Sandi sedang ke toko buku, mengantar ceweknya beli novel.
"Kamu itu suka baca novel, persis kaya, adikku banget."
"Emang, dia paling suka novel karya siapa?"
"Dia paling suka sama karyanya, Yusuf Love, padahal ceritanya tentang patah hati. Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali."
"Itu ada yang baru, loh karyanya, Yusuf Love. Lina dibelikan! Hitung-hitung kado habis ujian, pasti gembira banget."
Sandi menuruti saran kekasihnya. Membeli novel dari penulis vaforit, adiknya yang tercinta. Novel itu ditaruh di rak, tempat penyimpanan novel-novel koleksinya, Lina di kamar.
Yusuf dan Andre menuju tempat penyewaan sepeda bebek, sambil menghirup udara segar yang ada di sekitarnya. Linatunnisa dan rombongan tiba di kebun teh, yang dikunjungi, Yusuf dan Andre.
"Kalian boleh main sepuasnya! Boleh mengunjungi jembatan gantung, hamparan bunga krisan, miniatur belanda dan yang lainnya. Nanti pukul 11.30 berkumpul untuk sholat dhuhur dan makan siang."
Instruksi salah satu guru yang mendampinginya. Para siswa itu langsung merasa bahagia, lalu berpencar menuju ke berbagai tempat yang diminatinya. Yusuf dan Andre asyik menikmati sensasi naik sepeda bebek. Dengan ekspresi yang sangat menyenangkan.
"Ini benar-benar pengalaman baru bagiku bisa naik sepeda mengelilingi tanaman teh yang terasa sejuk."
"Iya benar, Suf udah gitu hawanya terasa tenang."
"Ini bisa membuat pikiran segar, terus mengembalikan semangat untuk berkarya. Ayuk, kita ke jembatan gantung sekarang! Pasti di sana indah sekali pemandangannya, terasa bagai sedang di syurga." Tutur, Yusuf.
"Kamu benar itu, bisa membangkitkan semangat di saat sedang mager. Nanti di sana, kita foto-foto, ya?"
"Jangan, Andre fotonya saat melihat bunga krisan saja sekaligus melihat miniatur Belanda."
Andre akhirnya menuruti keinginan sahabatnya. Lina dan Ana memilih naik mobil, salah satu wahana yang ada di wisata tersebut.
"Naik mobil sambil minum es teh yuk!"
"Kita berarti beli es teh dulu, Lin?"
"Ya tidaklah, kita bayar 20 ribu, bisa naik mobil dan dapat es teh."
"Kalau gitu, ayuk, segera laksanakan!"
Lina dan Ana menuju wahana mobil sambil menyaksikan suasana di sekitarnya. Yusuf dan Andre sudah sampai di jembatan gantung.
"Ternyata, suasananya menarik banget, seluruh pemandangan hijau yang di bawah, terlihat dengan jelas."
"Iya, kamu benar banget itu, apalagi kalau ada, Linatunnisa pasti terasa romantis."
"Kamu kayanya doanya harus lebih rajin lagi. Biar bisa cepat ketemu sama, Lina dengan romantis."
"Iya juga si, aku doanya mungkin masih kurang, makannya belum dipertemukan."
Pukul 10..00, mereka meninggalkan jembatan gantung, langsung menuju lokasi hamparan bunga krisan. Lina dan Ana menuju wahana selanjutnya, tempat yang dipilih jembatan gantung.
"Rasanya sungguh mempesona, bisa lihat hamparan tanaman teh yang hijau."
"Iya, An memang menawan banget, rugi kalau ke tempat ini tidak ke jembatan."
Yusuf dan Andre sedang berfoto-foto dengan berbagai gaya, dengan senyuman yang terlukis dengan manis, sambil berbincang.
"Ternyata miniaturnya berupa kincir angin yang terbuat dari kayu."
"Emangnya apa yang di pikiranmu? Pas dengar kata miniatur Belanda?"
"Ya siapa tahu ada patung tentaranya atau rumah Belanda."
"Ya bukanlah."
Kata, Yusuf.
"Sekarang gantian dong, aku yang foto."
Kata, Andre sesudah mengfotokan sahabatnya. Yusuf mengangguk mengiyakan, gayanya bagaikan tukang foto grafer sungguhan. Walaupun sudah siang tetap saja sejuk jadi, tidak merasa kepanasan. Lina dan Ana menuju ke pabrik teh, menyaksikan proses penggilingan teh..
"Permisi, pak maaf sebelumnya. Kita ingin melihat-lihat di pabrik, apakah boleh?"
"Silakan, dik kalau ingin melihat proses penggilingannya."
