TANPA SENYUM

Biasanya dirimu bercakap denganku, diiringi dengan senyuman.

Namun, percakapan kali ini terasa sangat kaku dan dingin.

Bagaikan es batu.

Benar-benar tanpa senyum sedikitpun.


Aku pun berpikir-pikir dalam hati.

Di manakah senyuman manismu itu?

Mengapa sekarang tak ada senyumanmu itu?

Mengapa kau sekarang berubah, interaksi pun tanpa senyum?


Ketika diriku mencoba bersenda gurau denganmu.

Kau tidak membalas candaanku.

Hanya menanggapinya dengan datar.

Benar-benar tanpa senyum sama sekali.


Aku pun akhirnya memberanikan diri, untuk bertanya.

Mengapa dirimu sekarang berbeda?

Mengapa dirimu jika berinteraksi, sudah tanpa senyum?

Senyummu sekarang hilang ke mana?


Saat memberikan jawaban padaku, lagi-lagi tanpa senyum.

Dengan sebuah isyarat, bahwa dirinya masih orang yang sama.

Orang yang kukenal puluhan tahun silam.

Yang waktu dulu selalu menemaniku di setiap waktu.


Mendengar jawabannya, aku masih merasa belum puas.

Ke sana kemari kumencari, info tentangnya.

Ternyata, aku sudah tidak berarti baginya, pantas saja saat berinteraksi denganku tanpa senyum.

Dan, kau di sana sudah memiliki kekasih hati yang baru. 

Komentar