Sore itu, Yusuf langsung mandi agar tubuhnya merasa segar dan merasa nyaman. Lalu membuat kopi yang terasa nikmat dan pisang goreng buatan, ibu tercinta. Andre di rumahnya juga langsung mandi agar tubuhnya tidak kusut karena keringat. Malam itu, Yusuf tidak bisa tidur, hanya duduk berdiam diri di kamar.
"Kayanya nulis cerpen si asyik, dari pada bingung harus nulis tentang apa. Gimana kalau nulis petualanganku sendiri? Seru kelihatannya, ya?"
Gumam, Yusuf sambil mengambil laptop kesayangannya di lemari. Menit demi menit telah terlewati, Yusuf masih betah menulis. Pak Parno melongok, Yusuf yang masih terjaga dengan semangat.
"Kamu kok belum tidur? Emangnya tidak capek?"
"Aku masih belum bisa tidur, padahal seharian tak tidur. Aku bawa nulis, siapa tahu kantuk menyapaku."
"Ini sudah larut malam, nulisnya lanjut besok lagi. Coba bawa baca buku, pasti lama-lama bisa tidur."
Yusuf mengangguk mengiyakan saran dari, ayahnya. Kebetulan cerpen yang dibuat telah sampai dikalimat terakhir. Yusuf menutup laptop, lalu membaca novel horor. Yang dibelinya bulan kemarin, membuatnya penasaran dengan jalan ceritanya.
"Nasib, aku tetap tak bisa tidur. Aku malah semakin ingin membacanya terus."
Yusuf tidak tidur sampai pagi, novel yang dibaca sudah sampai halaman terakhir. Di Desa sebelah, Andre ngobrol dan gitaran bersama, Sandi di teras rumahnya.
"Kamu seharian ini ke mana aja? Rumahmu kok tutupan? Lagi ada panggilan manggung apa?" Selidik, Sandi.
"Aku tadi ke kebun teh sejenak melepas lelah, kalau manggung hari ini sedang kosong." Jawab, Andre.
"Lina juga tadi ke sana, loh. Kalian emangnya tidak ketemu?"
"Dia ke sana sama siapa? Aku malah tidak ketemu, kalau dirimu tidak cerita, ya tidak tahu."
"Dia ada acara piknik dari sekolahnya. Dia hari ini aja tidak pulang."
"Pantesan aja kemarin tidak kelihatan batang hidungnya."
Tanpa terasa sudah larut malam, Sandi dan Andre pun berpisah. Beristirahat dengan nyaman di tempat tidur masing-masing. Andre tidak langsung bisa tidur, dirinya asyik membaca buku sejarah.
"Ini kayaknya menyenangkan kalau dibaca, sambil menanti rasa kantuk yang datang menghampiri."
Namun, membaca baru dua lembar, Andre sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya. Matanya sudah tidak kuat, ibarat lampu hanya tersisa 5 watt, semenit kemudian pergi ke alam mimpi. Hari senin sudah pada sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Andre sedang fokus manggung, di acara sunatan dan undangan manggung di cave selama 5 hari. Yusuf memilih jaga toko dari senin sampai sabtu, malamnya nulis novel. Agar waktunya tak terlalu lama, menunggu hari minggu.
Waktu terus berjalan, Yusuf menyibukan diri di toko. Ada aja yang dialaminya, terkadang orang beli, protes soal harga.
"Belanja beras kok harganya mahal banget kaya gini. Mbok diturunin sedikit harganya, biar bisa beli barang yang lainnya."
"Maaf, bu itu sudah murah, tidak bisa dikurangi lagi. Kalau tidak mau, ya silakan beli di tempat lain. Ujar, Yusuf.
Ujung-ujungnya berasnya dibeli juga, walaupun dengan berat hati. Karena belanjaan yang harganya terjangkau hanya di tempat orang tuanya, Yusuf di tempat lain harga barang lumayan mahal. Ada juga yang datang hanya menukar uang, tidak membeli apapun.
Hari sabtu pun tiba, Yusuf wajahnya berseri, membayangkan hari esok, akan bertemu gadis incarannya. Sementara itu, Andre yang sedang santai di bawah pohon bersama, Sandi tiba-tiba terlintas. Bertanya soal, Lina demi mewujudkan keinginan sang sahabat.
"Lina hari ini pulang atau tidak?"
"Dia hari ini tidak pulang, katanya si mau ke toko buku."
"Oh gitu."
"Iya, kamu suka sama adikku, ya? Kok tanya-tanya tentangnya terus?"
"Yang suka itu sahabatku bukan diriku. Kira-kira boleh atau tidak kalau, Lina pacaran?"
"Lina sudah besar, boleh aja kalau mau pacaran, yang penting seriusan jangan main-main, dapatnya juga orang yang benar."
Jawab, Sandi dengan serius, sebab menyangkut, adik kesayangan yang dijaganya selama ini. Andre memberi tahu pada, Yusuf soal gadis incarannya yang tidak pulang. Yusuf sore itu, dapat Sms, langsung membukanya.
"Suf kenalannya ditunda lagi, Lina hari ini tidak pulang."
"Aku besok mau pergi saja, kalau besok belum rezekinya ketemu dengannya."
