Panda Dan Pohon Bambu

 Di Desa kayu coklat ada dua ekor panda bernama, lala dan tara, mereka sedang bersedih, gegara pohon bambu di seluruh Desa pada mati, di sambar petir, saat terjadi hujan petir sangat dahzat.

"Lala ini bagaimana? Kita nanti mau makan apa? Semua pohon bambu pada mati dan gosong."

"Tara jangan khawatir, kita masih punya persediaan daun bambu, untuk makan sampai besok pagi."

"Itu kan besok pagi. Terus besok siang, kita makan apa?"

"Untuk besok siang sebaiknya, kita pikirkan besok saja."

Mereka pun menghabiskan waktunya di gubuk, di mana-mana banyak genangan air, akibat hujan semalam. Mereka sedang tidak ingin terkena genangan air yang ada di sepanjang jalan karena, mereka sedang kedinginan. Waktu terus berputar, hari telah berganti. Pagi itu matahari menyapa bumi dengan tersenyum, lala dan tara sedang menikmati sarapan sambil bercakap-cakap.

"Lala habis sarapan, kita ke Desa sebelah yuk!"

"Ke Desa sebelah emang mau ngapain?"

"Jalan-jalan sambil cari makanan, siapa tahu di Desa sebelah ada pohon bambu yang tidak mati. Sehingga, kita bisa mengambil daunnya, untuk makan siang dan makan malam." Jelas, tara.

Lala mengangguk mengiyakan dengan tersenyum manis. Mereka pun berangkat menuju Desa kayu hijau, mereka mengobrol sambil menelusuri jalan, yang dibahas banyak sekali, mulai dari tentang petualangan yang penuh rintangan sampai tentang pertemanan dengan berbagai binatang. Tiba di Desa sebelah, mereka disambut oleh kawannya yang bernama, sisi. Sisi merupakan, panda yang baik hati dan suka menolong.

"Kalian pasti sedang mencari makanan, ya? Sampai-sampai berkunjung ke Desa ini, siang-siang kaya gini."

"Iya, sisi benar banget, kita sedang mencari makanan. Barangkali di tempat ini ada pohon bambu yang tidak mati."

"Sayang seribu sayang, di sini pohon bambu pada gosong, semuanya tersambar petir, sama seperti di Desa kayu coklat. Namun, kalian jangan bingung, aku punya solusinya."

Mendengar hal itu, lala dan tara wajahnya berbinar.

"Kira-kira apa solusinya, sisi?"

Tanpa ragu, sisi membagikan bibit pohon bambu dan persediaan daun bambu miliknya.

"Tanamlah bibit ini di tempat tinggalmu dan sekitarnya! Terus ini untuk persediaan makan, kalian sampai pohon bambunya tumbuh lagi."

"Kamu mau makan apa emangnya? Kalau ini dibagikan sama, kita."

"Kalian jangan khawatir, aku masih punya buat persediaan. Aku juga habis ini mau nanam pohon bambu, menggantikan pohon yang pada mati."

"Sisi terima kasih banget, kita sudah dibantu."

"Iya sama-sama."

Setelah itu, mereka berpamitan agar tidak ke sorean pulangnya. Lala dan Tara langsung menanam pohon bambu dengan semangat tanpa lelah. Mereka usahanya nanam pohon bambu tidak sia-sia, tanamannya tumbuh subur. Lala dan Tara sudah tidak bingung lagi, kalau lapar bisa memetik daun bambu sepuasnya.

Selesai

Komentar