MENAKLUKKAN HATI WANITA 02

Andre mengirim SMS kepada, Yusuf.

"Klunting!"

Sang pemilik HP belum mengetahui. Kalau ada pesan masuk.

Usai menjemur pakaian, Yusuf sarapan pagi dengan, ayah dan ibunya.


"Kamu sudah kembali ceria. Tak murung seperti kemarin. Apa yang membuatmu kembali ceria?" Selidik, bu Parno.


"Mungkin kemarin sedang rindu dengan sang kekasih. Makanya terlihat lesu. Tanpa semangat sedikitpun. Kemarin menemui, Andre. Sekalian berkunjung kepada kekasihnya, ya?" Balas, pak Parno.


"Kalau kekasih belum ada. Doakan, ya. Biar cepat dapat kekasih hati," jawab Yusuf.


Dirinya tak menceritakan. Hatinya begitu berdesir, ketika tak sengaja melihat, Linatunnisa.


"Tanpa diminta. Kami selalu mendoakanmu," jawab bu Parno.


Selesai berbincang dengan kedua orang tuanya, ia pamit untuk ke kamar.


"Aku mau ke kamar, ya."


"Iya, nak. Kami juga mau ke toko," ujar bu Parno.


Pertama kali membuka HP, langsung terpampang pesan dari Andre. Yusuf langsung membukanya.


"Halo."


"Hai, maaf ada apa?"


"Maaf ganggu waktunya. Aku nanti malam mau mengadakan konser. Kamu mau nonton atau tidak?"


"Aku nanti malam mau bikin novel baru. Siapa tahu dapat satu bab, biar besok bisa bertandang ke rumahmu."


"Oh, ya sudah. Selamat menulis. Kira-kira cerita romantis atau patah hati?"


"Biasalah, cerita patah hati. Walaupun tak bisa hadir untuk menyaksikan, aku doakan semoga konsernya lancar."


"Amin. Terima kasih doanya."


"Iya, sama-sama."


Jam istirahat, Linatunnisa menikmati siomai di kantin.


"Tumben pesan siomai? Biasanya pesan mie ayam?"


"Tidak, An. Aku lagi pingin siomai. Kamu pesan apa?"


"Aku pesan bakso dan es jeruk. Kamu minumnya es kelapa muda, ya?"


"Iya, betul."


Setelah istirahat, mereka ada pelajaran sejarah.


"Ini adalah salah satu pelajaran kesayanganku," ucap Linatunnisa dalam hati.


Sang guru menerangkan tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Linatunnisa dan Ana menyimak dengan antusias. Ketika merasa penasaran dengan materi tersebut, tidak sungkan untuk bertanya.


Yusuf mengecas laptopnya di siang itu. Pasalnya kehabisan baterai gara-gara semalam menonton film horor. Jam terus berputar, waktu pun telah berganti. Sore menjadi senja.


Linatunnisa pergi ke toko buku terdekat. Di sana, ia langsung mendapatkan bukunya tanpa harus susah-susah menelusuri satu per satu dari rak ke rak di toko itu. Ia pun tersenyum amat manis.


"Hore! Aku dapat bukunya!" jeritnya dalam hati.


Yusuf yang sedang refreshing agar mood-nya baik, pergi ke Cafe Love. Di sana, ia menikmati coklat panas dan kue brownies. Setelah puas menikmati hidangan di cafe, ia menikmati pantai yang indah. Pantai itu bernama Cemara Sewu, sebab banyak pohon cemara yang mengelilingi pantai tersebut.


"Pantai ini sangat indah. Hawanya sejuk. Suasananya menyenangkan," bisiknya.


Suara azan berkumandang. Waktu maghrib telah tiba. Yusuf langsung bergegas mencari masjid untuk menunaikan kewajibannya serta memohon ampun kepada yang Maha Kuasa. Sesudah itu, ia pulang dengan pikiran yang lebih segar agar lebih lancar untuk menggarap karyanya. Ketika sampai, sudah disambut kedua orang tuanya di teras.


"Bagaimana jalan-jalannya, nak? Apakah menyenangkan?"


"Alhamdulillah menyenangkan. Ayah dan ibu di sini sedang apa?"


"Sedang santai. Di dalam rumah bosan. Sudah begitu rasanya panas. Padahal sudah menyalakan kipas masih aja tetap kurang dingin," jawab bu Parno mewakili suaminya.


Jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Yusuf membuka laptopnya dan mulai menggarap novel terbarunya. Kata demi kata mengalir dengan lancar, bagaikan air sungai yang mengalir.


