Sandi pulang sehabis asyar dengan raut wajah yang bahagia, bagaikan habis mendapat harta karun. Bu Ahmad hanya tersenyum, melihat kebahagian sang anak.
"Ceweknya mbok diajak main ke sini! Ayah dan ibu biar kenal."
Sandi hanya manggut-manggut mengiyakan keinginan sang, ayah.
Yusuf pukul 15.30 sudah terlihat rapi dengan sepeda kesayangan, tak lupa membawa camera, barangkali ingin foto-foto. Lalu pamit pada kedua orang tuanya melalui telpon, Yusuf males mampir ke toko. Andre juga sudah siap-siap dengan sepedanya. Yusuf sampai di rumah, andre 10 menit kemudian.
"Yuk mari berangkat!" Kata, Andre.
"Sudah lama menunggu, ya, bro?"
"Tidak kok, aku mengeluarkan sepeda, dirimu nongol. Udah bawa camera belum?"
"Udah dong, aku tak melupakan camera." Bisik, Yusuf.
"Rutenya ke mana ni?"
"Muter lewat sawah dan rumah-rumah warga, yang banyak tanaman bunganya."
Mereka jalan-jalan melewati sawahan yang indah, dengan berbagai tanaman yang menyejukan hati. Melewati sungai yang jernih, yang terasa sangat menawan. Mereka terkadang berhenti sebentar untuk foto.
"Dengan adanya foto ini, bisa menjadi saksi dan kenangan tidak terlupakan. Bisa diceritakan pada keturunannya suatu saat nanti."
"Makanya cari pasangan, biar cepat punya keturunan. Orang masih jomlo, kok membahas keturunan." Ucap, Yusuf.
"Makanya doakan, aku biar cepat punya pasangan." Balasnya.
"Pasti, aku selalu mendoakan yang terbaik."
Linatunnisa langsung menata barang-barang, yang dibawa dari rumah. Sambil mendengarkan musik dan nyanyi-nyanyi dengan ceria. Lina malam harinya tidak baca novel, ia sibuk belajar, minggu ini dirinya ada ujian semester. Lina kalau tidak belajar takut nilainya jelek.
"Novel dirimu malam ini di lemari aja. Soalnya, aku mau belajar. Sampai seminggu kayanya, kita tidak berjumpa." Ucap, Lina dalam hati.
Yusuf dan Andre selain naik sepeda dan foto-foto di setiap tempat. Mereka juga mampir ke kedai es, untuk menikmati es kelapa muda yang sangat segar. Rasa kecewa di hati, Yusuf pun sirna, dirinya mau bersabar menunggu minggu depan. Berharap dalam hati, minggu depan bisa berkenalan dengan Lina tanpa halangan apapun.
"Minum es jangan sambil melamun. Lagi memikirkan apa si?"
"Memikirkan minum es bareng, Linatunnisa."
"Sabar, pasti bakalnya bisa terlaksana." Hibur, Andre.
Malam harinya,, Yusuf asyik menyelesaikan novelnya, yang tinggal sebab. Karena harus dikirim ke penerbit malam ini juga. Selesai mengirim novel, Yusuf tertidur dengan nyaman. Usai aktifitas seharian dan mendapatkan pengalaman baru. Yusuf berharap hari esok lebih indah dari pada hari ini. Suara ayam berkokok pagi itu mengagetkan, Yusuf yang masih berpetualang di alam mimpi. Yusuf terbangun setengah jam sebelum subuh.
"Ayam bikin kaget aja si, padahal ini belum subuh. Akan tetapi tak apa si, dari pada bangun kesiangan."
Andre malam ini menciptakan lagu baru, setelah beberapa hari tidak mengeluarkan lagu baru. Andre kali ini menciptakan lagu dengan tema persahabatan. Selesai menggarap lagu, rasa kantuk menghampiri, andre pun pergi ke alam mimpi. Andre malam itu mengaktifkan alarm, takut kesiangan. Nyatanya, Andre terbangun duluan, sebelum alarm berbunyi.
"Alhamdulillah bisa bangun pagi, malah itu alarm belum bunyi." Batin, Andre.
Linatunnisa sedang libur membaca novel sampai tiga minggu berturut-turut, demi belajar agar nilainya bagus. Dirinya minggu ini ujian semester, Minggu depan ujian praktek, dan Minggu depannya lagi ujian sekolah. Pikirannya terus berjuang, agar mendapat hasil yang memuaskan, tidak mengecewakan. Lina paling tidak semangat saat ujian matematika. Saking tidak semangatnya, mengerjakannya pun asal-asalan.
"Ini matematika betul semua ya rezekiku, salah semua ya bukan rezekiku."
Batinnya dalam hati, sambil mengerjakan soal tersebut. Dirinya memang tidak ahli dengan pelajaran yang satu ini.
"Aku kok rindu baca novel, setelah berhari-hari membuka buku pelajaran. Apa salahnya membuka novel sebentar, biar belajarku semakin semangat."
Lina malam jumat tidak belajar, dirinya asyik membaca novel. Mulai belajar kembali, pada jumat pagi habis subuh.
Kini seminggu telah berlalu, ujian semester pun telah berakhir. Dari pihak sekolahan mengadakan rekreasi ke kebun teh yang indah, agar pikiran para siswa menjadi rileks saat ujian praktek. Kegiatan itu dilaksanakan pada hari Minggu, berangkat pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 17.00 sore. Para siswa yang pernah ke kebun teh, serasa nostalgia. Sedangkan untuk para siswa yang belum pernah berkunjung, merupakan pengalaman pertama yang sangat membahagiakan.
