MENAKLUKKAN HATI WANITA 08

Pada jumat pagi yang cerah, pukul 07.00, Yusuf sehabis bersih-bersih rumah, rasanya ingin iseng. Membuka hp, kemudian mengetik pesan untuk, Lina sambil senyum-senyum.


"Halo, assalamualaikum cewek cantik, gimana kabarnya hari ini?"


Lina baru pulang dari asrama membawa banyak barang, karena sekolahnya sudah rampung. Lina dijemput oleh, ayah dan ibunya menggunakan mobil. Mendengar hp-nya berbunyi, yang ada dalam tas.


"Klunting!!!!"


Lina mengrutu dalam hati, sambil merogoh tas.


"Siapa si pagi-pagi udah kirim sms? Kaya orang kurang kerjaan."


Pas dibaca ternyata, Yusuf pengirimnya. Lina sedang baik hati sehingga merespons pesannya melalui whatsapp.


"Waalaikumsalam. Kabar baik, kak."


Yusuf hatinya bahagia, seperti habis mendapat emas batangan. Walaupun jawabannya singkat, Yusuf langsung membalasnya.


"Kamu ternyata punya whatsapp? Aku kira tidak punya, jadi, aku sering menghubungimu lewat SMS."

"Ya punyalah, tidak mungkin, orang zaman sekarang tidak punya whatsapp."


Yusuf mengangguk-angguk membenarkan perkataan, Lina sambil mengetik pesan. Yusuf dan Andre SMS-an untuk melestarikan kebiasaan, mereka karena pas pertama kali kenal, mereka komonikasi lewat SMS.


"Iya si, Lin di mana-mana banyak orang yang pakai whatsapp."

"Iya, kak."

"Kamu udah makan belum?"

"Belum, kak."

"Kenapa belum makan?"

"Belum lapar aja si."

"Walaupun belum lapar, pagi-pagi itu sarapan, biar tidak sakit. Aku punya nasi goreng, kamu mau atau tidak?"

"Tidaklah, paling mau dikasih foto nasi goreng."

"Kalau, kamu mau, tak antarkan ke rumahmu. Bukan hanya tak kasih fotonya doang."

"Tidaklah, kak itu buat, kakak aja."

"Beneran ni, tidak mau?"


Lina hanya membalas satu kata, cuma iya doang. Yusuf hatinya menghangat, bisa ngobrol dengan pujaan hatinya. Andre tiba-tiba SMS, memberi tahu tentang, Lina.


"Suf main ke sini! Biar bisa bertemu sama, Lina, dia ada di rumah, loh."

"Kamu serius? Dia sekarang di rumahnya."

"Ya seriuslah, dia lagi duduk di bawah pohon rindang, sedang asyik baca novel horor. Kalau pingin ngobrol dengannya bisa secara langsung."


Yusuf langsung mengeluarkan sepeda dengan sempringah, hatinya sejuk bagaikan diguyur es. Lina belum menata barang-barang, di geletakan di kamar saja, dirinya masih capek, habis perjalanan dari asrama. Lina di bawah pohon melepas lelah sambil baca novel horor. Benar-benar fokus, tidak memperhatikan keributan di sekitarnya. Yusuf sudah sampai di kediaman sahabatnya dengan cepat.


"Pasti ngebut, ya? Makanya nyampainya cepat banget, seperti terbang."

"Aku tidak ngebut, cuma ingin jalan cepat saja."


Jawabnya, matanya curi-curi pandang ke arah, Lina terus-menerus.


"Dari pada menatap diam-diam, samperin sana!"

"Tidaklah, nanti aja kalau, aku mau pulang."

"Kalau, kamu pulang, orangnya sudah masuk rumah gimana?"

"Gampanglah, kan bisa tak telpon."


Yusuf dan Andre ngobrol bareng di teras, dari pukul 08.30 sampai pukul 10.30, di temani angin yang sepoai-sepoai. Mereka cuma berdua, Sandi sedang kerja sehingga, tidak ikut ngumpul.


Lina hp-nya berdering, dirinya merasa sebal keasyikannya terganggu. Namun, pas dicek, Ana yang kirim pesan whatsapp. Rasa sebalnya langsung hilang berganti dengan senyum ceria, tangannya langsung cekatan membuka aplikasi whatsapp, bagaikan ngambil uang di ATM.


