Yusuf sekian lama menunggu di teras, ditemani, Sandi yang kebetulan sedang santai. Tidak berniat pergi ke mana-mana.
"Lina kok lama banget si? Tidak tahu kalau sudah ditunggu apa si? Masa si, iya dandan aja lamanya seabat."
Ucap, Sandi sambil ngomel-ngomel tidak karuan.
"Tidak apa-apa, bang barangkali masih siap-siap,. Aku yang datangnya terlalu kecepetan kayanya. Tidak ketemuan sama ceweknya si, bang?" Tanya, Yusuf.
"Ya tidaklah, Suf kecepetan itu kalau datangmu tadi siang. Aku ketemuannya besok, kalau hari ini agak capek, soalnya liburku cuma hari minggu doang, kalau hari lain tidak libur si.." jawab, Sandi.
Yusuf mengangguk, mengiyakan sahabatnya. Sandi mengintrograsi, Yusuf dengan banyak pertanyaan.
"Kamu sudah lama kenal sama, Lina? Kenapa kok terlintas ngajak jalan-jalan segala? Kalian emangnya kenal di mana?"
Yusuf menjawabnya dengan hati yang deg-degan.
"Aku kenal belum lama, bang sering ngobrol aja, baru seminggu yang lalu. Awalnya ketemu, pas sedang di toko buku, bang gegara tidak sengaja tabrakan. Maksud dan tujuanku ngajak jalan-jalan itu, biar bisa mengenal lebih akrap. Boleh, ya, bang?" Kata, Yusuf.
"Boleh kok silakan, tetapi dengan satu syarat. Adikku jangan diapa-apakan, loh."
"Iya tenang aja, bang."
Saat asyik-asyiknya ngobrol, Lina muncul dengan sangat cantik, bagaikan bidadari.. Sandi berucap sambil tersenyum pada, mereka berdua.
"Kalau pulang jangan lama-lama, ingat, maksimal jam 20.00 harus sudah di rumah. Pokoknya lihat aja kalau pulangnya terlalu malam."
Yusuf mengiyakan dengan sungguh-sungguh.
"Iya siap, bang."
Yusuf setelah diizinkan oleh, Sandi pun berlalu dengan sepeda kesayangannya. Andre habis beli bakso melihat, mereka boncengan sepeda. Tidak kuat menahan tawa, segera berlari agar tidak ketahuan. Sementara itu, Lina dan Yusuf tidak sadar kalau ada yang memperhatikan. Di sana banyak orang yang mrnatap dengan ekspresi geli, bahkan ada yang berkomentar.
"Asli romantisnya itu sepasang anak muda, masih aja menggunakan sepeda. Padahal zaman sekarang kalau bepergian itu naik mobil atau motor."
Yusuf tidak peduli dengan komentar orang-orang hanya dianggap angin lalu. Sesampainya ditujuan, mereka berjalan sambil menyaksikan pepohonan sejuk di kanan dan kiri jalan. Yusuf penyakit isengnya kambuh, ingin menggoda, Lina habis-habisan.
"Cantik,."
Lina menanggapi dengan amat cuek.
"Apa si panggil-panggil?"
"Kok ketus si? Tempat ini indah, ya?"
Kata, Yusuf.
Maksudnya?"
"Rasanya indah banget, loh untuk berpelukan, sambil menatap bunga warna-warni."
"Sana si pelukan sama bunga atau sama pohon!" Balas, Lina.
"Aku maunya pelukan denganmu, bukan dengan pohon atau bunga."
"Kalau nakal, aku pulang beneran ni. Kak Yusuf biar di sini sendirian, mau digigit pocong atau digigit kunti, ya terserah."
"Ya jangan gitu dong."
"Makanya tidak usah nakal, kalau tidak ingin ditinggal."
Yusuf bukannya taubat, tetapi tambah parah isengnya.
"Cantik ini tempat, kalau buat ciuman, terasa sangat romantis."
Ucap, Yusuf sambil tersenyum jahil.
"Sana ciuman sama sandal atau sama ban sepeda!" Tandas, Lina.
"Jangan galak-galak dong, cantik. Kalau ngomong itu yang lembut, biar terlihat manis." Rayu, Yusuf.
"Ah biarin, kak Yusuf kalau nakal tak tinggal pulang beneran, loh."
"Ya janganlah. Kamu kan ke sini bareng sama, aku masa si, iya. Kamu mau pulang sendiri, terus kalau kenapa-napa gimana? Terus kalau, kamu di jalan ketemu orang jahat gimana?"
Ujar, Yusuf dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.
"Aku pulang jalan kaki, tidak masalah. Sudah tenang aja, tidak ada orang jahat kok." Sahutnya.
"Kamu itu tidak usah aneh-aneh nanti, aku dikiranya tidak tanggung jawab." Ujar, Yusuf.
"Ya sudah makannya jangan ngomong yang tidak jelas, kaya gitu."
Kata, Lina dengan bersungut-sungut. Tiba-tiba ada gerombolan anak kecil yang meledek, pas sedang asyik berduaan.
"Cie-cie, lagi pacaran, ya. Wah, pasangan serasi ni, yang cewek cantik banget, cowoknya cakep banget."
