MENAKLUKKAN HATI WANITA 11

Sementara itu, di tempat lain nan jauh dari Desa, tepatnya di pinggiran Kota. Sandi terkejut melihat adiknya turun dari angkutan, Sandi menghampirinya.


"Dik!" serunya.


Lina pun menuju ke sumber suara dengan was-was, dirinya terheran juga bingung. Padahal yang tinggal di tempat tersebut, kawannya hanya, Ana doang. Lina pun akhirnya mengenali suara yang memanggil dirinya.


"Abang! Ngapain ke tempat ini, bang?" Selidik, Lina.

"Abang mau ketemu sama calon istrilah. Kamu ngapain di sini?" Balas, Sandi.

"Aku mau ke tempat teman, kebetulan tinggalnya di sini. Kalau, aku tahu, abamg juga mau ke sini, bareng perginya. Aku sebel, abang pergi tidak bilang-bilang, padahal lokasinya searah."


Kata, Lina dengan ekspresi cemberut.


"Ya maaf, abang kan tidak tahu kalau, kamu juga mau ke tempat ini."

"Yo wis sana pergi! Barangkali, kak Santi sudah lumutan kelamaan nungguin, abang yang tak kunjung nongol." Ucap, Lina.

"Ok deh, pulangnya nanti bareng, ya. Itu si kalau, kamu belum pulang."


Lina hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ana menengok jam di tangannya, takut kalau sahabatnya tersesat.


"Lina kok belum kelihatan batang hidungnya si? Dia apa tersesat, ya? Soalnya, dia hanya tak ajak ke rumah ini sekali." Tanyanya pada diri sendiri.


Lina telah sampai di depan rumah sahabatnya, dengan keringat bercucuran. Ana perasaannya sangat lega, Lina pun dipeluk olehnya.


"Alhamdulillah, kamu tekan nang umahku juga, tak kira tersesat."

"Aku sebenarnya sudah sampai dari tadi si. Tadi ngobrol sama, abangku sebentar, makanya lama." Jelas, Lina.

"Abangmu emangnya mau ke mana si?" Tanya, Ana.

"Biasalah, ketemu sama pacarnya." Jawab, Lina.


Ana pun paham, lalu mempersilahkan, Lina ke dalam rumah.


"Silakan masuk, Lin! Anggap aja rumah sendiri.."

"Aku duduk di teras ajalah, yang rasanya semilir." Kata, Lina.


Ana menyuguh es kelapa muda pada sahabat tercinta, yang hari ini bersedia bertemu dengannya. Sandi menemui kekasihnya dengan hati berbunga-bunga, bagaikan habis panen durian setruk.


"Halo, sayang, gimana, sudah siap untuk jalan-jalan?" Tanya, Sandi.

"Aku sudah siap dari tadi, aku menunggumu rasanya lama banget, bagaikan menghitung pasir. Aku kira, mau dibatalin jalan-jalannya, atau dirimu sedang sibuk, terus tidak bisa ke sini." Gumam, Santi dengan bersungut-sungut.


Sandi hanya tertawa melihat tingkah, Santi yang lagi ngambek.


"Ya tidaklah, aku tidak akan membatalkannya, kamu jangan khawatir. Pamitan dulu sama orang tuamu, habis itu berangkat. Sudah tidak usah ngambek, kalau ngambek tak batalin beneran, loh jalan-jalannya." Ancam, Sandi.

"Orang tuaku sedang bepergian ke Kota sebelah, berkunjung ke tempat sahabatnya. Aku tadi sudah pamitan kok. Kita langsung berangkat aja, biar tidak terlalu siang." Usul, Santi.


Sandi pun melajukan motornya ke pantai Ujung Negara bersama sang pujaan hati. Sesampainya di pantai, sandi membayar tiket masuknya, sebesar 5 ribu rupiah.


"Pantainya indah banget, sayang sebagian pantai dengan hamparan pasir, sebagian pantai dengan hamparan batu krikil. Foto-foto dulu yuk, sayang!" Ujar, Santi.

"Ayuk! Di tempat ini emang keren buat foto-foto." Balas, Sandi.


Di Desa pada siang harinya, Yusuf mengayuh sepedanya dengan santai, sambil menikmati pemandangan yang terasa indah. Malah bermonolok dengan pelan, supaya tidak terdengar orang.


"Aduh, betapa mempesonanya tempat ini, kalau buat jalan-jalan naik sepeda bareng, Lina pasti asyik. Apalagi kalau, Lina mau diajak romantis-romantisan, rasanya menyenangkan." Ucap, Yusuf.


Menyaksikan tanaman padi, jagung, pare, petai cina, dan pohon kelapa, hatinya amat riang. Yusuf tanpa sadar tersemyum, ketahuan petani yang akan pulang.


