MENAKLUKAN HATI WANITA 07

Di sepanjang perjalanan, Ana menggoda sahabatnya tanpa henti.


"Cie-cie, senangnya yang habis dapat kenalan baru, udah gitu orangnya cakep."

"Apa si, aku cuma berteman aja, lagian juga baru kenal."

"Pertama si kenal dulu, habis itu sahabatan, terus pendekatan, ujung-ujungnya saling cinta."

"Belum apa-apa, kamu kok udah ngacau kaya gini. Kaya tidak ada hal lain yang dibahas aja si."

"Ada yang dibahas, yaitu tentang gadis dan pemuda yang kenalan akibat tabrakan saat mencari novel."

"Kamu kurang kerjaan banget, bahas itu terus. Mending mbok bahas makanan, tempat wisata, atau bahas tanaman."


Ujar, Lina dengan wajah yang memerah, bagaikan udang rebus.


"Aku tidak ingin bahas hal lain, pinginnya bahas tragedi di toko buku."

"Ana tidak asyik deh, asli nyebelin banget."


Gumam, Lina dengan cemberut, padahal dalam hatinya, entah mengapa berdebar-debar. Ana senyum-senyum, bahagia banget bisa godain, Lina seperti menikmati makanan kesukaannya. Bus yang ditumpangi, mereka telah sampai di tujuan. Ketika di asrama, Lina dan Ana beristirahat. Buku yang dibeli belum dibaca, diletakan dengan buku yang lain, untuk dibaca minggu depan. Yusuf di dalam angkutan umum yang melewati Desanya, pikirannya melayang-layang, memikirkan pertemuannya di toko buku.


"Aku kok kurang yakin, ya kalau itu gadis yang pernah kulihat di Desa. Aku sebaiknya tanya, Andre biar lebih pasti. Kalau tak tunjukan nomor telponnya, Andre barangkali tahu tentangnya."


Yusuf mengakhiri lamunannya, agar tidak kebablasan ke Desa sebelah yang lumayan jauh, atau kebablasan di Kecamatan sebelah. Pada sore harinya, Yusuf menghubungi sahabatnya melalui SMS tanpa basa-basi.


"Andre sore ini apakah dirimu ada di rumah?"

"Iya, aku ada di rumah ni, kalau mau main datang aja. Kebetulan, aku habis bikin rujak, rasanya seger banget. Kita bisa makan bareng."

"Ya sudah kalau gitu, aku mau ke situ sekarang juga."


Yusuf langsung bergegas ke rumah, Andre dengan semangat yang luar biasa, dengan sepeda kesayangan. Yang membuatnya semangat, bukan karena rujak yang enak. Akan tetapi ingin menceritakan apa yang dialaminya di toko buku, saat berburu novel. Andre duduk di teras, sudah menyiapkan mangkuk, gelas, sendok, rujak sebaskom, air seteko untuk makan bareng. Yusuf sampai di kediaman sahabatnya secepat kilat, dengan keringat bercucuran.


"Kamu belum mandi apa gimana si? Kok sampai berkeringat kaya gitu, untungnya tidak bau kecut."

"Aku tadi ngebut, makanya sampai berkeringat begini."

"Kaya mau tak tinggal pergi, terus takut tidak ketemu lagi, sampai ngebut segala. Aku masih di Desa ini tidak kabur ke mana-mana."

"Aku ada yang ingin tak ceritakan denganmu, makanya langsung meluncur ke sini, secepat yang kubisa."

"Ya sudah istirahat dulu sambil makan. Kalau sudah selesai, kamu boleh cerita apa saja dengan puas."


Yusuf pun manggut-manggut, menuruti kata sahabatnya. Mereka makan dengan nyaman di teras yang terasa semilir, benar terasa menyejukan hati. Selesai makan, Andre mempersilakan kawannya bercerita, agar perasaannya lega. Yusuf pun mulai berkicau, tentang apa yang terjadi padanya.


"Aku tadi di toko buku bertemu seorang gadis, wajahnya mirip, Lina yang berpapasan denganku di Desa ini beberapa minggu yang lalu, namanya pun sama. Aku sempat bertukar nomor hp, aku berniat tanya denganmu, apakah benar itu nomornya, Lina gadis incaranku?"

"Jujur aja, ya Suf walaupun diriku mengenalnya, aku tidak punya nomornya. Sekarang gini aja, kamu sempat tanya, dia berasal dari mana atau tidak? Soalnya, Lina yang berasal dari Desa ini hanya satu, ya gadis incaranmu itu."