Di alun-alun kota, Andre sudah berada di atas panggung dengan gitar kesayangannya. Pak Agung dan Bu Agung berada di barisan paling depan, demi memberi semangat pada anak semata wayangnya. Ketika lagu pertama dimainkan, suara Andre yang sangat merdu serta petikan gitar yang memukau membuat penonton bersorak riuh dan memberikan tepuk tangan.


Di tempat yang berbeda, Linatunnisa menghubungi kakak lelakinya yang bernama Sandi.


"Halo, kenapa, Dik?" tanya Sandi.

"Abang besok bisa jemput atau tidak?" tanya Linatunnisa.

"Bisa, Dik. Kamu jam 05.00 sudah siap, ya. Karena, abang bisanya jemput pagi. Biasalah, siangnya harus bekerja."

"Baik, Abangku tersayang."

"Kebiasaan banget sih. Bilang sayang kalau ada maunya," gerutu Sandi di telepon.

Linatunnisa hanya tertawa. "Haha! Haha!"


Telepon pun diakhiri.

"Sampai bertemu besok, ya, Bang."

"Iya, Dik."


Linatunnisa dengan semangat menyiapkan segala keperluannya, yaitu novel terbaru miliknya, dompet kesayangannya, charger, headset, parfum, dan sisir, serta pakaian kotor yang sudah disediakan dalam tas besar.


Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam. Yusuf awalnya hanya ingin menulis dua bab. Namun, yang terjadi di luar dugaan, ia berhasil menulis lima bab.

"Ini benar-benar luar biasa. Padahal baru pembukaan. Aku pikir hanya bisa menulis dua bab. Ternyata, sampai lima bab."


Sehabis itu, Yusuf menutup laptopnya, memasang alarm di HP, lalu tidur.


Andre telah menyelesaikan konsernya. Lagu-lagunya yang dinyanyikan sangat enak didengarkan. Kehadiran kedua orang tuanya membuat perasaannya berbunga-bunga, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Yusuf lebih senang menulis di malam hari. Sebab, hawanya lebih sunyi dan lebih nyaman untuk membuat kata-kata menjadi indah. Meskipun sering tidur malam, Yusuf selalu bangun pagi untuk melakukan salat subuh.


Suara ayam berkokok dan burung berkicau menandakan waktu sudah pagi.


Pada pukul 05.00 pagi, Andre mengirim SMS kepada Yusuf.

"Pagi."

"Pagi kembali."

"Kamu mau ke sini jam berapa?"

"Kalau kamu hari ini mau istirahat, aku ke situnya besok aja."

"Ok. Jam 07.00 pagi, ya. Kamu datangnya."

"Ok, siap."


Linatunnisa mengirim pesan kepada Sandi.

"Aku udah siap nih, Bang."


Tanpa menunggu balasan, HP-nya langsung dimasukkan ke dalam tas agar tidak ketinggalan. Setengah jam kemudian, Sandi sudah sampai di asrama.

"Ini apa yang di dalam tas, Dik?"

"Itu baju kotor, Bang. Minggu ini kegiatanku padat banget. Tidak sempat mencuci pakaian."

"Oh, gitu. Cek kembali barang-barangmu! Agar tidak ketinggalan."

"Aman kok. Tidak ada yang ketinggalan."

"Sudah pamitan atau belum, Dik?"

"Sudah, Kak."


Dalam perjalanan pulang, Linatunnisa bercerita banyak hal. Mulai dari kegiatannya di asrama sampai tentang novel terbaru yang dibelinya.


Pagi itu, bu Ahmad sibuk di dapur menyiapkan sarapan.

"Sandi pergi ke mana, Bu? Apakah sudah berangkat kerja?" tanya Pak Ahmad sambil menikmati secangkir kopi.

"Dia sedang jemput adiknya. Dia berangkat kerja seperti biasa, sehabis sarapan bareng kita," jawab sang istri.


Sesudah memasak, bu Ahmad duduk di teras. Menunggu kedatangan anaknya.


Sesampainya di rumah, Linatunnisa mendapat pelukan hangat dari ibunya.


"Wah, kamu itu bawa apa? Kok kayanya banyak banget, sampai bawa tas besar segala," kata ibunya.

"Ini pakaian kotor. Aku kemarin belum sempat nyuci. Kegiatanku banyak banget," jawab Lina.

"Ya sudah. Nanti ibu cucikan."

"Tidak usah, Bu. Aku mau nyuci sendiri."

Bu Ahmad mengalah, membiarkan anaknya mencuci sendiri.

"Sebelum mencuci, makan dulu ya, Nak."

"Iya, Bu."


Mereka sarapan dengan khidmat. Usai sarapan, Sandi berangkat kerja.


