Di sebuah desa yang sangat sejuk, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, hiduplah seorang pemuda bernama Yusuf. Yusuf tinggal bersama kedua orang tuanya, yaitu Pak Parno dan Bu Parno. Yusuf adalah seorang pemuda yang riang dan semangat. Selalu tersenyum dan ceria. Namun, ada yang berbeda dengan pagi ini. Dia terlihat murung, seperti bunga yang layu. Sarapan saja tak semangat. Sampai-sampai ditanya Bu Parno.
"Kamu kok makannya tak semangat? Apa masakannya kurang enak?"
"Ini enak sekali, Bu," jawabnya sambil tersenyum.
Dirinya kurang konsentrasi dalam berpikir. Gara-gara jalan-jalan ke desa sebelah satu minggu yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, Yusuf tak sengaja melihat gadis cantik. Dirinya penasaran.
"Kenapa sih dia terlintas di benakku terus? Aku padahal tak kenal. Melihat aja cuma sekilas," batinnya.
Kebetulan, Yusuf punya kenalan di desa tersebut bernama Andre.
"Daripada terus terbayang tentangnya, mending tanya ke Andre. Siapa tahu kenal," pikirnya.
Yusuf beraksi, menuju ke desa sebelah naik sepeda kesayangannya.
"Assalamualaikum!" ucapnya dengan lantang.
Andre yang sedang bersantai di belakang rumah mendengar suara orang bersalam. Langsung bergegas menghampiri.
"Waalaikumsalam. Eh, Yusuf. Tumben bertandang ke gubukku? Ada angin apa ini?" ocehnya dengan ekspresi bahagia.
"Aku hanya ingin berkunjung. Sudah lama tidak bertemu denganmu."
"Oh, aku kira ada apa," kata Andre.
Yusuf tersenyum menanggapi perkataan Andre.
"Gimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat, aku dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Lama kita tak berjumpa."
"Alhamdulillah sehat. Nyatanya bisa sampai di tempat ini dalam keadaan selamat."
Mereka ngobrol banyak hal. Mereka saling melepas rindu, bernostalgia dengan masa sekolah saat di SD dan SMP. Sampai tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 12.00. Yusuf teringat tentang gadis itu kembali. Dirinya tak segan bertanya kepada sang sahabat.
"Andre, apakah kamu kenal dengan gadis cantik di kampung ini?"
"Gadis cantik siapa sih? Soalnya, di sini banyak sekali gadis cantik."
"Ciri-cirinya, wajahnya putih, cantik, hidungnya mancung, dia berjilbab."
"Oh, itu. Dia anak tetanggaku. Namanya Linatun Nisa. Dia sebenarnya sekolah di kota. Kalau hari Sabtu dan Minggu pasti pulang. Ini masih hari Kamis, ya belum pulang. Kan bukan tanggal merah."
"Kenalin dong."
"Gampang kalau itu. Kamu main ke sini aja, kalau hari Sabtu atau Minggu. Nanti, aku kenalin. Kebetulan lumayan akrab sama aku."
Yusuf manggut-manggut pertanda setuju.
Berhubung waktu sudah dzuhur, Yusuf dan Andre salat berjamaah di masjid. Setelah itu, Yusuf berpamitan.
"Terima kasih untuk waktunya ya. Sudah bersedia bincang-bincang denganku. Aku pamit dulu."
"Kok langsung pulang? Apakah tidak makan siang bareng dulu?"
"Tidaklah, terima kasih. Besok-besok kan aku main ke sini lagi."
"Salam buat bapak dan ibumu ya, Yusuf."
"Oke beres. Salam juga buat Pak Agung dan Bu Agung."
"Kalau bapak dan ibu sudah pulang, bakal kusampaikan. Ya sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan."
"Iya."
Yusuf hatinya sudah lega karena janji dari sahabatnya yang akan mengenalkan dengan gadis idamannya. Yusuf berlalu sambil bersenandung.
Sedang asyik-asyiknya bersenandung. "La-la. La-la. La-la. La-la." Langitnya sungguh gelap sekali, pertanda akan menangis. "Aku harus kencang mengayuh sepedanya agar tak terkena hujan," gumamnya dalam hati.
Akan tetapi, Yusuf sudah mengayuh sepedanya sekencang-kencangnya. Masih saja kalah dengan hujan. "Aduh, hujannya deras sekali. Udah gitu, aku tak membawa mantel," batinnya.
Ketika sedang bingung, sambil tolah-toleh mendeteksi, siapa tahu ada tempat untuk berteduh, netranya tak sengaja melihat pos satpam. Tanpa berpikir panjang, langsung bergegas ke tempat tersebut.
Baru berteduh sebentar, perutnya bernyanyi. "Kruyuk-kruyuk! Kruyuk-kruyuk!"
Di tempat lain, Andre merasa cemas. Mengirimi SMS. "Yusuf, apakah sudah sampai di rumah?"
Tak berselang lama, SMS-nya terbalas. "Aku belum sampai rumah. Masih di pos satpam, numpang berteduh."
"Kok bisa si?"
"Semua ini salahku. Tak membawa mantel untuk jaga-jaga kalau ada hujan tiba-tiba."
"Aku pinjami mantel, ya!"
"Sudah tak usah. Barangkali hujannya cuma sebentar."
Andre bukannya membalas SMS Yusuf, dirinya langsung meluncur ke pos satpam naik sepeda. Yusuf yang mendengar langkah kaki sedang mendekat ke arahnya, mengecek dengan cepat. Setelah tahu Andre yang datang, Yusuf mengomel.