"Kamu mau pergi ke mana? Besok tak temani."
"Aku lagi ingin sendiri. Ucap, Yusuf.
"Baiklah kalau itu maumu. Kamu tidak marah dengankukan?"
"Aku tidak marah kok, aku lagi pingin sendiri aja."
Andre merasa lega dengan jawaban sahabatnya. Walaupun dirinya belum bisa mempertemukannya dengan Lina sejak beberapa minggu yang lalu. Pukul 06.00, Andre sudah sibuk di kebun, membantu orang tuanya memetik buah-buahan. Yang dipanennya ada nanas, jambu, belimbing, kedondong dan mangga.
"Wah, nanti siang bikin rujak kayanya enak banget, aku kebetulan masih menyimpan bengkuang dan mentimun. Ayah memanen buah, yang biasanya untuk bahan rujak." Batinnya.
Hari minggu pagi, Lina dan Ana mengunjungi toko buku di pinggiran Kota, untuk liburan, sebelum melaksanakan ujian sekolah.
"Semoga banyak buku atau novel yang menarik, ya, Lin?"
"Iya, Ana semoga buku atau novelnya tidak mengecewakan."
Lina menemukan novel horor, yang menurutnya menarik. Saat mencari tahu, barang kali ada novel terbaru karya, Yusuf Love. Yang ternyata stoknya habis, saking banyaknya yang beli. Dirinya tidak tahu kalau, Sandi sudah membelikannya. Yusuf pergi ke toko buku di pinggiran kota, dirinya tidak sengaja menabrak seseorang, saat memilih buku di toko tersebut.
"Bruk!!!!"
"Aduh!!!!"
Lina terjatuh, novelnya terlepas dari genggaman tangan. Yusuf langsung menolongnya, dengan rasa bersalah yang bertahta di hatinya.
"Maaf, aku tidak sengaja, aku tadi sedang fokus menelusuri buku, siapa tahu ada yang menarik untuk tak beli. Gimana, kamu apakah ada yang sakit?"
"Tidak apa-apa kok, aku baik-baik aja, kak."
"Ya syukurlah kalau baik-baik aja."
Yusuf terkejut setengah mati, gadis itu wajahnya mirip dengan yang dilihatnya beberapa minggu yang lalu. Lina juga kaget, gara-gara orang yang menabraknya mirip foto penulis vaforitnya yang terpampang di sampul novel.
"Siapa namamu? Bolehkah, aku mengenalmu? Namaku, Yusuf dari kampung pinggir sungai."
"Boleh kok, Lina namaku, aku berasal dari kampung pinggir sawah."
"Bolehkah minta nomor hp-nya? Siapa tahu pas ada acara pameran novel, aku bisa memberi tahumu. Kamu juga bisa menghubungiku, gara-gara tertabrak olehku Ada yang sakit. Aku agar bisa bertanggung jawab padamu."
"Boleh kok kalau mau minta nomorku, yang penting jangan disebar kemana-mana."
Mereka pun tukeran nomor dan saling menyimpannya., lalu sempat mengobrol sebentar tentang novel horor. Ana hanya menyaksikan dari kejauhan, sambil memilah-milah buku-buku resep masakan.
"Kamu suka novel-novel horor, ya? Kok membeli novel horor keluaran terbaru seperti itu?"
"Aku novel apa aja suka, yang penting ceritanya seru alurnya pun menarik. Apalagi cerita yang menegangkan dan mengaduk-aduk perasaan, aku suka banget membacanya. Aku di rumah juga punya banyak koleksi novel, novel horor juga ada beberapa sih."
Cerita, Lina dengan penuh semangat, padahal biasanya bila baru berkenalan dengan orang, dia jutek Dan Ajo atau cuek.
"Oh gitu, aku juga punya banyak koleksi novel sih. Salah satu koleksiku juga novel horor. Kita berarti punya kesukaan yang sama, ya?"
"Iya, kak."
Waktu sudah benar-benar siang, matahari sudah terasa sangat panas. Yusuf pulang ke rumah dengan novel-novel horor di tangannya. Lina dan Ana juga melakukan hal yang sama, mereka kembali ke asrama dengan menenteng buku di tangannya.
"Aku permisi dulu, ya soalnya sudah siang banget, aku takut tidak dapat angkutan. Lain kali lanjut lagi perbincangan, kita soal novel atau buku. Kalau ada kesempatan untuk bertemu lagi. Kalau tidak ada kesempatan, aku mungkin akan telepon atau SMS padamu."
Lina pun mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, entah mengapa hatinya merasa senang saat berbincang sama, Yusuf bagaikan sedang terkena magnet. Mereka tidak ada yang sadar, jika yang ditemui adalah orang yang diinginkannya. Yusuf tanpa sadar sudah bertemu dengan gadis incarannya, yang selalu membuat hatinya berdebar-debar saat membayangkannya. Lina juga bertemu dengan penulis favorit yang selama ini dicarinya. Mereka akankah saling menikmati momen bersama? Mereka mungkinkah akan sering menghabiskan waktu bersama? Lina akankah dapat diluluhkan hatinya oleh, Yusuf dengan kelembutannya? Atau hatinya tetap sangat susah untuk ditaklukan?
Komentar
Posting Komentar