MENAKLUKKAN HATI WANITA 13

Es kelapa dengan potongan buah-buahan sudah tersaji di hadapan, Lina dan Ana rasanya pun sangat segar.


"Nek ngene iki, awake dewe seroso lagi nang surga."


Kata, Ana pada sahabatnya sambil tersenyum.


"Iya, An bener iku." Jawab, Lina.


Yusuf setelah membayar kue, mengayuh sepeda dengan cepat. Siapa tahu, sesampainya di rumah, ada balasan pesan dari, Lina. Namun, hayalan tak sesuai realita, hp-nya masih saja sepi. Yusuf coba menatap layar ponselnya sekali lagi, menghela napas berat. Sudah berulang kali ia mengirim pesan ke Lina, tapi tetap tak ada balasan.


"Aku ini pacarmu atau pelanggan yang diabaikan customer service?" gerutunya sambil mengacak rambut sendiri.


Lalu mencoba menghubungi lewat telpon, hasilnya tetap nihil.


"Ini anak ke mana si? Ditelpon juga tidak diangkat, masa si, iya tidak dengar hp berdering?" Omelnya.


Ia melirik kotak kue yang awalnya diniatkan untuk, Lina. Nyatanya, kue coklat itu sangat menggoda untuk dicicipi. Perlahan, ia mengambil sepotong, lalu menggigitnya dengan ekspresi sedih.


"Ya ampun, aku bahkan makan kuenya sendiri. Ini lebih tragis daripada drama Korea."


Anre sedang asyik membaca novel serta makan kripik singkong.


"Dari pada bingung mau ke mana, mending baca novel di bawah pohon, hawanya sejuk. Mau main sama, Yusuf tadi sudah ngobrol bareng setengah hari. Sandi juga belum kelihatan batang hidungnya, ya sudah tidak apa-apa. Lagian, mereka tidak pernah meninggalkanku, pasti selalu ada untukku kapanpun itu" pikir, Andre.


 Pantai Cemara Sewu, Ana dan Lina duduk di bawah rindangnya pohon cemara, menikmati angin laut yang sejuk.


"Lin, aku ki penasaran."


Ana bersuara sambil menggoyang-goyangkan kakinya di atas pasir.


"Penasaran opo?"


Lina mengangkat alis, lalu menyeruput es kelapa muda dengan santai.


**"Yen awake dewe njajal numpak perahu pisang tapi nganggo jarit, ki bakal piye? Tanyanya dengan tersenyum.


Lina menatap, Ana dengan ekspresi tidak percaya.


"Yo jelas nyangkut nang banyu, kelem, terus awaké dewe didadekné legenda." Jawab, Lina.


Ana terkekeh. **"Yo iku, unik tho? Sapa ngerti mengko disiarake ning berita desa, 'Dua Gadis Terjebak di Perahu Pisang Gara-Gara Fashion Disaster'." Katanya, enteng.


Lina menghela napas panjang. **"Ojo nggo drama. Aku pingin rekreasi, dudu adu nyali." Ungkapnya.


Ana masih tertawa kecil sebelum menyeruput es kelapanya.


"Tapi bayangno, nek awakmu beneran kewer-kewer nang banyu, terus, aku mung iso rekam, ora nulungi." Ucap, Ana.


Lina menatap, Ana dengan ekspresi tajam. **"Kowe kuwi pancen ora nduwe rasa kemanusiaan." Ungkap, Lina lagi.


Ana ngakak. **"Aku yo nulungi, tapi sek rekam. Minimal dadi kenang-kenangan." Ucap, Ana lagi.


"Ora ah, aku ora pingin, sing aneh-aneh. Lagi pula engko nek ono sing kelangan." Kata, Lina.

"Cowok seko Deso sebelah, yo sing kelangan?" Goda, Ana.

"Yo wong tuoku lan kakangku sing kelangan." Balasnya.

"Terus nasibe, Yusuf priye?" Tanya, Ana.

"Nek deweke durung mesti kelangan." Kata, Lina.

"Aku ora ngandel yen, Yusuf ora kelangan awakmu. Nyatane kawit isuk wae wis kirim chat nang awakmu." Seloroh, Ana.


Lina hanya mencibir tidak menanggapi odcehan sahabatnya yang suka iseng.



Di Pantai Ujung Negara, Santi duduk di samping, Sandi menikmati es krim vanilla. Sandi dengan bangga mengangkat es krim coklat kesukaannya, bersiap menggigitnya dengan penuh semangat.