Lina dan Ana saat melihat-lihat di pabrik ketemu dengan kawan-kawan yang lainnya. Tanpa terasa sudah mendekati waktu dhuhur. Yusuf dan Andre menuju masjid, begitu pula dengan, Lina dan rombongan. Padahal shalat di masjid yang sama, mereka nyatanya tidak bertemu sama sekali, saking banyaknya orang yang shalat. Lina dan rombongan menikmati makanan di bawah pohon yang rindang. Yusuf dan Andre mencari makan dan tempat untuk istirahat sejenak.
"Suf kira-kira makan apa ni?"
"Gimana kalau mie ayam bakso sama es teler?"
"Wah, boleh juga itu."
Mereka menuju warung terdekat, ternyata di warungnya juga menjual pecel. Yusuf dan Andre akhirnya memesan bakso dan pecel, serta es teler. Mereka memilih tempat di dekat jendela, agar terasa semilir.
Lina dan rombongan melanjutkan perjalanan, yaitu menyaksikan hamparan bunga krisan dan miniatur Belanda.
"Bunganya cantik-cantik, aku mau foto ah."
"Sini, Lin tak fotokan."
"Foto dengan kincir angin juga, ya, An."
"Iya beres."
Lina gantian mengfotokan, Ana dengan kece. Sehabis asyar, mereka istirahat sejenak, habis itu pulang. Sesampainya di asrama, Lina membuka hp untuk menghubungi, Sandi.
"Bang, aku sekarang sudah pulang. Tolong kasih tahu ke, ayah dan ibu, ya, bang."
"Iya, dik pasti tak sampaikan. Gimana rekreasinya tadi, dik?"
"Rasanya seru banget tadi, bang."
"Ya syukurlah, kalau seru."
"Iya, bang."
Sandi memberi tahu kedua orang tuanya bahwa, Lina sudah kembali ke asrama.
"Ayah, ibu, adik sudah selesai pikniknya."
"Dia pasti kecapekan, pergi seharian, dari pagi sampai sore."
"Tidak kok, bu katanya si rasanya seru."
Tutur, Sandi sambil menunjukan hasil chat-an dengan Lina di layar hp.
Yusuf dan Andre masih belum pulang, mereka habis makan ke wahana playing fox.
"Kita cobain main playing fox yuk!"
"Ayuk, siapa takut." Ucap, andre.
Mereka sesudah itu berlanjut membeli aneka tanaman. Berhubung sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang.
"Kita pulang naik apa, Suf?"
"Ya naik taksilah."
"Masa naik taksi bawa tanaman kaya gini, Suf?"
"Udah tenang aja, pasti mau kok tukang taksinya."
Mereka memesan taksi dan menunggu di pinggir jalan. 10 menit kemudian tukang taksinya telah tiba. Mereka diantar sampai rumah dengan lancar tanpa kendala.
"Terima kasih, bang."
Ungkap,, Yusuf sambil memberikan ongkosnya, kedua orang tuanya sudah menyambut di teras, begitu pula dengan kedua orang tuanya, andre.
"Tadi gimana jalan-jalannya, nak?"
"Sangat menyenangkan, bu."
"Itu bawa apa, nak? Habis rekreasi atau belanja tanaman si?"
"Ini, bu tadi di sana ada tanaman yang bisa dibeli. Aku iseng-iseng beli, buat buah tangan."
"Ya sudah kalau gitu, biar tanamannya makin banyak."
"Iya, bu."
Pak Parno hanya menyimak percakapan istri dan anaknya. Bu Parno mengecek tanaman yang dibawa, Yusuf. Ternyata isinya tanaman yang belum ada di rumah. Bu Parno wajahnya berbinar mendapat tanaman baru. Ada pohon cabai, terong, tomat, dan strobery dan jeruk bali yang terlihat menarik. Andre pun mendapat pertanyaan yang sama, jawabannya pun hanya satu kalimat, yaitu sangat menyenangkan.
"Oh iya, aku ada oleh-oleh, untuk meramaikan kebun, kita yang luas."
"Oleh-oleh apa, nak?"
Tanya, bu Agung dengan rasa penasaran. Saat dibuka, isinya tanaman tomat dan strobery.
"Wah, lumayan ini, kita belum punya pohon strobery. Pas banget ini, bisa menambah pohon buah di kebun."
"Iya, bu benar sekali."
Yusuf dan Lina sebenarnya seharian berada di tempat yang sama, tetapi tidak berjumpa satu sama lain. Memang belum rejekinya untuk bertemu, mereka semoga segera bertemu.
Komentar
Posting Komentar