Yusuf di pagi itu sudah siap-siap dan terlihat rapi. Membayangkan betapa senangnya akan bertemu Linatunnisa. Pak Parno yang memergoki Yusuf akan pergi pun bertanya.
"Kamu mau ke mana? Pagi-pagi kok sudah ingin pergi?"
"Ingin jalan-jalan biar sehat, yah."
"Jalan-jalan ke mana sih? Kok penampilanmu seperti mau menemui seseorang?"
"Jalan-jalan di sekitar rumah. Terus mau main ke tempat Andre."
"Ke rumah Andrenya nanti sore saja. Sekarang jaga toko. Ayah dan ibu mau pergi sampai siang."
Yusuf hanya mengangguk, mengiyakan. Ia bersedia menjaga toko sampai siang, walaupun merasa kecewa. Rencananya gagal.
Linatunnisa sedang asyik menulis puisi di bawah pohon, yang suasananya masih sangat asri. Burung-burung berkicau saling bersahutan satu sama lain, terbang melewati pepohonan. Membuat suasananya semakin indah.
Andre menunggu kedatangan Yusuf di depan rumah, sembari membaca majalah.
"Yusuf kok belum kelihatan batang hidungnya sih. Dia padahal kemarin bilang mau datang hari ini. Aku SMS saja apa, ya," gumam Andre.
Yusuf HP-nya bunyi pas sedang ramai pembeli. Jadi, tidak sempat membuka HP. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB, Yusuf teringat bahwa dirinya akan ke desa sebelah. Ia mengambil HP, ketika dibuka, Andre sudah SMS duluan.
"Yusuf katanya mau main ke sini? Kok sampai sekarang belum datang?"
Yusuf menjelaskan yang terjadi.
"Aku sebenarnya tadi sudah mau berangkat. Ayah malah menyuruhku jaga toko. Kalau nanti sore, kira-kira masih bisa tidak?"
Andre menjawab pesan Yusuf.
"Kamu ke sininya jam berapa?"
"Aku ke situ jam 16.00 sih."
"Aku belum tahu sih. Bisa atau tidaknya. Kalau pulangnya Senin pagi sih masih bisa. Kalau pulang hari ini jam 14.00, ya berarti kamu belum beruntung."
Yusuf memohon.
"Tolong tanyakan dong! Dia mau pulang kapan, gitu."
"Kalau ketemu sama orangnya, nanti tak tanyakan. Aku tetapi tidak janji."
Pesan itu hanya dibaca Yusuf, tidak sempat membalasnya karena tokonya kembali ramai pembeli. Andre yang mendengar Sandi bermain gitar, di sebelahnya Lina, bergegas menghampiri.
"Ikut main, ya, Sandi."
"Iya, silakan."
"Coba, aku yang memetik gitar. Kamu yang menyanyi."
Linatunnisa tetap fokus membuat puisi, tidak menghiraukan yang terjadi di sekitarnya.
Setelah puas bernyanyi dan memainkan gitar, mereka ngobrol banyak hal. Di sela-sela obrolan mereka, Andre bertanya pada Linatunnisa.
"Kamu betah banget sih? Di sini dari tadi pagi?"
"Iya, Kak."
"Kamu libur berapa hari?"
"Dua hari."
"Kamu kalau pulang naik apa biasanya?"
Andre walaupun mengenal, lina jarang berbincang, karena kesibukan masing-masing.
"Aku kalau pulang dijemput sama, bang Sandi si."
"Terus kembali lagi ke asramanya kapan?"
"Nanti sore pukul 14.00."
"Kenapa tidak ke asrama besok pagi??"
Linatunnisa menggeleng dengan ekspresi datar. Setelah puas menghabiskan waktu dengan Sandi, ia memberi tahu Yusuf.
"Suf."
"Iya, Andre."
"Si Salju kembali ke kota hari ini. Jadi, belum rezekimu untuk berjumpa dengannya."
"Siapa itu Salju yang kamu maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan Linatunnisa. Dia kan sikapnya dingin bagaikan es batu."
Yusuf mendengar pernyataan dari, Andre rasanya kurang semangat. Benar-benar seperti jatuh dari tebing rasanya.