"Kamu sebelumnya pernah ke kebun teh tidak si, Lin?"
"Aku pernah ke sana, An bersama keluarga."
Yusuf dan Andre merencanakan liburan bareng, ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Agar memperoleh pengalaman baru yang menyenangkan hati. Tanpa disangka-sangka tempat yang dipilihnya adalah kebun teh. Mereka akan berangkat hari Minggu pagi, dan pulangnya juga hari Minggu sore. Benar-benar perjalanan yang sangat mengasyikkan bagi keduanya.
"Yusuf nanti di kebun teh mau ngapain? Yang paling pertama dilakukan?"
"Keliling naik sepeda bebek sambil foto-foto. Habis itu, berjalan di jembatan gantung, dilanjut melihat hamparan bunga kerisan."
"Kita selama di sana, berarti tidak berpisah. Karena, aku juga ingin melakukan hal yang sama."
"Ih, dasar ikut-ikut, tetapi tidak apa-apa si. Aku jadi, ada temannya, tidak kaya orang hilang." Gurau, Yusuf.
Lina mengabari orang tuanya bahwa, minggu ini tidak pulang karena ada rekreasi. Dirinya mengatakan pulang minggu depan. Jika tidak ada halangan dan kegiatan yang membuatnya tidak pulang. Orang tuanya pun memahami dan memberikan dukungan, agar selalu semangat dalam belajar. Sandi menghubungi sang adik pada malam hari, untuk bercakap-cakap.
"Dik kemarin kenapa tidak minta uang saku lebih? Kamu nanti di tempat rekreasi jajan pakai apa? Masa sih Iya Yang lain pada makan, Pada jajan, kamu tidak sendirian."
"Abang jangan khawatir, aku kemarin dikasih saku lebih sama, ibu."
Sandi mendengar hal itu, hatinya benar-benar lega. Lina menyiapkan apa saja yang harus dibawanya saat rekreasi. Dirinya membawa buku untuk dibaca, membawa air minum jika haus, membawa HP, power Bank, serta parfum dan sisir. Disiapkan Pada malam harinya agar tidak ketinggalan. Lina sebanggku dengan, Ana salah satu sahabat setianya. Mereka ke kebun teh menggunakan bus.
"Kamu kalau naik bus mabuk atau tidak, Lin?"
"Aku tidak mabuk kendaraan kok. Kalau dirimu mabukan apa tidak?"
"Kalau gitu sama, aku juga tidak mabukan." Jawab, Ana.
Yusuf dan Andre tidak membawa barang banyak, biar tidak ribet. Yang dibawa camera, hp, pawer bank, parfum dan sisir. Mereka memang suka berfoto, lebih senang lagi, kalau tempatnya sangat indah. Mereka berangkat naik taksi, dengan wajah berbinar-binar, seperti akan ke luar Negeri.
"Ini tujuannya ke mana, dik?" Tanya, tukang taksi.
"Wisata Pagilaran, bang."
"Oh mau ke kebun teh? Yang ada jembatan gantungnya itu?"
"Iya, bang."
Tukang taksinya mengangguk, paham dengan tempat yang dimaksud. Tanpa terasa akhirnya tiba di tempat yang dimaksud.
"Terima kasih, ya, bang. Sudah mengantarkan, kita dengan nyaman, tanpa kurang suatu apapun."
" Iya sama-sama, sampai jumpa di lain kesempatan."
"Iya, bang." Kata, Andre.
Di kebun teh pagilaran bisa menikmati berbagai wahana seperti menikmati playing fox, taman bermain anak, menikmati hamparan bunga krisan, menyaksikan miniatur Belanda, tea walk atau keliling kebun sambil menyaksikan petani memetik teh,, menyaksikan proses penggilingan teh di pabrik dan masih banyak lagi. Tempat ini juga cocok untuk mengalihkan diri, untuk mengalihkan suasana setelah lelah menghadapi kehidupan yang penuh drama.
Yusuf sebenarnya pikirannya masih berharap, membayangkan minggu ini kenalan dengan wanita incarannya. Yang selama ini membuat perasaannya semangat, serta membuat angan-angannya ingin selalu bersama wanita tersebut. Walaupun belum sempat saling menyapa atau bercakap-cakap. Waktu itu hanya melihat wajah cantiknya, saat jalan-jalan di desa sebelah.
Andre berusaha menyemangatinya, dan meyakinkan akan bertemu dengan, Lina tidak lama lagi. Saat akan membayar tiket masuk ke wisata yang menurut orang-orang begitu menyenangkan menenangkan dan penuh pengetahuan yang belum didapatkan.
"Emang tiket masuknya berapa si?"
"Tiket masuknya 5 ribu yang kudengar dari orang-orang." Jelas, Yusuf.
"Kamu yakin?"
"Yakinlah, kalau tidak percaya, ya coba buktikan aja. Soalnya, aku juga baru pertama kali berkunjung."
Andre pun menghampiri petugas yang menjaga tiket masuk. Bertanya berapa bayarnya.
"Permisi, ingin bayar masuk ke wisata ini. Kira-kira berapa, ya?"
"Silakan, untuk tiket masuk hanya rp5.000, tetapi kalau ingin menikmati wahana-wahana yang ada di dalam Nanti bayar lagi."
Andre langsung mengeluarkan uang, mengerti dengan penjelasan sang petugas. Sesudah itu, masuk ke wisata kebun teh berniat menjelajahi apa yang ada di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar