Tanggal 31 desember adalah hari yang menyenangkan bagi setiap orang. Karena ada momen yang indah, yaitu malam tahun baru. Namun, tidak bagi, Safitri seorang kembang desa yang baik hati. Sore itu, Safitri duduk di taman sendirian, dalam keadaan melamun. Sedang menahan rindu pada sang pujaan hati, yang sudah seminggu tidak menghubunginya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, menahan rindu yang semakin berkobar dalam dada. Kamu mengapa tidak menghubungiku? Walau hanya sekejap saja, itu sudah membuat perasaanku lega."
Gumamnya dengan pelan, agar tidak ada yang mendengar perkataannya. Tanpa disadari, Nadia salah satu sahabatnya sudah memperhatikan lumayan lama. Lalu menghampiri dirinya dan menepuk pundaknya.
"Hai, Fit, kenapa ngomong kumat-kamit tidak jelas gitu? Kaya, mbah dukun lagi baca mantra aja si." Sapa, Nadia.
Safitri terkejut, ia mengrutu dengan ekspresi datar.
"Ih, kebiasaan deh, datang tanpa diundang, pergi tanpa diantar. Asli deh nyebelin banget bikin, aku kaget aja. Bisa atau tidak si? Kalau mau ke sini itu kasih tahu dulu. Ninimal lewat chat gitu, atau telpon, apa susahnya si?"
"Aku tadi sudah chat tidak direspons, aku telpon juga tidak diangkat." Jelas, Nadia.
Safitri baru sadar, kalau hp-nya ketinggalan di kamar.
"Maaf, Nad hp-ku ketinggalan di kamar. Kamu kenapa datang tanpa ada suara sandalnya? Tiba-tiba sudah ada di dekatku, kaya jailangkung aja si." Kata, Safitri.
"Eh, enak aja, aku manusia bukan jailangkung. Kamu belum jawab pertanyaanku, loh tadi. Kamu kenapa menyendiri di sini? Terus kenapa pakai ngomong sendiri segala?" Ujar, Nadia.
"Aku boleh curhat tidak, Nad?" Tanyanya.
"Silakan kalau mau cerita, aku akan mendengarkan keluh kesahmu." Jawab, Nadia.
Safitri mulai bercerita, matanya berkaca-kaca. Saat terbayang kekasihnya yang ganteng dan sok romantis.
"Aku sudah seminggu tidak mendengar kabarnya, Prasetio. Dia sudah tidak tellpon, tidak kirim chat, padahal tidak ada kata perpisahan. Aku tidak tahu di mana salahnya, aku tidak tahu harus berbuat apa, aku bingung." Tutur, Safitri.
Nadia memeluknya dengan lembut, serta membisikan sebuah kalimat pada, Safitri.
"Sudah jangan sedih, dia barangkali sedang sibuk, atau sedang ada acara dengan keluarganya. Dia pasti menghubungimu, kalau sudah tidak ada kesibukan."
Safitri pun perasaannya lega secara perlahan, berharap semuanya akan baik-baik saja. Ternyata, Yang Maha Kuasa berkehendak lain pada, Safitri di tanggal 31-12-2022 itu. Safitri mencoba kirim chat, berharap mendapat jawaban, supaya rindunya terobati.
"Hai, Pras apa kabar? Aku rindu padamu, kamu apakah juga merindukanku? Kamu mengapa sudah tidak menghubungiku lagi? Kamu mengapa tidak menemuiku lagi?" Sapanya. Sampai larut malam, tidak ada balasan apapun. Bahkan pesannya tidak dibaca sama sekali, serasa sudah tidak berarti lagi.
"Benarkah ini sebuah perpisahan? Kalau iya, mengapa tanpa kata? Mengapa tanpa pamit?"
Pertanyaan, Safitri hanya terbang terbawa angin, benar-benar perpisahan yang menyakitkan. Safitri berdoa dalam hati di saat orang-orang ramai menyalakan kembang api.
"Ya Allah walaupun perpisahan ini memilukan hati, aku berharap suatu hari nanti, ada yang mencintaiku dengan sepenuh hati."
Selesai.
Komentar
Posting Komentar