"Ya Allah, hari ini benar-benar tak asyik. Ayah dan ibu belum pulang. Sudah gitu karyawan yang biasanya membantu sedang izin. Aku sampai kerepotan melayani pembeli yang sangat ramai. Terus belum jadi kenalan sama wanita incaranku," keluhnya kepada sang sahabat.
"Kamu yang sabar. Kan masih ada waktu untuk mengenalnya. Kalau sore ini capek, istirahat aja di rumah, main ke sini bisa besok lagi." hibur Andre.
"Aku nanti sore tetap ke situ, kamu jangan khawatir. Nanti sore sepedaan yuk!"
Andre pun menuruti keinginan sahabatnya, hitung-hitung menghiburnya, agar tidak bersedih hati.
"Ayuk, siapa takut, kalau mau sepedaan."
Yusuf hanya membaca pesan tersebut, tidak membalas lagi. Pikirnya, nanti sore pas sepedaan, bisa ngobrol yang puas tanpa melalui SMS. Yusuf benar-benar sibuk di toko, hanya keluar saat shalat dhuhur dan makan siang saja. Sambil menunggu pembeli, Yusuf mengecek barang-barang yang sudah menipis, agar tidak bingung saat belanja. Semua barang yang hampir habis sudah masuk dalam daftar catatan. Pembeli belum ada lagi, Yusuf membaca buku yang dibawanya, niatnya untuk mengusir rasa jenuh, apabila sepi pembeli.
Baru membaca buku dapat dua lembar, tokonya kembali ramai. Para pembeli sudah berbaris, semuanya ada lima orang. Yusuf melayani, mereka satu per satu dengan sabar. Sementara itu, pak Parno dan bu Parno yang habis dari luar kota. Pulang hanya ganti pakaian, habis itu bergegas ke toko. Untuk memastikan, Yusuf seperti apa keadaanya di toko, jaga sendirian, sebab karyawan yang biasanya membantu sedang izin.
"Gimana rasanya jaga toko sendirian, nak?"
"Walaupun capek, jarang istirahat, tetapi rasanya seru banget. Ayah sama ibu emangnya habis pergi ke mana si?"
"Ayah sama ibu habis menghadiri acara reoni di Kota sebelah. Maaf kalau, kamu sudah menunggu terlalu lama."
"Ayah dan ibu tidak perlu minta maaf, wajar si kalau hadir ke acara tersebut, untuk silatur rahmi sama para sahabatnya."
Ujar, Yusuf dengan penuh pengertian sambil tersenyum. Yusuf pun pulang, untuk menyiapkan tenaga agar semangatnya bertambah, untuk jalan-jalan dengan sepeda. Namun, Yusuf sampai rumah bukannya tidur, malah menulis cerpen, menceritakan pengalamannya seharian menggantikan, bapak dan ibunya berjualan. Cerpen itu dikirim ke majalah dan langsung dimuat oleh pihak majalah.
"Aduh senangnya, aku itu cerpen langsung diterima."
Saking senangnya, Yusuf sampai guling-guling di lantai sambil tertawa-tawa. Untungnya di rumah sendirian jadi, tak ada yang menganggapnya aneh. Andre asyik baca komik dora emon, dirinya belum membuat lagu baru, karena bingung ingin membuat lagu apa.
"Semoga aja habis sepedaan dapat ide, agar bisabikin lagu yang indah." Batinnya.
Pak Parno membaca catatan daftar belanja dengan seksama. Setelah itu, pergi ke pusat belanjaan, agar barangnya tidak kosong. Bu Parno di toko sendirian, tetapi tak kesepian sama sekali. Toko itu selalu ramai baik itu diramaikan oleh pengunjung, maupun para warga yang berlalu lalang. Depan tokonya itu jalan yang menghubungkan tiga Desa, yaitu Desa barat, Desa Timur dan Desanya, Yusuf.
Lina berangkat ke asrama diantar, Sandi menggunakan motor kesayangannya. Di perjalanan angin menyapa, Lina dengan lembut, sapaannya pun terasa sejuk. Sandi sesudah menurunkan, Lina di depan asrama, langsung berlalu. Sandi rupanya sudah tidak sabar untuk melepas rindu, Sandi siang itu berkunjung ke rumah sang pujaan hati.
Komentar
Posting Komentar