Pada siang yang terasa sangat panas, bagaikan melewati bara api. Lina, Putri, dan Intan baru pulang sekolah. Mereka mampir ke penjual minuman untuk menghilangkan rasa dahaga yang dirasakannya. Lina memesan susu coklat, Putri memesan coklat panas, dan Intan memesan teh hangat. Mereka menikmati minuman sambil duduk di bangku yang terlindungi oleh pohon rindang, sambil membahas banyak hal, salah satunya cerita horor tentang kuntilanak dan pocong.
"Konon katanya, pohon beringin yang ada di belakang kos-kosan itu ada pocongnya, ya?" kata Lina.
Udara terasa sepoi-sepoi di siang itu, mereka semakin betah, duduk dan berbincang di bangku bawah pohon.
"Itu sih bukan hanya pocong, kunti juga ada di sana." jawab Putri.
"Kalian emang tahu dari mana?" tanya Intan.
"Kita sih dengar dari para kakak senior." sahut Putri.
Intan, yang kurang mengerti dengan kisah itu, hanya menjadi pendengar saja.
"Mereka berarti tinggal di pohon yang sama?" tanya Lina lagi.
"Ya, tidaklah, Lin. Pohonnya kan ada dua—yang kiri dihuni pocong, yang kanan dihuni kunti."
"Oh, ternyata sendiri-sendiri tinggalnya."
"Iya, Lin."
Tanpa terasa, suara azan Asar berkumandang, mereka pun bubar menuju kamar masing-masing. Meskitinggal di kosan yang sama, tetapi tidak sekamar, mereka kebetulan sekelas. Bersekolah di SMA pinggiran kota, dan masih kelas sepuluh.
Pada sore harinya, mereka masih aman-aman saja, belum terbayang apa-apa.
"Kunti nanti malam menakuti, mereka bertiga yuk!"
"Iya, cong biar pada kapok. Soalnya, mereka sudah ngomongin, kita."
Pocong dan Kunti menysun setrategi untuk membuat, mereka jera. Kunti walaupun hobinya duduk di pohon beringin, dia tidak pernah mengganggu siapapun. Pocong juga sama, tidak pernah mengganggu sama sekali.
Namun, pada malam harinya, mereka mulai terbayang sosok kunti dan pocong. Padahal, ada teman sekamar, mereka tidak sendirian, karena satu kamar dihuni oleh dua orang.
Lina terbayang pocong yang mukanya hancur dan matanya melotot dengan garang. Ia merasa ketakutan dan membaca doa sebisanya. Putri terbayang kunti yang sedang melayang-layang dengan wajahnya yang hancur. Ia juga merasa ketakutan dan membaca doa yang diingatnya dengan susah payah. Intan terus terbayang wujud pocong yang mirip seperti guling, sedang lompat-lompat, serta kunti yang melayang-layang. Ia berusaha menenangkan diri dan terus berdoa, sampai akhirnya rasa takutnya perlahan menghilang.
Mereka tidak tahu, kalau malam itu, pocong dan kunti sedang keliaran. Memberi pelajaran pada, mereka agar tidak usil. Lalu kalau para hantu tidak mengganggu manusia, harapannya manusia tidak iseng sama para hantu.
Pada keesokan harinya, mereka berangkat sekolah bareng, sambil membahas kejadian yang dialaminya.
"Aku kapok, semalam beneran kebayang itu hantu." ucap Lina.
"Aku juga sama, semalam kebayang-bayang terus, Lin." sambung Putri.
"Semalam asli ngeri banget, aku ikutan kebayang itu hantu." terang Intan.
"Kita lain kali jangan bahas hantu lagi, mending bahas makanan atau yang lainnya." tambah Putri.
"Nah, benar itu, aku setuju banget." sahut Intan.
Lina mengangguk, memahami usulan kedua sobatnya. Mereka pun berniat tidak akan membahas pocong dan kunti lagi.
*Selesai
Komentar
Posting Komentar