MENAKLUKKAN HATI WANITA 12

Waktu terus berputar, dari siang sampai sore kaya gini. Lina masih aja belum ada kabar, hp-nya juga masih offline belum online. Yusuf mencoba sekali lagi, berharap usahanya membuahkan hasil.


"Hai, cantik, kok nggak diajak jalan-jalan? Jangan-jangan lagi nyiapin tempat romantis buat, kita, ya?" Yusuf mengetik pesan dengan tambahan emoji, lalu menunggu. 


Tak ada respons. Yusuf mendesah pelan, jemarinya masih menggenggam ponsel. Ia melirik jendela, melihat langit yang mulai berwarna jingga. Sesaat, ia berpikir apakah Lina sengaja mengabaikan pesan atau memang benar-benar sibuk. Dengan sedikit kesal bercampur penasaran, ia menggulingkan tubuh di kasur, menatap layar ponsel yang tetap sunyi.


Andre baru terbangun pada pukul 16.00, tubuhnya terasa sangat segar.


"Enaknya bisa tidur siang, pasti nanti malam tidak ngantuk saat manggung." Batinnya.


Di pantai Cemara Sewu, angin menghembus dengan kencang membuat jilbabnya, Lina berkibar-kibar bagaikan bendera. Ana tertawa kecil melihat sahabatnya yang kurang nyaman, jilbabnya terkena angin.


"Makanya, kalau ke pantai itu pakai jilbab yang tebal, biar tidak berkibar, saat terkena angin." Ucap, Ana.

"Bukan jilbabnya, anginnya yang berlebihan. Lagian ngajak ke pantai dadakan banget, aku pas masih di rumah, bilangnya suruh main doang." Protes, Lina.


Ana terkikik menyaksikan, Lina yang tidak nyaman dengan jilbabnya.


"Ya maaf deh, aku kan niatnya bikin kejutan."


Kata, Ana serasa tanpa dosa saja.


"Ih dasar, ya sudah, aku tak ganti jilbab dulu. Tolong tungguin di bawah pohon cemara yang dekat toilet, ya!" Pinta, Lina.


Ana mengiyakan sambil tersenyum, iba dengan sahabatnya, pakai jilbab yang tidak nyaman. Lina di toilet mengganti jilbabnya dengan yang lebih tebal, supaya tidak tersingkap saat ada angin. Lina bermonolok dengan pelan seperti berbisik.


"Nah, begini kan lebih enak, aku untungnya bawa jilbab cadangan."


Setelah itu, mereka berjalan menuju tempat yang lebih teduh. Pasir hangat menyentuh telapak kaki mereka, sementara suara ombak bergemuruh lembut. Ana melirik Lina yang tiba-tiba menghela napas panjang.


"Kamu ada pikiran?" tanya Ana.


"Yusuf," jawab Lina singkat.


Ana langsung tersenyum penuh arti. "Loh, kenapa? Dia nge-chat? Atau nyariin dirimu?" Tanya, Ana.

"Tidak tahu, hp-ku tidak tak cek. Lagi ramai tadi."


Ana mengangkat bahu, mengayunkan langkah lebih cepat.


"Ya, nanti aja lihatnya. Jangan sampai cowok itu nguasain mood, kamu hari ini. Soalnya, dia suka mengganggumu dengan kata-kata mesra, yang menurutku menyenangkam."


Lina mengangguk mengiyakan, tidak membuka hp sama sekali. Membayangkan bagaimana ekspresi, Yusuf saat dirinya membalas pesannya. Lina dan Ana melihat andong lewat di hadapannya, langsung tertarik, ingin naik. Tanpa ragu berbicara pada, pak kusir yang membawa penumpang.


Pak, kita mau naik, masih bisa atau tidak?" Tanya, Ana.

"Tunggu sebentar, ya, dik." Jawab, pak kusir.


Mereka lanjut berbincang dan membayangkan betapa asyiknya naik andong.


"Naik andong kayanya seru ni." Ucap, lina.

"Iya, lin memang asyik banget. Bisa keliling pantai, tanpa harus berjalan dengan capek." Sahut, Ana.


Tak berselang lama, pak kusir menghampiri, mereka dengan ramah.


"Gimana, dik apakah jadi, naik andong?" Tanyanya.

