Sandi menyimpan motor di garasi, terus cuci kaki dan tangan, Lina sehabis turun dari motor juga melakukan hal yang sama. Lalu ke rumah, tidak lupa mengucap salam dengan nyaring.
"Assalamualaikum!!!!!" Ucap Sandi dan Lina.
" Waalaikumsalam, akhirnya anak-anak, ibu pada pulang juga. Setelah seharian, kalian main, rumah terasa sepi. Biasanya, kalian yang meramaikan canda tawa dan keisengannya." Balas, bu Ahmad.
"Ibu kalau ingin rumahnya ramai dengarin musik yang keras, pasti rasanya tidak sepi lagi." Kata, Lina.
"Kamu itu bisa aja, nak kalau ngasih saran. Oh iya, tadi ada yang nyariin, loh." Jelas, bu Ahmad.
"Nyari siapa, bu?" Tanya, Sandi.
"Ya nyari, kalianlah, sudah gitu datangnya masih pagi. Orangnya tinggi, putih, suka pakai peci, terus naiknya sepeda." Jelas, bu Ahmad.
Lina dan Sandi pun mengangguk, paham dengan orang yang dimaksud. Mereka berniat menghubungi, Yusuf nanti malam sambil bersantai.
"Ya sudah, kalian pada mandi sana! Biar tidak bau keringat!" Perintah, bu Ahmad.
"Aku bau wangilah, bang Sandi itu yang bau kecut." Kata, Lina.
"Ih enak aja, aku bau wangilah, adik kayanya yang jarang mandi, baunya kaya kotoran sapi." Ejek, Sandi.
Bu Ahmad tidak kekurangan akal, menyuruh anak-anaknya mandi.
"Iya, kalian memang bau wangi, tetapi mandi dulu biar seger. Biar tidak gatal dan capeknya hilang." Jelas, bu Ahmad.
Tanpa disuruh dua kali, mereka mau mandi juga.
Pak Agung dan bu Agung baru pulang dari pabrik menggunakan motor. Menyapa, Andre yang sedang sendirian, duduk di bangku di bawah pohon rambutan.
"Kok sendirian, nak? Temanmu apa tidak ada yang main?" Tanya, bu Agung.
"Yusuf sudah main dari pagi sampai siang, tidak tak suruh main, barangkali capek. Sandi sedang pergi entah ke mana, sampai sekarang belum nongol." Jawab, Andre.
"Tidak ada acara si, le? Kok tidak bepergian?" Tanya, pak Agung.
"Ada acaranya nanti malam, pak." Jawab, andre.
Setelah itu, pak Agung dan bu Agung ke rumah untuk membersihkan diri dan istirahat.
Saat makan malam bersama, Lina mengatakan pada, Sandi dengan berbisik.
"Nanti sehabis isya duduk di sofa, yuk, bang!"
"Emangnya di sofa mau ngapain? Baca novel?" Ujar, Sandi.
"Tidak si, bang, ingin dudukan aja." Jawab, Lina.
"Ya sudah nanti tak temani, aku juga ingin nyantai di sana." Ujar, Sandi lagi.
Sandi membawa novel romance, untuk dibaca saat bersantai, tidak lupa membawa hp. Lina hanya membawa hp, sedang tidak ingin membaca novel.
Lina duduk di sofa, tubuhnya terasa lelah setelah seharian jalan-jalan. Tangannya meraih ponsel yang tadi ia biarkan tanpa diganggu, lalu menyalakannya.
"Saatnya berselancar di dunia maya, siapa tahu para sobatku pada kirim chat." Batin, Lina.
Namun tanpa dinyana, hp-nya langsung ramai, bagaikan suara lebah.
"Klunting-klunting!!!! Klunting-klunting!!!! Klunting-klunting!!!!"
Lina matanya langsung membelalak. Banyak sekali chat yang masuk, temannya yang chat cuma satu orang.
**750 pesan belum dibaca, semuanya dari, Yusuf.
"Astagaaaa, ni orang kenapa sih?!" Lina menggerutu keras sambil membuka chatnya.
Begitu layar terbuka, ia langsung merasa kepalanya berat. Isi pesan dari paling atas hingga paling bawah **SAMA SEMUA.