"Dia menyebutkan Desa pinggir sawah si pas kutanya, sedangkan yang dimaksud adalah Desa ini. Aku takutnya yang bernama, Lina ada beberapa di Desa ini."

"Di Desa ini, Lina hanya ada satu. Kamu beruntung bisa berkenalan langsung, benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba. Kamu sudah kenal dengannya, aku berarti sudah tidak punya hutang padamu." Crocos, Andre.


Yusuf mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


"Senyummu sok manis padahal tidak ada manis-manisnya."


Saat asyik mengobrol, Sandi bergabung, gara-gara ingin main malah ada Yusuf di sana. Sandi berkenalan hitung-hitung biar temannya semakin banyak.


"Siapa namamu sobat?"

"Yusuf namaku salam kenal, ya, bang."

"Iya salam kenal juga, Sandi namaku, aku teman mainnya, Andre di Desa ini."

"Aku teman dekatnya, Andre sejak Sd, bang."

"Wajahmu kok mirip banget si sama penulis novel Kau Lukai Hatiku, ya? Ini memang kebetulan apa gimana si?"


Andre yang menjawab pertanyaan, Sandi dengan semangat, bagaikan sedang promosi dagangan.


"Dia memang penulisnya, San bukan hanya kebetulan mirip. Kalau, kamu penggemarnya atau memang, dia penulis vaforitmu. Kamu bisa minta tanda tangan sekarang juga."

"Yang senang banget sama karyanya, Yusuf Love itu adikku bukan diriku. Adikku itu sampai ingin minta tanda tangannya kalau bisa berjumpa. Ternyata orangnya teman dekat, Andre dan diriku pun bisa kenal."

"Lina bakalnya berjumpa terus, bukan hanya tanda tangan yang diperoleh, tetapi tanda cinta dan kesetiaan."

"Kamu itu bisa aja kalau bercanda." Sambung, Sandi.

"Aku beneran kok, kita tinggal tunggu aja, pasti bakalnya terjadi."


Jelas, Andre dengan sungguh-sungguh. Sandi tertawa, melihat tingkah temannya, yang sok serius. Yusuf hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Tidak ada uang jatuh, jangan menunduk!"

"Aku tidak cari uang jatuh, aku hanya lagi baca SMS aja."

"Sudah jangan banyak alasan. Kelihatan kok ekspresi malu-malunya." Ledek, Andre.

"Sudahlah tidak usah malu, kita lama-lama juga bisa akrap kok."

"Iya, bang Sandi."


Sandi tidak tahu kalau yang membuat, Yusuf wajahnya merah itu perkataan, Andre yang ceplas-ceplos tanpa permisi. Waktu mulai senja, ketiganya pun berpisah. Yusuf tidak lupa bertukar nomor hp dengan, Sandi agar bisa ngobrol kapan saja. Yusuf ke Desanya dengan ngebut, sampai di rumah, 5 menit sebelum azan maghrib.


Lina tidak mengalami sakit yang membahayakan, saat terjatuh gegara tabrakan tadi di toko buku. Yusuf mencoba menyapa, Lina lewat SMS, sehabis shalat isya sambil membuka laptop. Persiapan menulis cerita baru, kali ini tentang cinta bukan tentang patah hati..


"Assalamualaikum."


Lina tidak langsung membuka pesannya, padahal tahu hp-nya ada sms. Yusuf menatap layar hp, belum ada balasan SNS. Dua hari kemudian, pesannya baru direspons.


"Waalaikumsalam."

Yusuf hatinya riang saat membalasnya, tanpa berlama-lama, Yusuf langsung mengirim pertanyaan.


"Gimana pas jatuh kemarin? Apakah ada yang terasa sakit?"


Yusuf rupanya harus sabar, menunggu jawaban, bagaikan menunggu tanaman yang berbuah. Lina sibuk menjalani ujian sekolah, tidak sempat membuka hp. Lina baru membalas pesan pada hari minggu pagi.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang sakit."

"Ya syukurlah kalau gitu, aku senang mendengarnya."


Hanya itu isi pesannya, tidak menjelaskan alasannya baru membalas. Yusuf dalam hatinya merasa emosi, ditunggu sampai berhari-hari, pesan balasannya hanya berisi satu kalimat. Namun, Yusuf berusaha mengerti, Lina sedang beradaptasi, karena baru mengenal dirinya. Yusuf ingin sekali menaklukan hatinya, Lina yang seperti salju, supaya mencair. 

Komentar