"Bapak, Ibu, aku berangkat dulu ya," pamit Sandi.

Pak Ahmad dan Bu Ahmad mengangguk secara bersamaan.


"Aku tidak dipamiti, Bang?" tanya, Lina.

"Tidak usah," jawab Sandi sambil mencubit pipi, Lina.

"Kebiasaan banget sih, main cubit aja." keluh, Lina.

"Soalnya, pipimu tembem. Terasa gemesin," ujar Sandi sambil berlalu.

Linatunnisa hanya bisa cemberut.


Lalu, ia pergi ke belakang untuk mencuci piring yang baru saja digunakan. Setelah itu, ia mencuci pakaiannya sendiri. Yusuf yang bingung di rumah tak ada kerjaan, memutuskan untuk jalan-jalan. Kali ini tempat wisata yang dipilih adalah taman bunga dan pantai Cemara Sewu.


"Pada akhirnya selesai juga mencuci pakaianku yang segunung. Aku habis ini mau membaca novel baru," gumam Lina.


Walaupun di rumah sendirian, ditinggal kedua orang tuanya bekerja, Linatunnisa tidak kesepian.


"Andaikan saja jalan-jalanku bersama, Linatunnisa, pasti terasa lebih menyenangkan. Sayangnya, kenalan dengannya saja belum terlaksana," batin Yusuf sambil menikmati bunga-bunga yang indah.


Setelah puas menikmati aneka bunga, ia menikmati suasana pantai yang menyenangkan, membuat hatinya tenang. Linatunnisa benar-benar membaca novel dengan asyik. Saking asyiknya, sampai-sampai melupakan ponselnya yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Ia tidak memperdulikan SMS dari teman-temannya, bahkan tidak menelpon teman-temannya satupun.


Sampai tanpa terasa, azan zuhur berkumandang memanggil dirinya untuk menunaikan kewajibannya.


Yusuf yang masih berada di pantai mulai mencari masjid.

Selesai shalat. Yusuf menikmati makan siang dengan udang dan cumi.


Yusuf memutuskan untuk pulang.

Andre baru bangun.

"Untung saja tidurku tidak sampai sore."

Berhubung perutnya sudah bernyanyi. Dirinya membuka tudung saji. Melihat, apakah di sana ada makanan.

Ada sup bakso dan ayam goreng.

"Alhamdulillah. Rasa laparku bisa terobati."

Yusuf sampai di rumah langsung membuka leptop. Menuangkan pengalamannya saat rekreasi.

"Kutuliskan kisah ini. Agar selalu teringat dengan momen yang menyenangkan ini."

Di sore harinya. Lina mengangkat jemurannya dan melipatnya serapi mungkin.

Sandi datang dengan membawa buah tangan. Untuk sang adik.

"Udah pulang, bang?"

"Iya, dik."

"Itu bawa apa?"

"Ini hadiah untukmu."

"Hadiah apa?"

"Silakan dibuka.!"

Sambil menyerahkan bungkusan ke tangan, adiknya.

"Abang baik sekali. Sudah membelikan es cream kesukanku."

Sandi hanya tersenyum.

Meninggalkan, Lina. Yang sedang sibuk dengan es cream kesayangannya.

Pada malam itu di desa mereka ada pasar malam. Lina dan Sandi mengunjunginya.

"Enaknya naik wahana apa, ya, dik?"

"Gimana kalau naik kora-kora? Kayanya asyik, bang?"

Sandi menuruti keinginan sang, adik.

Mereka naik kora-kora. Sampai benar-benar puas.

"Mau mencoba wahana apa lagi, dik?"

"Gimana kalau berkunjung ke rumah hantu?"

"Emangnya berani?"

"Ya beranilah."

Berbagai wahana yang terlihat menarik pun. Mereka naiki dengan rasa gembira.

Tanpa terasa waktu sudah larut. Mereka meninggalkan pasar malam. Dengan ekspresi bahagia.


Yusuf asyik menulis di kamar, sambil mendengarkan musik. Bu Parno pun bertanya.

"Kamu tidak jalan-jalan, nak?""

"Tidak, bu."

"Aduh, kamu itu, yang lain pada jalan-jalan. Kamu malah malam mingguan sama leptop."

"Yang lain jalan-jalan itu dengan pasangannya, bu. Aku kan tidak punya pasangan. Kalau keluar, lihat orang dengan pasangannya masing-masing. Aku bisa-bisa kepingin, sedangkan gadis incaranku belum berhasil didekati."

Mendengar keluh kesah sang anak. Bu Parno hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk, Yusuf. 

Komentar