MENAKLUKKAN HATI WANITA 15

Sandi mengajak, Lina masuk, karena sudah malam.


"Mendingan masuk yuk!! Buat istirahat, dari pada marah-marah tidak jelas kaya gini. Kamu itu sudah kecapekan, makanya pingin emosi terus." Kata, Sandi.


Lina mengikuti ajakan, abangnya ke dalam rumah, walaupun masih marah. Lina langsung ke kamarnya, Sandi sebelum ke kamar, ambil hp dan novel di sofa.


Semua orang terlelap, ditemani suara jangkrik yang merdu. Ditambah nyanyian burung hantu, ikut meramaikan Desa di waktu malam. Hari telah berganti, pagi telah tiba, disertai suara kokok ayam.


Yusuf sehabis bersih-bersih rumah , berniat main ke tempat sahabatnya, ingin main bareng.


"Suf kalau lagi nganggur main ke sini dong!" Pinta, Andre.

"Iya, aku juga rencananya mau main si." Balas, Yusuf.

Ok tak tunggu, nanti tak ajak ke warung bakso." Imbuhnya.

"Wah, uangnya lagi banyak ini kelihatannya, aku sampai mau ditlaktir segala. Beli baksonya agak siangan, ya, aku baru aja sarapan soalnya." Kata, Yusuf.

"Iya tenang aja, aku juga baru sarapan kok." Sambung, Andre.


Semua kerjaan sudah rampung, Yusuf langsung mengambil sepeda, meluncur ke rumah sahabatnya. Tidak lupa pamit pada orang tuanya dengan tersenyum, agar orang tuanya tidak khawatir.


"Aku keluar dulu, ya, ayah, mau ketemu sama, Andre. Kalau, ibu nyari, tolong bilang, aku lagi pergi, ya." Pamit, Yusuf.

"Iya, nak perginya hati-hati, kalau naik sepeda jangan ngebut." Kata, pak parno.


 Yusuf pun mengangguk mengiyakan,sambil berlalu dari hadapan, pak Parno. Yusuf mengayuh sepedanya dengan santai, menikmati udara pagi yang segar. Akan tetapi pikirannya masih terpaku pada kejadian semalam—bagaimana ia mengerjai Lina sampai ngambek habis-habisan. Tawa kecil keluar dari mulutnya saat mengingat ekspresi frustasi Lina yang hampir membanting ponselnya.


"Ternyata, Lina kalau marah kok tambah cantik, ya? Apalagi wajahnya yang merah saat emosi, membuat dirinya tambah manis, bagaikan madu." gumamnya sendiri sambil tersenyum iseng.


Niatnya mau ke kampung sebelah, ke rumah Andre, sahabatnya. Akan tetapi entah masih ngantuk atau pikirannya terlalu jauh melayang, **bukannya menuju rumah Andre, malah entah ke mana.**  


Ia baru sadar sudah berjalan sangat jauh, melewati beberapa desa yang asing baginya.  


"Hmm, perasaan tadi lurus doang, tapi kok desa ini kayak beda? Ini di desa mana si?" Tanyanya dalam hati.


Yusuf mengerutkan kening, memperlambat kayuhan sepedanya. Sambil mendeteksi, siapa tahu ada tulisan nama desa, atau mencari jalan, agar bisa kembali ke Desanya. Namun, upayanya belum mendapatkan hasil, tiba-tiba… Puluhan ekor anjing muncul di depannya, mengelilinginya seperti pasukan keamanan yang baru saja menemukan penyusup.


Yusuf membeku, bingung harus berbuat apa, keadaannya benar-benar gawat.


Seekor anjing menggonggong keras, lalu yang lain ikut menggonggong.  


"Ya Tuhan, aku tidak ada dendam sama, kalian padahal! Aku cuma mau lewat!" teriak Yusuf panik.


Bukannya mendapat pertolongan, anak-anak yang ada di sekitar malah **tertawa keras melihat Yusuf yang dikepung anjing.**


"Mas, mas, ayo lari cepetan! Kalau tidak nanti bisa-bisa dimakan!" seorang bocah berteriak sambil tertawa.  


Yusuf ingin menangis. "Kenapa malah diketawain?! Aku butuh bantuan, bukan motivasi buat lari!" Grutu, Yusuf dalam hati.


Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Ia mengeratkan genggaman pada setang sepeda, siap-siap mengayuh dengan kecepatan maksimal.