"Kalian ini bisa aja si." Kata, Yusuf.
Setelah itu, mereka berpindah tempat, agar tidak diledek oleh anak-anak. Mereka jalannya terburu-buru, malah menabrak beberapa pot bunga sampai roboh.
"Bruk!!!!"
Yusuf langsung mengecek pot yang roboh, untung bunganya tidak rusak. Lina membantu membetulkan pot bunga ke tempat semula.
Di tempat lain, Sandi sedang menelpon kekasihnya, untuk membahas tempat yang akan dikunjunginya.
"Sayang besok kita jalan-jalan ke mana?" Tanyanya.
"Gimana kalau ke pantai Ujung Negara?" Sambung kekasihnya.
"Di pantai mau ngapain?" Kata, Sandi.
"Menikmati indahnya pantai dan naik perahu. Kalau hari libur kan ada perahu yang disewakan." Tutur kekasihnya.
Sandi pun mengiyakan tanpa ragu. Yusuf dan Lina masih di taman bunga, sedang berfoto diantara bunga-bunga yang menawan.
"Cantik." Gumam, Yusuf.
Lina menanggapi dengan acuh.
"Apa si, kak!"
Yusuf kembali berkata, dengan jahil.
"Ini kalau fotonya sambil pelukan, pasti menyenangkan." Kata, Yusuf.
"Itu kan, mulai lagi. Aku mau pulang duluan ah. Habis itu, mau bilang ke, bang Sandi kenakalan, kak Yusuf." Ancam, Lina.
Yusuf pun akhirnya berkata dengan serius, dengan suara yang amat lembut.
"Iya deh, aku tidak iseng lagi. Jangan pulang duluanlah, orang datangnya aja bareng, pulangnya pun harus bareng ,tidak boleh sendiri-sendiri." Ujar, Yusuf.
Lina pun mengangguk mengiyakan, dengan wajah cemberut. Usai shalat maghrib, mereka makan bareng dengan menu pecel dan ikan laut. Pukul 19.30, mereka meninggalkan tempat wisata, supaya sampai rumah tidak terlalu malam. Sandi mengecek jam tangan, menunggu kepulangan, Yusuf dan Lina.
"Aduh, mereka kok belum pulang si? Awas aja ya kalau sampai melewati batas waktunya." Batin, Sandi.
Andre malam ini sedang manggung di cafe, menyanyikan lagu barunya. Sehingga, tidak main dengan, Sandi seperti biasanya. Pukul 19.50, mereka sampai ke rumah.
"Assalamualaikum.!!!!" Seru, Yusuf dan Lina.
"Waalaikumsalam. Gimana, sudah puas jalan-jalannya? Selidik, Sandi."
"Sudah, bang, aku pulang dulu, ya, bang." Pamit, Yusuf.
"Iya, Suf hati-hati pulangnya." Sahut, sandi.
Hari pun telah berganti, pada minggu pagi yang cerah. Sandi kencan dengan pujaan hatinya menggunakan motor kesayangannya. Lina pergi ke kediaman, Ana yang tinggal di kota. Naik angkutan umum, berdesak-desakan dengan para ibu-ibu yang hendak ke pasar, yang ada di pinggir kota. Untuk mengobati rasa rindu yang terasa di dada, serta ingin bercerita banyak hal pada sahabatnya.
Yusuf pergi ke desa sebelah, niatnya ingin ngobrol santai dengan gadis incarannya, sayangnya rumahnya tutupan, dalam keadaan sepi pula. Yusuf me mencet bel, bu Ahmad yang menyambut kedatangannya.
"Maaf bu, permisi, apa Lina dan bang Sandinya ada?" Tutur, Yusuf dengan sopan.
"Lina dan Sandi sedang keluar dari tadi. Sampeyan Nanti sore datang lagi aja kalau, mereka sudah pada pulang. Atau janjian dulu lewat SMS atau Whatsapp, biar bisa ketemu." Usul, bu Ahmad.
Yusuf manggut-manggut dan meninggalkan rumah tersebut. Berhubung sudah berada di desa sebelah, akhirnya mampir ke tempat, andre. Yusuf baru duduk di bangku, Andre sudah berkicau dengan godaannya.
"Wah, bahagianya yang kemarin jalan-jalan naik sepeda, benar-benar terasa romantis. Jangan-jangan sepedanya bakal diberi nama, sepeda love ni. Biar kenangannya terasa terus." Usik, Andre.
"Kamu tahu dari mana si? Bang Sandi yang kasih tahu." Kata, Yusuf.
"Tidak kok, aku yang menyaksikannya sendiri kemarin." Jawab, Andre.
Mereka ngobrol banyak hal sampai siang, sekitar pukul 11.00 Waktu Indonesia Barat, Yusuf belum melihat kepulangan, Lina ataupun Sandi. Akhirnya memutuskan untuk pulang saja, Nanti sore akan datang lagi. Berharap, bisa jumpa dengan gadis yang diincarnya selama ini, walau hanya sekedar bercerita atau bercakap-cakap.
Komentar
Posting Komentar