"Kenapa kok senyum-semyum semdirian, nak?" Sapanya.

"Ini, pak sedang teringat cerita lucu."


Jawab, Yusuf sekenanya dengan asal, rasanya sangat malu. Saking malunya, wajahnya sampai merah bagaikan kepiting rebus. Andre sehabis dhuhur istirahat, menyiapkan tenaga, karena jam 20.00, dirinya akan manggung di cave lagi.


Lina masih ngobrol dengan, Ana di teras rumah, bagaikan sedang arisan.


"Sehabis minum es kelapa, kita rekreasi yuk, Lin!" Ajak, Ana.

"Kemana emangnya?" Tanya, Lina.

"Ke taman bunga atau ke pantai, gitu." Crocos, Ana.

"Kalau ke taman bunga, aku males, tetapi kalau ke pantai, aku mau. Apalagi ke pantai cemara sewu, pasti terasa menyenangkan." Gumam, Lina.

"Jangan-jangan ada mmomen istimewa di taman bunga, ya? Makanya, kamu tidak ingin ke sana kan" goda, Ana.

"Momen menyebalkan si, iya kemarin sore." Sambung, Lina.

"Pasti sama cowok desa sebelah yang suka romantisan, ah betapa bahagianya. Aku juga pingin, loh dapat cowok yang romantis. Itu tandanya, dia sedang menunjukkan kasih sayangnya padamu, makanya suka gombal padamu." Celoteh, Ana.

"Ya sudah sana, kamu aja yang dekat dengannya." Sambung, Lina lagi.

"Haha, aku tidak maulah, nanti sahabatku cemburu. Aku takutnya kalau sampai nangis seminggu." Goda, Ana lagi.


Es kelapanya sudah bersih tak bersisa, mereka pun sudah kekenyangan. Lina berkata sama, Ana dengan geram gegara candaannya.


"Jadi, pergi atau tidak si? Kalau tidak, aku mau pulang ajalah."

"Ya jadi, kamu jangan pulanglah." Kata, Ana.

"Ya kalau jadi, jangan bercanda teruslah." Kata, Lina.


Ana mengangguk, lalu memanggil taksi pakai hp. 10 menit kemudian taksinya datang, siap mengantar, mereka berwisata.


"Alamatnya sesuai dengan yang di aplikasi, ya, pak." Kata, Ana.

"Ok siap, dik." Jawabnya.


Perjalanan ke pantai cemara sewu sangat lancar, makanya cepat sampai di tujuan.


"Terima kasih, pak." Kata, Lina.


Sang supir taksi mengangguk mengiyakan dan berlalu. Sandi dan Santi masih di pantai ujung negara, sedang mengobrol sambil duduk di tepi pantai.


"Nanti mampir ke rumahku, yuk! Tak kenalin sama kedua orang tuaku." Ajak, Sandi.

"Minggu depan aja, say, aku soalnya tadi cuma pamit mau ke pantai." Jelas, Santi.

"Ya sudah kalau maunya minggu depan, tidak apa-apa deh. Kata, Sandi.


Desir angin di pantai terasa menyejukan hati. Sandi dan Santi pun merasakan sejuknya sehingga, tidak kepanasan walaupun sudah siang, waktu menunjukan pukul 10.00 wib.


"Padahal sudah siang, ya hawanya tetap adem. Aku semakin ingin menghabiskan waktu denganmu sepuasnya." Bisik, Sandi.


Santi hanya tersenyum menanggapinya, hatinya terasa menghangat. Yusuf nyampai di rumah langsung buka hp, mengirim chat pada, Lina dengan ucapan mesra.


"Hai, cantik, aku kok tidak diajak jalan-jalannya? Kamu apa jangan-jangan sedang menyiapkan tempat yang indah untuk, kita berwisata yang romantis? Biar bisa bermesraan dengan puas, terus dunia terasa hanya milik, kita berdua, ya, cantik?" Goda, Yusuf.


Lina tidak dengar hp-nya ada chat, karena sedang ramai suasananya. Yusuf tidak menyerah, tetap kirim chat teus-terusan, isi pesannya semuanya sama. Padahal sudah tahu chat-nya tidak ditanggapi sama sekali.


"Lihat aja, ya, Lina, kamu tidak balas chat-ku. Sebentar lagi bakal ada kejutan untukmu yang menyenangkan." Batin, Yusuf.


Pikirannya jahil, ingin memberi makanan yang ada kartu ucapan ke, Lina dengan kata-kata manis dan romantis. Apa yang akan terjadi saat, Lina sudah membuka chat-nya. Kata-kata apa yang, Yusuf tulis di kartu ucapan? Pasti akan membuat, Lina hatinya panas dingin. 

Komentar