BELI GORENGAN

 Lina namaku, aku berniat jalan-jalan, pada tanggal 01-06-2025 tepatnya di hari Ahad sore. Jalan pada putaran pertama ada yang menyapaku, mereka sebut saja warga satu dan warga dua.


"Hai, Lina, mampir sini!" Kata warga dua.


Aku menolak dengan menggelengkan kepala saja.


"Lina mau ke mana sore-sore kaya gini? Kok enggak pakai sandal si, Lin? Gimana, kalau kakinya terkena batu?" Tanya warga satu.

Aku baru mau mengeluarkan kata-kata, sudah keduluan warga dua.


"Lina itu mau jalan-jalan, dia kayanya enggak suka sandalan. Soalnya, aku sering lihat, dia enggak pakai sandal." Jawab warga dua, mewakiliku.


Aku mengangguk mengiyakan sambil berlalu, melanjutkan aktifitasku. Pada putaran ke dua, aku bertemu sama, budeku sedang di teras rumahnya.


"Lagi ngapain, mak?" Sapaku.

"Aku lagi mau ke pasar, tetapi sore ini enggak ada ojek." Jawabnya.

"Gimana kalau tak antar sama, aku ke pasarnya?" Tawarku.

"Enggak mau ah, nanti sampainya di pasar paling pas waktu shalat isya. Kalau sama, kamu kan mau diantar dengan jalan kaki, sudah gitu pasarnya jauh melewati tiga Desa. Bisa-bisa sampai sana, barang yang mau tak beli, sudah tutup tokonya." Tolaknya.


Aku pun melanjutkan perjalanan, pada putaran ke tiga, bude memanggilku.


"Na Lina!!!!"


Aku datang menghampiri, sembari bertanya.


"Ada apa, mak? Kok memanggilku itu?"

"Aku tolong belikan gorengan! Itu, loh yang penjual gorengan di sebelah barat Desa. 7 ribu saja, enggak usah banyak-banyak." Katanya.


Aku pun melaksanakan perintahnya membeli gorengan, melewati jalan yang penuh bebatuan. Sesampainya di sana, aku langsung disambut sama penjualnya, saat diriku sedang mendeteksi warungnya.


"Nah, ini kayanya warungnya, soalnya di sekitar sini yang ada aroma gorengannya. Semoga si benar, enggak salah tempat." Gumamku.

"Lina mau ke mana? Kok sendirian aja?" Tanyanya.

"Aku mau beli gorengan ke tempat, samlean, disuruh sama, mak." Jawabku.

"Ya sudah duduk dulu! Tunggu, ya mau tak gorengkan!" Ucapnya.

"Iya, yu."

Belinya gorengan apa, Lin?" Tanyanya.

"Bakwan sama tahu, yu." Jawabku.


Pas pulangnya, aku diantar sampai depan rumah. Walaupun sempat eyel-eyelan yang panjang antara, aku dan warga tiga.


"Pulangnya tak antar."

"Aku pulang sendiri aja, enggak usah diantar."

"Pokoknya mau tak antar."

"Aku enggak mau diantar."

"Aku pokoknya pingin ngantar."


Akhirnya mau enggak mau, aku diantarkan juga.


"Ini sudah sampai, aku tak pulang." Katanya.

"Terima kasih, ya, yu sudah diantar. Orang lagi jalan-jalan kok diantar segala." Protesku.

"Ya enggak apa-apa, aku pingin ngantar kok."


Pas, aku mau pulang, aku dikasih gorengan dua. Gorengannya besar-besar, bakwannya aja lebarnya seperti piring.


Selesai

Komentar