MENAKLUKKAN HATI WANITA 09

Lina habis shalat dhuhur mendekati, Sandi untuk menuntaskan rasa penasarannya.


"Bang."

"Sandi mendengar ada orang yang memanggil, dia pun menoleh ternyata yang memanggil adiknya, Iya ada apa, dik?"

"Itu novel dari siapa ucap lina?"

"Udah tenang aja, tidak usah khawatir, itu rejeki untukmu.", Ucap sandi

"Terus kalau orangnya minta diganti, aku pas tidak punya uang. Gimana dong, bang? Ucap lina lagi"

"Aku yakin banget, orangnya tidak minta ganti rugi. Kamu pokoknya harus percaya sama, abangmu yang paling cakep ini, ucap sandi yang sedikit kepedean."

padahal dalam hatinya tertawa. Sandi emang sengaja, menjadikan novel itu sebuah kejutan. Lina makanya tidak dikasih tahu siapa pembelinya. Lina mau tidak mau harus menghilangkan rasa penasaran, yang menjadi ganjalan hatinya.


"Ya sudah, abang mau berangkat lagi, biar tidak telat, ucap sandi lagi."

"Sana pergi yang jauh!, Ucap Lina yang sedikit kesal karena dibuat penasaran."


Bu Ahmad tidak heran dengan pertengkaran, mereka seperti tikus dan kucing. Nyatanya, mereka kalau tidak bertemu, saling mencari dan merindukan


Di tempat lain, Yusuf menatap hp-nya, mengharap ada pesan dari, Lina yang tak kunjung datang. Padahal, Yusuf ingin tahu reaksinya setelah, Lina membaca kartu ucapannya.


"Apa jangan-jangan, Lina belum baca, ya? Kok sampai sekarang tidak protes. Terus juga tidak bertanya apapun" Pikirnya.


Sampai sore, Yusuf tetap aja hp-nya sepi, bagaikan kuburan. Yusuf mengirim pesan pada Lina, Andre, dan Sandi. Supaya tidak sepi dan ada teman ngobrol.


"Assalamualaikum."


Namun, yang langsung respons, Andre dan Sandi. Lina belum menanggapi sama sekali.


"Waalaikumsalam."


Jawaban dari kedua kawannya, yang selalu ada untuknya. Yusuf berbalas pesan sampai azan maghrib berkumandang, lalu menutup hp, di tinggal di kamar begitu saja. Yusuf ke masjid sampai habis isya baru pulang.


Sementara di tempat Lina, Sehabis shalat isya, Lina membaca novel sambil makan coklat. Lina penasaran, sebenarnya itu coklat ada berapa. Lina menghitungnya dengan perlahan, secara bisik-bisik.


"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8. Aku tadi siang makan satu, barusan makan satu, berarti semuanya ada sepuluh."


Lina tiba-tiba menyentuh kartu ucapan diantara coklat-coklatnya.


"Ini kartu apaan si?"


Lina terbelalak saat membacanya, perasaannya kurang yakin, malah ngiranya tidak serius.


"Kak Yusuf pasti bercanda, sudah gitu bercandanya parah banget. Lihat aja besok, kalau memberi kado lagi. Aku akan protes, aku takut kalau pacarnya cemburu."


Lina tidak terlalu memikirkan ucapan, Yusuf yang dianggapnya hanya iseng. Dirinya terus membaca, sampai rasa kantuk menghampiri dan pergi ke alam mimpi. Lina berharap hari esok lebih indah dari pada hari ini.


Sementara di rumah Yusuf,Yusuf malam itu menulis dengan semangat, tanpa terasa dapat 10 bab. Pak Parno berkomentar, saat menyaksikan kegigihan sang anak.


"Sergep banget nulisnya? Itu mau buat lomba, terus batas waktunya sudah mepet, ya?"

"Aku lagi semangat dan lagi banyak ide, yah. Ini bukan perlombaan si, hanya nulis untuk dikirim ke penerbit. Doakan, ya, yah semoga novelku pada laku."