"Iya jadi, pak." Ujarnya.


Mereka pun menaiki salah satu andong, muter-muter di sekitar pantai. Rasanya sangat membahagiakan hati, seperti tidak ada beban yang menghimpit.


,Di Pantai Ujung Negara, Santi menatap hamparan pasir dengan pandangan kosong. Sandi meliriknya sebentar sebelum akhirnya mendekat.


"Sayang, kamu mikir apa?"


Tanyanya, Sandi lalu menaruh tangan di pundak pacarnya.


"Aku mikir aja, nanti kalau, kita sudah nikah, aku masih bisa sering ke pantai tidak?" Kata, Santi.


Sandi tertawa kecil, mencubit ujung hidung Santi.


"Jelas bisa lah! Kamu pikir nikah tuh penjara?" Imbuh, Sandi..

"Ya siapa tahu nanti sibuk ngurus rumah, anak, atau apa gitu." Tambah, Santi.


Sandi menghela napas, menarik tangan Santi pelan.


"Ya tinggal, kita rencanain waktu buat liburan berdua. Sesimpel itu."


Santi akhirnya tersenyum, kepalanya bersandar di bahu Sandi. "Oke, kalau gitu, aku tidak khawatir lagi."


Yusuf menyerah menunggu balasan dari Lina dan memutuskan untuk beraksi sendiri. Ia keluar rumah, mengayuh sepeda menuju toko kue. Sesampainya di sana, ia berjalan langsung ke kasir.


"Mas, kalau mau pesan kue dengan kartu ucapan bisa, kan?" Tanyanya.

"Tentu, Mas. Mau ditulis apa?" Jawab sang kasir.


Yusuf menyeringai. "Untuk wanita paling galak tapi paling manis, semoga hatinya segera luluh. Semoga segera membuka hatinya untukku dengan iklas." Tulisnya.


Pegawai toko tertawa kecil sebelum mencatat pesanan, Yusuf yang terasa unik.


Sang pegawe toko kembali bertanya dengan sopan.


"Maaf, mas mau yang rasa apa kuenya? Yang keju, atau coklat, atau strobery?"

"Yang rasa coklat aja, mas." Jawab, Yusuf.


Dalam hatinya, Yusuf membayangkan reaksi Lina saat menerima kejutan itu. Apakah dia akan marah, tertawa, atau malah membalas dengan candaan yang lebih tajam? Sambil menunggu kuenya selesai, Yusuf menatap layar ponselnya sekali lagi. Masih tak ada balasan. Ia tersenyum kecil, merasa makin tertantang.


"Kita lihat, Lina. Apa, kamu bakal jatuh ke dalam jebakan manisku." Batin, Yusuf.


Lina masih belum sadar bahwa chat-nya banyak banget, bukan hanya satu. Lina dan Ana masih betah di pantai, malah asyik duduk di bawah pohon bercerita sambil menikmati suara ombak yang merdu.


"Aku tidak menyangka, kalau di tempat ini ada andongnya." Kata, Lina.

 "Iya, Lin, aku juga tidak tahu. Sebenarnya ada kereta kelinci juga, kita kan sudah sering naik keretanya." Sambung, Ana.


Mereka merasa haus, lalu mencari penjual es.


"Aduh, nasib, adanya es kelapa sama es cendol doang. Selain itu, adanya cave, pasti makanan dan minumannya harganya selangit." Kata, Lina.

"Ya sudah kalau gitu, kita pesan es kelapa saja. Kita harus menghemat, soalnya hanya bawa uang sedikit." Ucap, Ana.


Santi perutnya berbunyi nyaring, tertanda ingin diisi.


"Aduh, perutku kok tidak bersahabat banget si, asli menyebalkan." Gumamnya.


Sandi yang mendengar perkataannya, menjawab dengan santai.


"Ya wajar kalau lapar, orang sudah waktunya makan siang. Kita makan di cave, yuk! Siapa tahu ada es cream-nya, kita bisa makan siang dan menyantap es cream."


Santi mengiyakan dengan wajah berbinar, dalam hatinya membayangkan makanan dan es cream yang lezat. Lalu bagaimana dengan, Yusuf yang sedang uring-uringan? Apa yang akan terjadi dengan kue yang dipesan? 

Komentar