"Aku kan sudah bilang tak usah datang. Paling-paling hujannya hanya sebentar."
"Itu kan baru dugaanmu. Iya kalau batinmu benar, kalau prediksi kamu salah. Kamu nungguin hujan sampai sore di sini, terus menahan lapar. Ujung-ujungnya jadi sakit, bisa bahaya."
"Sakit paling sebentar."
"Dibilangin kok ngeyel. Ayolah nurut. Kalau ngeyel, perkenalan sama Linatun Nisa aku batalkan."
"Ya janganlah."
"Kalau ingin terlaksana untuk mengenal Linatun Nisa, pakai mantelnya sekarang! Habis itu, kita cari makan."
Yusuf menuruti perkataan Andre. Mereka menikmati bakso di desa Yusuf.
Saat mereka menunggu pesanan, ponsel Yusuf berdering. Telepon dari Bu Parno.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Maaf, Nak. Di toko siang ini sedang ramai pembeli. Bapak dan Ibu tidak bisa pulang ke rumah untuk menemani makan siang. Kamu makan sendiri, ya."
"Ibu tak usah khawatir. Aku sedang makan di luar dengan Andre."
"Kamu hujan-hujanan?"
"Aku pakai mantel kok, Bu."
"Oh, ya sudah."
"Iya, Bu."
Setelah telepon selesai, pesanan mereka sudah siap.
"Kalau makan bakso denganmu jadi teringat waktu masih sekolah."
"Iya benar. Kita dulu sering makan bakso bareng. Rasanya sangat bahagia. Lebih bahagia lagi jika bareng Linatun Nisa," timpal Yusuf.
"Ya sabarlah. Kalau ingin mendapatkan apa-apa itu pasti ada prosesnya. Begitu pula dengan menaklukkan hatinya Linatun Nisa."
"Ya iya sih. Ngomong-ngomong kapan nih bikin lagu baru?"
"Nanti malam rekaman lagu baru. Bagaimana dengan novelmu?"
"Wah, keren dong. Kira-kira lagunya tentang apa? Untuk novelku baru saja selesai, yang kubikin di bulan ini."
"Lagunya bertemakan patah hati. Kalau novelmu tentang apa?"
"Novelku juga tentang patah hati. Kayaknya cocok kalau dijadikan film, soundtrack-nya menggunakan lagumu."
"Aduh, Yusuf. Dari dulu karyanya tentang patah hati terus. Coba aja, sekali-kali bikin novel romantis. Suatu saat, siapa tahu bisa terjadi. Ada film dari novelmu, soundtrack-nya dari laguku."
"Amin. Semoga, ya. Suatu saat. Karyaku tentang patah hati karena belum memiliki pujaan hati," jawabnya dengan asal.
"Dari dulu kebiasaan banget kalau menjawab asal-asalan."
Yusuf hanya nyengir. Saking asiknya berbincang, makanannya pun habis tak tersisa. Yusuf membayar semuanya.
"Berapa semuanya?"
"Sudah, tak usah. Simpan saja uangmu."
"Terima kasih, ya."
"Iya, sama-sama."
Andre berpamitan. "Aku pulang, ya."
"Tak mampir dulu?"
"Tidaklah. Lain kali saja."
"Hati-hati, ya. Jalanan licin. Naik sepedanya pelan-pelan saja."
"Ok, siap."
Mereka berdua pun berpisah, kembali ke kediaman masing-masing.
Di hari Jumat pagi. Sang mentari hadir ke bumi, dengan tersenyum begitu manis.
Yusuf mencuci pakaian. Milik ayahnya, ibunya, dan miliknya.
Di kota. Yang jaraknya lumayan jauh. Linatun Nisa sedang membaca novel. Sembari menikmati roti coklat.
"Sangking cintanya sama novel. Sarapan aja sambil baca novel."
Komentar teman sebangkunya. Yang bernama, Ana.
"Ini ceritanya seru. Mumpung belum masuk. Aku mau menikmati roti, sambil baca cerita ini. Soalnya, ni sudah bagian terakhir."
"Emang karyanya siapa sih? Kamu kayaknya seneng banget baca ceritanya? "
Sebelum menjawab pertanyaan, Ana.
Terlebih dahulu, Linatun Nisa menutup bukunya. Karena, telah terbaca sampai selesai.
"Ini novel karyanya, Yusuf Love. Aku suka dengan ceritanya, walaupun kisah Patah Hati. Akan tetapi tidak membosankan. Oh iya, An. Nanti sore, tolong temani ke toko buku! Kira-kira, kamu bisa atau tidak?"
"Maaf, Lin. Aku tidak bisa menemanimu ke toko buku. Aku nanti sore ada les boga. Emangnya mau cari buku apa sih?"
"Novel terbaru dari, Yusuf Love. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Aku nanti ke sana sendiri."
"Coba aja besok pagi perginya. Aku bisa menemanimu kalau besok."
"Aku besok pulang. Makanya nanti sore ke toko bukunya. Biar bisa untuk llhiburan di rumah. Selain itu, siapa tahu bisa untuk referensi menulis."
"Ya udah kalau gitu. Maaf tidak bisa menemani."
Linatun Nisa mengangguk. Isyarat mengerti dengan keadaan, Ana. Yang tidak bisa mengantar ke toko buku.
Bel masuk pelajaran telah berbunyi. Sang guru pun telah datang.
Seluruh siswa duduk di bangku masing-masing. Untuk mengikuti pelajaran bahasa Inggris.
Di tempat lain. Andre mengirim SMS.
Komentar
Posting Komentar