"Yang namanya orang tua mendoakan anaknya, itu selalu dilakukan tanpa diminta."

"Terima kasih, ya, yah, sudah selalu mendoakan."

"Iya, nak, orang tua itu ingin yang terbaik buat buah hatinya."


Malam semakin larut, semua orang istirahat dengan nyaman. Jangkrik terus bersuara, seolah alunan lagu merdu, agar Desanya tidak sepi.


Saat keesokan harinya,Pagi yang terasa sejuk, Yusuf seperti biasa, bersih-bersih rumah. Ada nyapu, nyuci pakaian, dan nyuci piring. Sementara itu, bu Parno menyiapkan masakan buat dirinya serta keluarganya.


Di tempat lain saat pagi hari Lina membantu orang tuanya bebenah rumah, mulai dari nyuci sampai jemur pakaian. Selesai aktifitas, Lina membuka hp, ada pesan dari, Yusuf. Lina langsung membalasnya, dengan satu kata.


"Walaikumsalam."


Di tempat lain, Yusuf sesudah sarapan, ikut ke toko, supaya ada kegiatan tambahan. Sesampainya di toko, hp-nya berbunyi.


"Klunting!!!!"


Kebetulan di toko belum terlalu ramai, Yusuf bisa nyambi chating-an.


"Hai, cantik apa kabar?"

"Lina yang ada di seberang langsung merespon pesannya,Baik, kak, ucapnya." 

"Gimana, kamu sudah buka kado dariku atau belum?, Ucap Yusuf."

"Kakak itu ngacau deh, bercandanya tidak lucu. Pasti itu coklat mau buat pacar, kakak terus berhubung ceweknya tidak bisa ditemui, makanya itu coklat dikasih ke, aku dengan cuma-cuma, ucap Lina sambil menggerutu, tapi sebenarnya wajahnya merah karena malu."

"Iya emang benar, itu buat cewek, aku tidak asal ngasih kok. Karena ceweknya, ya ini, yang sedang chat-an denganku, ucap Yusuf lagi dengan sedikit rayuanya."

"Coklatnya sudah tak makan, besok tak ganti, ya, kak? Biar pacarnya tidak marah, ucap Lina, padahal wajahnya sudah sangat merah seperti kepiting rebus."

"Boleh kok, tetapi gantinya pakai kasih sayang, bukan uang, hehe, ucap Yusuf lagi."


Lina tidak membalas lagi, pesan itu cuma dibaca saja. Lina masih kurang yakin dengan ucapan, Yusuf barangkali hanya candaan semata. Yusuf tidak menyerah dalam menaklukkan hatinya, Lina yang sangat dingin.


"Lina pokoknya, aku akan terus berusaha, supaya dirimu jatuh cinta. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekatimu, gumamnya."


Lina tidak habis pikir, Yusuf selalu bersikap manis dan suka menggombal padanya. Lina menghubungi sahabatnya, untuk bercerita, supaya hatinya lega.


"Hai, Ana."


Pesannya langsung mendapat tanggapan, yang membuat, Lina sebal tingkat tinggi.


"Tanpa basa-basi, ana langsung to the point pada intinya,Halo, Lina gimana kelanjutannya sama cowok di Desa sebelah?"

"Lina juga tanpa basa-basi ia langsung menggerutu nggak jelas, Gara-gara dirimu, aku kemarin dapat sial. Aku diberi coklat ternyata ada ucapannya. Aku takutlah kalau ceweknya cemburu."

"Ana yang ada di seberang sana pun semakin suka menggoda sahabatnya, Itu tandanya cowok romantis, sekarang bilang lewat kartu ucapan. Nanti kalau udah semakin dekat, sudah mengenal lebih dalam, siapa dirimu yang sesungguhnya. Pasti menyatakan cinta secara langsung dengan ungkapan yang lebih romantis."

