DI DALAM SURAT INI

 Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang perjalanan hidup ini yang penuh makna.

Yang penuh dengan perjuangan untuk mendapatkan cinta.

Cinta yang abadi untuk selamanya.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang seluruh perasaanku.

Tentang selalu rindu yang menggelora dalam dada.

Rindu yang begitu kuat di dalam jiwa.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Sesungguhnya cinta ini hanya milikmu.

Tak ada yang lain di hatiku.

Aku di sini hanya setia untukmu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang segala rasa dalam hatiku.

Aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu terluka.

Aku tak pernah bermaksud untuk membuatmu kecewa.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Dari lubuk hatiku yang terdalam.

Akulah manusia biasa yang tak sempurna.

Yang masih mempunyai banyak salah dan dosa.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Permohonan maaf dariku untukmu.

Atas segala salah dan hilafku.

Yang terjadi tanpa kusadari.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Ku berharap engkau memaafkanku.

Aku berharap engkau memberi kesempatan untukku.

Untuk memperbaiki segala yang telah terjadi selama ini.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang segala renunganku, di sudut rumah yang sepi.

Rasa bersalah masih saja menghantui pikiranku.

Bagaikan lagu yang diputar terus menerus.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang rasa sedih, di sudut rumah yang sunyi.

Kumerasa putus asa untuk mendapatkan maaf darimu.

Serasa mengangkut batu yang sulit.


Di dalam surat ini kutiliskan untukmu.

Segala deritaku, di sudut rumah yang hening.

Saat ingin mengungkapkan rasa bersalah.

Namun, kau tak mau mendengarkanku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Di kala kulelah, di sudut rumah yang gelap.

Kumenangis seorang diri.

Meratapi kesalahan ini.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang kesulitanku, di sudut rumah yang dingin.

Rasa prustasi, yang kuhadapi.

Tak menemukan cara, untuk mengungkapkan apa yang ada di hati ini.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Rasa letihku ini, di sudut rumah yang sepi.

Kumeratapi kesedihan ini.

Hanya satu yang kumau, terimalah maafku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang harapanku padamu.

Yang kuminta bukan barang yang istimewa.

Kumohon terimalah maafku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang penyesalanku.

Atas semua salahku.

Kesalahan yang telah kubuat.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang beban yang kusandang.

Dari hatiku yang terdalam.

Kumengungkapkan maaf dengan penuh perasaan.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang keresahan yang ada di benakku.

Kungin kau tahu, aku sangat menyesal.

Karena, merasa bersalah padamu, besar sekali kesedihan yang kupikul.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang rasa gelisah yang kurasa.

Pagi, siang, sore, malam kumelamun.

Memikirkan bagaimana caranya, agar kau mau mendengarkan kata-kataku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang keinganku, yang satu ini.

Kuingin kau mendengarkan tentang apa yang terjadi.

Bukan malah menjauh seperti ini.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Rasa kesedihan dalam dada.

Betapa beratnya memanggul kesalahan ini.

Kau di sana tak mau mendengarkanku lagi.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang pertanyaan yang ada di pikiranku.

Apakah tak ada maaf untukku?

Walaupun hanya sedikit saja.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang pertanyaan yang menari-nari di benakku.

Apakah sudah tak ada lagi, kesempatan untukku?

Agar kubisa memperbaiki semua ini.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Betapa lelahnya diriku.

Berpikir terus menerus setiap waktu.

Untuk mencari cara, agar kau mau memaafkanku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Agar kau bisa mengerti, segala keluh kesahku.

Diriku kini terbayang-bayang kesalahan yang ada.

Yang terasa menyesakkan dada.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Betapa tersiksanya batin ini.

Selalu kumencoba, untuk mendapatkan maaf darimu.

Namun, belum jua kudapatkan jawaban darimu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Betapa pedihnya batin ini.

Saatku berupaya untuk mendapat maaf darimu.

Yang ada, kini kau acuhkanku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Kuberusaha menyapamu.

Kumengutarakan kata maaf denganmu.

Yang ada, kau kini mengabaikanku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Betapa perihnya hati ini.

Saat kau tak menghiraukan kata-kataku.

Kau tak mau merespons penjelasanku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Bahwa, aku selalu menanti saat-saat dimaafkan olehmu.

Aku yakin, kau mau memaafkanku, walaupun entah kapan waktunya.

Sebab, Tuhan saja mau memaafkan hambanya.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang isi hatiku.

Sejak pertama kali berjumpa, sampai detik ini, kita bersama.

Aku tidak pernah berniat untuk menduakanmu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Tentang bagaimana kumemahami dirimu.

Agar diriku tak melukai hatimu.

Agar tak melukai perasaanmu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Agar kau mau mendengarkan, apa yang kuingin utarakan.

Satu kalimat saja, yang ingin kungkapkan.

Maafkan diriku, segala salah dan dosaku.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Jika kau tak mau menerimaku kembali.

Setidaknya maafkanlah diriku ini.

Dari lubuk hatimu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Bahwa, aku bukanlah manusia yang sempurna.

Aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu.

Aku akan selalu berusaha, supaya menjadi yang terbaik menurutmu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Kata maaf yang tulus, dari dasar hatiku.

Aku akan selalu berusaha ada untukmu.

Dalam setiap langkahmu.


Di dalam surat ini kutuliskan untukmu.

Kuingin bersamamu, untuk melalui seggala cobaan.

Kuingin bersamamu, melelalui berbagai rintangan.

Sampai nanti maut memisahkan, kita.

Komentar