"Lina apakah sudah sampai di rumah?"

"Aku sudah di rumah dari tadi. Kamu sendiri gimana?"

"Aku juga sudah di rumah, ini sedang minum es, oh iya . Kamu kalau pacaran sama cowok yang waktu ketemu di toko buku. Aku jangan lupa diajak makan-makan ya hehe, yaa  hitung-hitung selametan biar hubungannya langgeng wkwk."

"Kenapa tiba-tiba bahas cowok si?"

"Iya, Lin dirimu soalnya seru untuk diisengi, apalagi kalau mukanya memerah. Jadi, ada kesenangan tersendiri."

Kamu itu, kaya tidak ada hal lain yang dibahas aja."


Ana tidak membalas lagi, sebab sedang menata kamar dan menyimpan barang-barang yang diusung dari asrama. Yusuf yang memperhatikan langsung kirim chat, berisi pertanyaan.


"Kamu lagi chat-an sama siapa? Kayanya seru banget si, cantik?"

"Sama teman, kak."


Yusuf siap-siap kembali ke Desanya, agar tidak ketinggalan shalat jumat. Sebelum pulang mendekati, Lina memberikan coklat. Yang dibungkus kertas kado gambar bunga, diselipi kartu ucapan, aku menyayangimu setulus hati.


"Hai, cewek, aku punya hadiah untukmu."


Lina kaget setengah mati, bukunya nyaris terlepas.


"Kakak ngaget-ngagetin aja si!"

"Salahnya siapa mbaca karo melamun."

"Aku itu sedang fokus bukan melamun."


Yusuf tidak memperpanjang perdebatan, menyerahkan coklat pada, Lina dengan senyuman termanisnya.


"Ini untukmu."

"Terima kasih, kak."

"Iya sama-sama, cantik."


Andre hanya menyaksikan dari kejauhan dengan ekspresi tertawa, gegara sahabatnya yang sok romantis. Yusuf langsung mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, seperti mengejar maling, untungnya tidak terlambat.


"Alhamdulillah masih ada waktu buat mandi dan siap-siap, biar lebih ganteng."


Ucapnya dengan pd, sambil menyiapkan baju yang akan dipakai. Di tempat lain, Lina ke kamar membereskan barang-barang yang berserakan. Saat menaruh buku ke rak, dirinya melihat novel baru. Lina membukanya, saat melihat isinya, Lina terkejut. Ternyata, novel yang diinginkan, sampai berbagai toko buku dikunjungi, hasilnya selalu nihil.


"Aku cari novel ini ke mana-mana, tidak pernah ada. Pasti penjualnya bilang sudah habis terus, saking larisnya itu novel. Ternyata, aku sudah punya, aku senang banget deh pokoknya."


"Ngapain, dik? Kamu kumat-kamit ngomong sendiri? Kaya mbah dukun lagi baca mantra."


Lina langsung panik tingkat tinggi, dipikirnya tidak ada siapa-siapa. Tidak menyadari kalau, Sandi sudah pulang, hendak melaksanakan shalat Jumat.


"Ini, loh, bang ada novel baru. Aku kemarin ingin beli barangnya kosong terus. Tanpa disangka-sangka di rumah sudah ada."


Sandi hanya senyum-senyum sambil meninggalkan kamar sang adik. Tidak memberitahu bahwa, dirinya yang membeli novel tersebut. Lina Yang penasaran langsung mengejar, Sandi demi menuntut penjelasan. Namun, Sandi sudah keburu masuk ke kamar mandi. Lina mau tidak mau harus menyimpan rasa penasarannya terlebih dahulu. Lina melanjutkan aktivitasnya peternak kamar, supaya terlihat rapi dan lebih nyaman. Lina sudah selesai aktivitasnya, Sandi masih berada di masjid belum pulang. Lina terus menantinya sambil makan coklat, Lina belum menyadari kartu ucapan yang ada diantara beberapa coklat miliknya. Ingin secepatnya mendapatkan jawaban, agar rasa penasarannya tidak terbawa sampai ke alam mimpi. 

Komentar