JALAN-JALAN BARENG TETANGGA

Lina namaku, pada hari jumat pagi yang cerah, aku jalan-jalan keliling Desa. Putaran pertama, aku jalan sendirian. Para warga menyapaku dengan ramah, saat berpapasan denganku. Aku mengangguk, merespons sapaan para warga.


"Jalan-jalan, ya, Lin?" Tanya warga satu.

"Iya, yu biasa ni muter-muter, cari angin. Sampean mau ke mana, yu?" Respons-ku.

"Jalannya hati-hati, ya, Lin! Lewatnya di pinggir, jangan sampai ke tengah-tengah! Aku mau ke sawah, kamu mau ikut?" Tawarnya.

"Tidak, yu, terima kasih, aku mau muter di sekitar Desa aja. Sampean tenang aja, aku bakal hati-hati kok." Balasku.


Aku lanjut putaran ke dua, ada yang mendekat ke arahku.


"Jalan-jalan bareng, yuk, Lin!" Ajaknya.


Warga yang mengajakku ini bernama, Pia, aku pun sering berjumpa dengannya.


"Ayuk! Emangnya mau jalan ke mana, yu? Atau mau ke jembatan?" Respons-ku.

"Ya jangan ke jembatanlah, Lin, muter ke perumahan warga saja." Katanya.


"Aku pun mengiyakan, lalu melanjutkan perjalanan bersama, Yu Pia. Melewati jalan aspal tanpa alas kaki.


"Sampean kenapa, yu? Kok napasnya sudah senin kamis kaya gitu? Padahal ini baru setengah perjalanan, loh, yu masih lama sampai rumahnya." Ujarku.

"Ini, Lin, aku sudah capek banget soalnya, aku enggak pernah jalan-jalan. Enggak kaya, kamu yang jalan-jalan terus setiap pagi."

"Ya sudah kalau gitu, kita jalannya pelan-pelan aja, yu. Biar enggak cepat capek, tetapi sampai rumahnya lama si."

"Lina, aku masih bisa kok, kalau jalannya enggak dilambatkan."


Akhirnya jalannya enggak jadi, dilambatkan, tetapi melewati jalanan yang banyak batunya.


"Aduh, kakiku geli, kalau lewat yang banyak batunya kaya gini." Kata, yu Pia.

"Sampean baru pertama jalan-jalan dan pertama kalinya enggak pakai sandal. Ya wajar si kalau rasanya capek, terus kakinya geli pas terkena batu. Aku aja awalnya kakinya sakit, pas pertama terkena batu. Setelah beberapa kali lewat tempat yang berbatu, rasanya biasa-biasa aja, malah nyari jalan yang banyak batunya." Ocehku.

"Iya si, Lin, kamu memang benar, aku baru pertama kali jalan-jalan." Sambungnya.


Jalan-jalan sambil ngobrol, benar-benar enggak terasa, rasanya kaya cepat banget. Pas sampai di dekat gang kecil, menuju ke rumah, yu Pia, kita berpisah.


"Aku pulang duluan, ya, Lin, sudah capek banget soalnya. Kamu kalau masih ingin jalan-jalan, ya lanjutkan, aku enggak ikut lagi." Kata, yu Pia.

"Aku juga mau pulang kok, aku mau nyuci. Di rumah cucian kotor sudah pada menunggu untuk dimandikan." Balasku.


Aku pun melangkahkan kaki ke rumah, berharap jalan-jalan pada hari esok, ada kisah yang indah untuk diceritakan.


Selesai 

Komentar