_"Hai, cantik, kenapa tidak bales? Kamu sibuk ya? Hai, cantik, kenapa tidak bales? Kamu sibuk ya? Hai, cantik, kenapa tidak bales? Kamu sibuk ya?"_
Sebagian malah ada yang isi pesanya itu.
"Hai, cantik kok tidak diajak jalan-jalan? Jangan-jangan lagi nyiapin tempat romantis buat, kita, ya?"
Lina terdiam sebentar, lalu menghela napas panjang. Rasanya **ingin menangis karena kesal.
Ditambah lagi puluhan panggilan tak terjawab.
"Duh, mau jadi wartawan investigasi apa gimana ni orang? Nyari berita dari pagi sampai malam!" Lina menggumam, **mata sudah setengah berkaca-kaca karena frustasi.**
Tanpa pikir panjang, ia membalas dengan nada jutek.
_"APA MAUmu?! AKU BARU LIHAT HP! HEBOH BANGET!"_
Sementara itu, di rumahnya, Yusuf tengah duduk santai sambil makan keripik. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Rupanya itu pesan dari, Lina yang sudah membuka hp.**
Matanya berbinar, seakan mendapat berita terbaik dalam hidupnya. Akan tetapi bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa **terbahak-bahak.
"Hahaha! Akhirnya bales! Tapi kok marah-marah?"
Dengan ekspresi iseng, dia langsung mengetik balasan dengan semangat.
_"Lina, I love you."_
Lina membaca pesan itu. Detik itu juga **kepalanya hampir meledak.
"ASTAGA, NI ORANG!!!"
Tangannya mencengkeram ponsel kuat-kuat, hampir membantingnya ke lantai.
Sandi yang duduk di sampingnya langsung panik. Meletakan hp dan novelnya di meja, lalu menghampiri sang adik.
"Eh, kamu kenapa sih?! Marah banget? Ada apa si?" Tanya, Sandi.
"LIHAT NI ORANG!"
Lina menyodorkan ponselnya ke, Sandi.
Sandi membaca pesan itu perlahan, lalu **tertawa keras sampai terbatuk-batuk.
"HAHAHA! INI USAHA TANPA PUTUS ASA! Ini memang luar biasa, tandanya benar-benar sayang sama ceweknya."
"Aku harus bales apa lagi?! Mau, aku cuekin, malah makin menjadi!"
Lina menggerutu sambil menggigit bantal saking frustasinya.
Sandi menyeringai jahil. "Ya bales aja gini, dik. _'Kalau gitu, aku tidak sayang, kamu.'_ Lihat reaksinya kaya gimana coba." Usul, Sandi.
Lina mengetik cepat.
"Kalau gitu, aku tidak sayang, kamu. Aku tidak cinta denganmu."
Yusuf membaca pesan itu. **Matanya membelalak. Detik itu juga, ia **menyusun strategi baru.**
"Kalau, kamu tidak sayang, aku maka, aku akan mengirim 750 pesan lagi." Ancamnya.
Lina menatap layar ponselnya. Hening karena bingung mau balas apalagi.
"SANDIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!"
Terdengar teriakan yang menggema di seluruh rumah. Pak Ahmad dan bu Ahmad untungnya sudah tidur sehingga, tidak mendengar treakan, Lina yang nyaring. Yusuf tidak berhenti di situ, dirinya kembali mengirim pesan yang bikin, Lina tambah sebel.
"Lina bidadariku kalau, kamu tidak sayang. Aku akan menciummu, agar dirimu jatuh cinta padaku." Ucapnya.
Lina yang semakin kesal meluapkan emosinya pada, Sandi yang tidak bersalah. Sandi **lari menyelamatkan diri, mengabaikan hp dan novel yang sedang dibaca. Lina mengejar, Sandi tanpa ampun, bagaikan singa mengejar mangsanya.
"Sebenarnya apa salahku, dik? Aku kok malah dijadikan sasaran emosimu si?"
Tanya, Sandi sambil berlari ke belakang rumah.
"Gara-gara, kamu bukannya pesannya berhenti, malah semakin parah!!" Balasnya.
Sandi berusaha membela diri, supaya tidak dikejar, adiknya terus-terusan.
"Aku kan cuma usul, kalau hasilnya tidak sesuai. Ya jangan menyalahkanku, kalau dirimu bingung, jawab pesannya jangan sambil emosi."
Lina apakah menyadari kesalahannya pada, Sandi apakah malah semakin marah?
Komentar
Posting Komentar