"Akan tetapi justru membuat, Lina semakin jengkel, Kamu itu gimana si, bukannya kasih solusi. Malah seakan-akan belain, dia dengan semangat. Asli nyebelin banget, awas aja, ya, Ana kalau curhat, bakal tak kerjain."

"Aku tidak takut dikerjain olehmu, lagi pula dirimu tidak mungkin tega padaku. Solusinya, ya, kamu terima saja cintanya, hhh,  ucap ana, seperti tak punya rasa bersalah."


Lina mengakhiri chat-an dengan sahabatnya, dari pada lanjut chat-an hatinya semakin kesal. Dia pun memutuskan untuk menaruh hp-nya begitu saja, sementara di tempat yang berbeda, Andre sedang sibuk membuat lagu tentang persahabatan sehingga, tidak bermain ke mana-mana, hanya di rumah. Sibuk menulis lirik lagu dan kuncinya.


"Yusuf yang sedang ada di rumah, tiba-tiba mengirim chat kepada Lina, Cantik nanti sore jalan-jalan yuk!. Ucapnya."

"Lina pun yang mendengar hp-nya berbunyi iya langsung melihat dan merespon pesannya , setelah dilihat tertera nama Yusuf di sana ia pun menggerutu, kenapa sih?? Dia lagi dia lagi?? Namun entah kenapa hatinya berdebar-debar saat melihat Yusuf yang mengirim pesan Lina pun langsung merespon pesan tersebut,Kalau mau mengajakku jalan-jalan, izin dulu sama, abangku! Ucapnya."

"Ok, siap, aku bakalan izin, ucap Yusuf di seberang sana, iya sangat senang karena gadis incarannya ternyata tidak nolak saat diajakin jalan."


Yusuf pulang dari toko, langsung bersiap, dirinya terlihat sangat rapi. Di tempat lain, Lina masih duduk di dekat kipas angin, masih bau keringat, belum mandi.


"Tiba-tiba, sandi nongol secara tiba-tiba dan berkata, Mandi si, dik! Masa si, iya jam segini belum mandi. Cewek itu harusnya sudah bau wangi, biar ada cowok yang suka."

"Lina pun agak sedikit terkejut, ih dasar Abang tidak punya akhlak!! Muncul kayak jelangkung tiba-tiba nongol, sandi pun hanya bisa terkekeh mendengar adiknya yang terkejut, lalu Lina pun berkata, Ngomong-ngomong soal cowok, nanti ada yang mau ngajak jalan, aku, loh. Boleh atau tidak, bang?"

"Cowok mana? Siapa orangnya? Ucap sandi yang agak sedikit penasaran, karena nggak biasanya adik perempuannya diajak seorang cowok"

" Abang tunggu aja di depan rumah! Dia pasti bentar lagi datang, ucap lina."


Sandi yang Mendengar penuturan, Lina hatinya tidak tenang, takut yang mendekati, adiknya bukan orang baik. Sedangkan Lina bergegas ke kamar mandi, dirinya berniat, akan cuek, saat jalan dengan, yusuf, bila diizinkan. Sandi duduk sambil ngopi di teras, beristirahat sesudah bekerja seharian. Sesampainya di rumah Lina, Yusuf terkejut ternyata sandi saudaranya, Lina kawannya, yang dikenal belum lama.


"Yusuf! Tumben berkunjung ke gubukku? Ada apa ni, ucap sandi?"

"Gini, bang sebenarnya ingin ngajak, Lina keluar. Aku tidak tahu kalau, sampean saudaranya, Lina, ucap Yusuf, yang tubuhnya agak sedikit bergetar karena takut tidak diizinkan, karena Yusuf benar-benar tidak tahu kalau, Sandi ternyata Abang kandungnya cewek incaranya."

"Jadi, kamu cowok yang dibilang sama, Lina tadi. Kalau, kamu yang ngajak pasti, aku izinkan, ucap sandi lagi."


Yusuf amat riang sudah mengantongi izin, untuk menikmati waktu sore bersama pujaan hatinya. 

Komentar