"Satu… dua… TIGA!" Hitungnya.


Dengan tenaga penuh, Yusuf menggenjot sepedanya secepat mungkin. Anjing-anjing itu langsung bereaksi—**mengejar!


"Ya ampun, kok malah dikejar!"


Yusuf berteriak, napasnya mulai kacau.


Ya Allah, aku harus gimana ini? Para anjingnya masih mengejarku terus kaya gini." Ucapnya, prustasi.


Anak-anak di sekitar malah makin tergelak. "Masnya kayak balapan sama anjing!"


Yusuf tidak menghiraukan ocehan anak-anak, masih sibuk melarikan diri dari kejaran anjing yang tak kunjung usai.


Sementara itu, Andre terus menatap jam di pegelangan tangannya, merasa bingung sendiri, Yusuf belum nongol-nongol juga.


"Ini orang mampir ke mana si? Sudah 4 jam lamanya, kok masih belum datang si? Apa di rumahnya masih banyak pekerjaan, ya?" Kata, Andre.


Berbagai pertanyaan muncul di benak, Andre tanpa jawaban yang pasti.


Di tempat lain, Lina masih dengan wajah kesal, masih bete, masih sebel karena kejadian semalam.


"Aku tidak mau cek HP hari ini. NO! NO! NO!" katanya, keras.


Sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, sesudah mengecek jam di hp-nya.


Lina merasa haus sehabis bangun tidur, dengan langkah cepat, ia berjalan ke dapur dengan pikiran yang penuh amarah.


Jalannya kurang fokus, tanpa sadar.


"Bruk!"


Lina menabrak kulkas, dengan keras.


"Aduh!"


Kulkasnya tidak bergeming, tetapi, Lina yang kena benturan malah **mundur dua langkah sambil meringis kesakitan.


Sandi yang kebetulan lewat, langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa keras.


"HAHAHA! Kamu ditabrak kulkas atau kamu yang nabrak kulkas?" Selorohnya.


Lina menatap, Sandi tajam. "TUTUP MULUTMU! Tidak usah banyak omong!" Bentaknya.


Sandi masih terbahak-bahak seperti sedang nonton filem komedi.


"Ya ampun, Lina, kamu kalau marah malah berantem sama benda mati!"


Lina menghela napas panjang, lalu mengacak rambutnya sendiri, merasa prustasi.


"Semalam digangguin Yusuf, pagi-pagi ditabrak kulkas. Hidup ini keras." Ejek, Sandi.


Sandi menepuk pundaknya, masih menahan tawa.


"Kamu butuh liburan. Tapi hati-hati jangan nabrak pohon nanti." Ejek, Sandi lagi.


Lina mendengus, memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Ia berjalan pergi dengan wajah masih penuh amarah. Malah kembali ke kamar, membaca cerita lucu, untuk menghempaskan rasa kesalnya.


Kulkas pun tetap berdiri tak berdosa. Sandi memang senang menggoda, Lina sampai terlihat ngambek.


Yusuf belum berakhir penderitaannya, para anjing masih mengikuti, Yusuf muter-muter di Desa itu. Yusuf berdoa dalam hati, sambil lari dengan sepedanya, supaya tidak digigit, anjingnya.


"Ya Allah tolong, aku dari kejaran, mereka yang terasa horor! Aku bingung, aku takut, aku harus gimana ini, ya Allah?" Batinnya.


Walaupun sudah doa berkali-kali, masih aja belum ada pertolongan. Perutnya malah berbunyi dengan nyaring, bagaikan sedang konser.


"Kruyuk-kruyuk!!!! Kruyuk-kruyuk!!!!"


Yusuf tenaganya sudah terkuras, keadaannya sudah lemas, belum ada keajaiban yang menolong dirinya.


Andre mencoba menghubungi, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali. Ditelpon tidak di angkat, dikirimi pesan tidak dibalas.


"Suf, kamu sedang ada kesibukan mendadak, ya hari ini? Kok tidak jadi, main ke sini? Sudah tak tunggu dari tadi jam 07.00, loh, kamu tidak biasa-biasanya menghilang tanpa kabar. Terang, Andre.


Kata-kata, Andre belum dibaca, baru angin sejuk yang mendengar pesannya. Yusuf nasibnya bagaimana? Dia apakah ada yang menolong? 

Komentar