PERTEMUAN

Namaku Lina. Aku tinggal di pinggiran kota. Hobiku membaca, baik itu membaca novel ataupun buku pengetahuan. Pada pukul 16.00 WIB, aku merasa ingin jalan-jalan ke taman.

Di sana, aku tidak sengaja tabrakan dengan seorang pria yang sedang jalan ke arah berlawanan.

"Aduh! Gimana si main tabrak aja! Bukuku jatuhkan!"

"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja. Kakak tidak kenapa-kenapa?" ucapku dengan rasa cemas.

"Tidak. Pokoknya kalau bukuku rusak, kamu tak suruh ganti," ujarnya sambil mengambil bukunya.

"Coba cek dulu bukunya, Kak. Kalau memang rusak atau sobek gara-gara jatuh, aku akan menggantinya sekarang juga," balasku.

Pria itu menuruti perkataanku, meneliti bukunya.

"Gimana, Kak? Tidak ada yang rusak?"

Pria itu mengangguk dengan ekspresi cemberut. Setelah itu, ia berlalu dari hadapanku.

Aku melanjutkan niatku ke taman untuk menikmati aneka bunga yang cantik-cantik sambil membaca novel yang baru kubeli. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, aku langsung bergegas meninggalkan taman.

Malam harinya, aku bercerita.

"Aku tadi sore ketemu cowok. Aku tidak sengaja menabraknya. Orangnya, asli deh nyebelin banget."

"Awalnya bilang sebel, nanti ujung-ujungnya suka." Ledek, ibu.

"Ibu ini ada-ada saja."

"Biasanya kalau sebel itu. Lama-lama menjadi cinta."

Aku mengalihkan pembicaraan. Ibu supaya tidak membahasnya lagi.

Ayah hanya tersenyum, mendengar percakapan, aku dan ibu.

Keesokan harinya, aku ke kafe. Aku berpapasan dengan pria yang menurutku tidak asing. Dia menyapaku.

"Hai, cewek."

Aku sangat terkejut saat melihat wajahnya. Ternyata, dia yang kemarin kutabrak.

"Halo, kamu yang kemarin dari taman, kan?" tanyaku untuk memastikan.

"Iya benar. Namaku Yusuf. Kemarin belum sempat memperkenalkan diri."

"Bagaimana mau kenalan. Orang, kamu kelihatan marah."

"Sudahlah lupakan soal kemarin. Oh iya, siapa namamu?"

"Namaku Lina."

"Ok, salam kenal."

Lalu menjauh. Aku pun masuk ke dalam, memesan coklat panas dan roti bakar sebagai teman bersantai membaca novel.

Di tempat lain, Yusuf melamun, menyesali diri.

"Aku ini bodoh sekali si. Tadi tidak minta nomor ponselnya. Biar bisa berkomunikasi. Siapa tahu suatu saat menjadi jodohku," batinnya.

Ibunya bertanya.

"Ada apa, Nak? Kamu kok melamun?"

"Aku tadi di kafe bertemu cewek cantik yang kemarin menabrakku. Sayangnya, hanya berbincang sebentar."

"Kemarin ketemu, hari ini ketemu. Barangkali besok bisa ketemu lagi," celetuk ayah.

Ibu manggut-manggut tanda setuju.

Di malam minggu yang sejuk, Yusuf ke toko buku untuk menghilangkan rasa galau dan membeli novel.

Aku yang sedang membeli buku dongeng, berpapasan dengannya.

"Yusuf!"

"Eh, Lina. Aku tidak menyangka akan berjumpa denganmu di sini."

"Iya nih."

Di toko buku, aku bertukar nomor hp dengannya. Sejak saat itu, aku sering bertukar kabar dengannya. Tanpa sadar, rasa cinta tumbuh di hati.

Yusuf menyatakan cinta di taman, tempat pertemuan pertama aku dan Yusuf.

"Lina. Maukah kamu menjadi kekasihku? Melewati suka duka dan rintangan bersamaku sampai maut memisahkan kita."

"Aku mau menjadi kekasihmu karena aku juga mencintaimu."

Bunga-bunga pun ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan aku dan Yusuf. 

Komentar