Saat hendak menikmati suapan pertama, angin tiba-tiba berhembus kuat, membuat es krimnya langsung terbang dan menempel ke wajah, Santi.


"AKU... AKU KENA SERANGAN ES KRIM!"


Santi melotot, wajahnya penuh dengan coklat meleleh.


Sandi tergelak keras, hampir jatuh dari kursinya.


"Sayang, ini kayak adegan slapstick di film komedi!" Tutur, Sandi.


Santi mengusap wajahnya, lalu menatap Sandi dengan tatapan licik. Tanpa berkata-kata, ia mengambil sendok kecilnya, menyendok es krim dari cup milik, Sandi, lalu dengan sangat santai menempelkannya ke pipi pacarnya.  


"Kini sekarang, kita sama-sama korban," ucapnya datar.


Sandi masih tertawa, berusaha membersihkan wajahnya. "Aku tidak nyangka, kita berdua ke pantai malah berakhir jadi, makanan kaya gini." Tutur, Sandi lagi.


Untungnya tidak ada yang memperhatikan tingkah, mereka saat ini. Di Desa, Yusuf bukannya berhenti makan kuenya, malah terus-terusan menikmatinya.


"Ah biarin aja kue ini habis, salahnya siapa, Lina susah banget dihubungi. Buat, Lina besok beli lagi ajalah, pas tak kasihkan biar masih anget-angetnya." Katanya dalam hati.


Yusuf bukannya menyerah, tetapi sedang menunggu reaksinya, Lina saat membuka hp.


"Itu anak pokoknya kalau balas pesanku, bakal tak omeli biar kapok." Batin, Yusuf.


Ana mengajak, Lina pulang meski sebenarnya masih betah di pantai.


"Pulang yuk, Lin! Kalau kesorean, takutnya ketinggalan angkut yang menuju ke Desamu." Ujarnya.

"Tenang si, kan ada, bang Sandi katanya si mau pulang bareng." Sahut, Lina.

"Iya kalau belum pulang, kalau sudah pulang gimana coba? Atau mau nginap di tempatku?" Ujar, Ana lagi.


Lina manggut-manggut membenarkan kata sahabatnya, Lina pun berkata.


"Tidaklah, ibuku nanti nyariin kalau nginap. Soalnya, aku tadi bilangnya cuma mau aja."


Ana pun memahami,Lina yang menolak tawarannya untuk menginap. Akhirnya, mereka pulang naik taksi, di sore yang terasa sejuk.


"Alamatnya sesuai dengan yang di aplikasi, dik?"

"Iya, pak." Jawab, Ana.


Di pantai Ujung Negara, Sandi mengajak kekasihnya pulang.


"Sayang, kita sudah menghabiskan waktu seharian di sini. Sekarang saatnya pulang, yuk!" Ajaknya.

"Ayuk! Lagian juga sudah sore." Imbuhnya.


Sandi mengantarkan sang kekasih di depan rumahnya, suasananya masih sepi. Namun, Sandi tidak mampir, langsung cabut.

"Aku pamit, ya, sayang!" Katanya.


"Iya hati-hati di jalan." Balas, Santi.


Taksi yang ditumpangi, mereka telah di tujuan. Ana sesudah memberikan ongkos lalu turun bersama, Lina di halaman rumahnya. Lina pun berpamitan pada sang sahabat, sambil tersenyum manis.


"Aku pulang dulu, ya, An!"

"Iya, Lin, nanti kapan-kapan main bareng lagi, ya!" Pinta, Ana.


Dengan ekspresi sedih, seolah tidak akan bertemu sampai bertahun-tahun lamanya.


"Iya beres. Jangan sedihlah, kita akan selalu bertemu kok. Kalau tidak main bareng, ya bisa telponan atau chat-an." Kata, Lina.


Saat, Lina akan menyegat angkutan, Sandi datang menghampiri.


"Dik pulang yuk!" Ajak, Sandi.

"Ayuk! Asyik, aku bisa pulang tanpa harus berdesak-desakan di angkutan umum." Oceh, Lina dengan riang.


Sandi pun hanya diam mendengarkan ocehan, adiknya sembari menjalankan motornya. Melewati berbagai ruko, rumah-rumah, kebun, sawah, lalu sampai di rumah.


Yusuf meninggalkan hp-nya di kamar, lalu jalan-jalan di sekitar rumah, menghilangkan rasa kesalnya pada, Lina. 

Komentar