ular.

Udin langsung lari tunggang langgang. Tidak mengingat keadaan sawahnya, yang hari esok akan dibajak.

Ketika sampai di rumah. Napasnya sudah senin kamis. Bagaikan dikejar pocong.

Mak berkata.

"Kenapa kok pulang?"

"Memang benar apa kata, mak. Kalau ke sawah malam ini bakal bertemu ular."

"Kamu sih, kalau dibilangin sama orang tua ngeyel. Mak kan tadi sudah bilang."

Maaf, ya, mak. Udin sudah tidak percaya sama, mak."

"Mak sudah memaafkanmu. Lain kali kalau orang tua bilang itu percaya."

"Iya, mak."

Hari Jumat paginya sawahnya, Udin. Bisa dibajak dengan lancar. Tidak ada kendala.

Selesai 

Komentar